
HAII READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
LANJUT****
Silvia sambil tersenyum ingin sekali menari gembira ketika melihat wajah cemberut Davin,siapa suruh pria itu dari kemarin membantai habis dirinya.
"Makanya jangan kelebihan mesum yang kurang ajar,kasihan lho aku dimusim panas pake syal nanti dibilang buta cuaca!" Ketus Silvia.
"Haisss kamu itu kenapa sungut terlalu banyak,sebenarnya itu cap stempel agar semua mata pria yang kurang ajar sadar jika kamu punya suami yang tampan membahana." Ucap Davin serius.
"Terserah aku mau tidur sekarang,ingat jaga jarak aman biar jangan kebablasan lagi." Silvia mengatakan hal itu sambil menatap sinis kearah Davin.
Davin hanya bisa garuk kepala yang tak gatal,karena memang benar apa yang dikatakan istrinya itu.
Semuanya tertidur dan maaf author tak ingin menceritakan segala sesuatunya,karena gaya orang tidur yaitu mendengkur dan bolak balik kesana kemari kaya cacing kena panas.
Disaat orang lain sedang tertidur entah memimpikan bidadari dari sebelah rumah atau pangeran berkuda poni,berbeda dengan seorang pria yang tengah kebingungan harus berbuat apa.
"Siapa sih yang Sudah mengambil ponsel dan kunci mobilku,mana kabel telepon diputus lagi." Gerutu Rendy kesal.
"Kalau begini terus mah bisa hancur muka dan keadaanku." Sambung Rendy lagi.
Cara pembalasan yang dilakukan oleh Rino sungguh patut diacungi jempol,karena tak meninggalkan jejak hanya tersisa kebingungan saja.
Rendy bagaikan seorang gembel dipadang gurun yang tandus,tanpa air tanpa makanan apalagi kendaraan wuyuihh jangan harap.
"Lebih baik aku cari bantuan daripada disini terus,lama lama bisa mati penasaran." Batin Rino segera berlalu dari tempat itu.
Bingung,pusing begitulah perasaanya kini orang yang sudah terbiasa hidup enak jika sewaktu waktu melarat maka terasa sangat menyedihkan.
Entah kapan ia bisa bertemu bantuan,biar hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.
__ADS_1
Keesokan paginya Lika terbangun pagi sekali,ia ingin memasak bubur untuk sahabat rasa saudara yaitu Yuli.
Lika tak pernah marah atau cemburu jika suaminya terus terusan menggoda Yuli,karena baginya mereka hanya masa lalu dan dirinya merupakan masa depan Alan.
Lagian Alan mana bisa mengalahkan Dika,yang notabene merupakan pria tampan dan juga pengusaha terkenal.
Alan yang meraba tempat disampingnya tidak ada langsung terbangun karena penasaran,memangnya Lika kemana dipagi hari begini.
"Sayang,kamu dimana?" Tanya Alan heran.
Akan tetapi Lika yang berada didapur mana bisa mendengar perkataan suaminya itu,karena jarak yang sedikit jauh.
Karena kunjung tak ada jawaban,membuat jiwa kepo Alan pun memberontak. Ia memilih keluar kamar dan menuju kedapur,dirinya yakin jika Lika pasti didapur.
Ternyata sesuai dugaan sang istri memang sedang terlihat mengaduk sesuatu,dengan masih menggunakan daster rumahan.
Alan mendekati Lika tanpa mengeluarkan suara,setelah itu memeluk erat pinggangnya membuat sang empunya terlonjak karena kaget.
"Eh ada maling!" teriak Lika kaget.
"Huss ini suami kamu mana ada maling setampan ini?" Ucap Alan ditelinga Lika.
"Etdah punya bini kok gini amat,masa suaminya selalu diejek dikatain itu kan sakit!" Lirih Alan sambil memegang dadanya membuat Lika jengah.
"Bisa lepaskan tangannya Tuan,karena aku masih kerja nih!" Pinta Lika.
"Lanjutkan saja aku masih ingin disini." Sahut Alan sambil terus memeluk pinggang sang istri dan menaruh kepalanya diceruk leher Lika.
"Kamu nya enak aku nya sengsara!" Gerutu Lika kesal.
"Eh mana ada begitu lagian aku bukan suruh berhenti kok,ayo lanjutkan my Honey." goda Alan lagi mau tak mau Lika melanjutkan pekerjaannya tanpa menganggap Alan bagai hantu yang tak terlihat.
Sedangkan Alan menempel terus kepada istrinya,entahlah mungkin kata pepatah itu benar makin tua makin jadi.
"Kamu lagi buat apa sih Yang?" Tanya Alan penasaran.
"Bubur untuk Yuli,Nanti kita anterin kesana ya!" Bujuk Lika.
"Apa kamu bilang kita kerumah si Macan jantan,wah aku mah ogah mending pergi Kafe buat cari uang." Sahut Alan ketus.
__ADS_1
"Kalian itu kenapa sih,selalu saja bertengkar kaya anak kecil padahal sudah jadi besan?" Sungut Lika.
"Siapa suruh dia cari perkara lebih dulu ,ya aku ladeni saja sayang kan anak orang dianggurin." Sahut Alan santai.
"Kalian itu sudah tua tapi tingkahnya kaya bocah tau tidak,suka sekali berantem tidak jelas mau dibilang orang stress?" Tanya Lika sinis.
"Sudah cukup aku mau mandi kalau lama lama disini terus bisa lepas nih kuping." Sindir Alan lalu kembali kekamarnya sebelum Lika kembali dengan ocehan khasnya itu.
Lika hanya tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Alan pergi dengan wajah yang ditekuk,jika ia tidak melakukan itu pasti suaminya bakal menggangu pekerjaannya.
"Huh ,akhirnya terbebas juga dari tuh parasit ,kalau tidak bakal dipastikan pekerjaan memasak bubur seperti memasak batu." gumam Lika pelan.
Lika melanjutkan pekerjaannya sedang Alan memilih mandi ,ia kapok membahas soal Dika pasti bakal kalah terus.
Dirumahnya Yuli masih saja merasa pusing,karena semalam pun ia tak bisa tidur lagi.
Dika yang melihat masih istrinya bertambah pucat ,ia jadi semakin khawatir. Karena memang kesehatan istrinya itu yang belakangan ini kurang bagus,ia takut ada hal serius yang sedang ia derita.
"Sayang,kamu baik baik saja kan?" Tanya Dika khawatir.
"Hemm,begitulah aku baik baik saja kok.Kamu sana mandi nanti telat lho kekantornya,kasihan para karyawan kamu yang bekerja selama ini." pinta Yuli.
"Ada Davin yang bakal ngurusin semuanya,tapi hari ini aku antar kamu kerumah sakit!" Sahut Dika tegas tak ingin dibantah.
"Tapi aku baik baik saja lho nih buktinya bisa bangun dan senyum kekamu,ayo sana mandi badan kamu bau pesing!" Ejek Yuli sambil tersenyum mengejek.
Dika mencium ketiaknya tapi masih harum,ia yakin bahwa sedang dikerjai sang isteri.
"Kamu mau kerjain aku ya?" Tanya Dika sambil menatap penuh damba kearah istrinya itu.
Yuli hanya tersenyum karena wajah suaminya yang terlihat sangat menggemaskan karena menahan emosi,ingin tertawa tapi takut dosa.
"Hehe bercanda doang tadi jangan marah ya,nanti gantengnya hilang!" Goda Yuli.
Dika hanya geleng geleng kepala,ingin disergap nya tubuh Yuli akan tetapi karena melihat wajah istri nya itu membuat dirinya tak tega.
"Aku mandi dulu ya,kamu jangan lupa ikut mandi nanti tapi pake air hangat!" Ucap Dika serius.
"Iya Sayang nanti aku mandi kesana kamu lebih dulu saja ya,karena aku masih belum mau mandi!" Tolak Yuli.
__ADS_1