
Satu bulan berlalu sangat cepat, perut Zahra semakin membuncit, Anita semakin sibuk dengan skripsi dan kursus pra nikah, Hanif sudah mengajar sebagai dosen di sebuah universitas swasta di Jogja sambil berburu informasi tentang pendidikan S3 nya.
Semua orang sedang berproses. Begitu pula Azzam, kakak Anita. Drama desakan dari sang mama agar segera menikah terus berlanjut. CV yang Azzam berikan pada mama Rani tak satupun ada yang bersambut.
“sebentar lagi Anita menikah, kamu segeralah cari pendamping dan menikah. Percepat sebelum pernikahan adekmu..” kata sang mama. Lagi-lagi merengek penuh drama.
“Azzam harus bagaimana lagi? CV yang Azzam berikan pun tak ada yang disambut, kalaupun ada mama lagi-lagi keberatan..” tukas Azzam. Bosan lama-lama karena yang dibahas hanya menikah.
“Anak teman ayah ada yang siap menikah, kamu mau mencoba berkenalan? Anaknya sedang mengajar di SMA 3 Yogyakarta sambil kuliah S2. Bagaimana?” tawar ayah Rudi.
“coba Zam..” sahut mama Rani cepat.
“Azzam ikut ayah saja..” jawabnya pasrah. Lebih tepatnya sami’na wa ato’na.
“baiklah, nanti ayah bilang sama orang tuanya. Kita atur waktunya. Dia asli Bandung..”
“ohh, mojang Bandung..” mama Rani menimpali. Riang sekali.
Setelahnya, ayah Rudi yang bergerak. Menghubungi teman yang dimaksud, Danu Wirawan. Lalu bersepakat, menyusun rencana mempertemukan Azzam dengan Indira, Anak Sulung Danu Wirawan.
Seminggu kemudian. Azzam menerima foto Indira berikut pesan yang berbunyi..
Sabtu ini datanglah ke masjid A di Kota Baru, setelah sholat Ashar. Indira ada kegiatan di sana. Lihatlah dulu, jika kamu cocok, maka kita lanjutkan tahap selanjutnya.
Azzam menatap lekat foto itu, senyum kemudian berhasil terkembang di wajahnya. Azzam menurut. Jum’at malam ia bertolak menuju Jogja menggunakan mobilnya.
***
Sore di masjid A, setelah kursus selesai. Anita keluar bersama temannya. Ia terkejut melihat kakaknya di ujung tangga. Seperti menunggu seseorang.
__ADS_1
“mas Azzam!!”
Azzam nyaris terlonjak mendengar pekikan menyebut namanya. Suara yang tidak asing di telinganya, suara yang terkadang atau lebih sering membuatnya kesal. Suara Anita, adiknya. Azzam melihat ke arah sumber suara. Azzam lebih terkejut lagi dengan seseorang di samping Anita.
“mas Azzam ngapain disini? Jemput Anita? Tapi anita bawa motor sendiri..”
Anita menatap heran ke arah Azzam yang tiba-tiba kikuk.
“hah? mas Cuma mampir sholat tadi, habis ketemu teman deket sini..” Jawabnya sedikit gagap. Azzam bingung harus menatap kemana.
Anita ber oh ria.
“oh iya, kenalin, ini kak Indira, teman kursus Anita..” katanya.
Aku sudah tahu Anita. Azzam berucap dalam hatinya.
Azzam tersenyum kecut, lalu menyapa dan memperkenalkan dirinya.
“Sudah selesai kan? Ayo pulang!” ajak Azzam sedikit memekik karena sudah berlalu lebih dulu. Masuk ke mobilnya, diam mengamati Indira di luar sana.
Wajahnya menampakan perasaan yang...
Tatapannya yang sedari tadi mengamati Indira, beralih melihat adiknya sendiri. Tiba-tiba Azzam tertawa tertahan di dalam mobilnya. Merasa lucu dengan nasibnya karena beberapa kali terjebak cinta pada teman sang adik.
***
Mama Rani mencegat Azzam sebelum masuk ke kamarnya. Mama sudah diliputi rasa penasarannya sejak kemarin.
“Bagaimana? Sudah ketemu? Cantik? Kamu suka?” pertanyaan mama Rani memburu. Kelihatan sekali ketidaksabarannya.
__ADS_1
“ketemu siapa ma?” timpal Anita dari belakang Azzam.
“oh, itu, mas mu kan mau…”
“mama!” Azzam memotong ucapan mama. Tidak Lupa ia memberi kode kepada mama Rani agar jangan sampai Anita tahu.
Dia tidak ingin Anita mengetahuinya sekarang kalau Indira adalah wanita yang ingin dikenalnya.
“bicarakan nanti saja ya ma, Azzam lelah..”
Ceklek. Azzam masuk ke kamarnya meninggalkan sang mama yang mematung bersungut-sungut, dan Anita pun ikut berlalu cuek.
Malam menyambut. Mama Rani dibantu Anita sedang menyiapkan makan malam di dapur.
Azzam berjalan gontai menghampiri ayahnya yang tengah membaca buku di ruang tamu.
“ayah, Azzam mau bicara..” ucapnya seraya duduk menatap sang ayah.
Ayah menutup bukunya, melepas kacamata lalu mempersilahkan Azzam mengutarakan maksudnya.
“Azzam sudah bertemu Indira tadi sore. Azzam ingin ta’aruf dengannya.” Ujar Azzam membuka kalimat.
“Baiklah, nanti ayah hubungi Danu, kita atur..”
“karena hanya akan bertemu untuk ta’aruf apa tidak terlalu jauh jika harus ke Bandung langsung yah?”
“ada adek Danu yang tinggal di Jogja, kita kesana saja meminta beliau mewakilkan. Ayah akan sampaikan ke Danu nanti..”
“Azzam manut ayah saja..”
__ADS_1
Ayah Rudi manggut - manggut, wajah tegas mendominasi. Memberi kesan kewibawaan yang kuat.