
POV Ainun
Kenapa ketika semuanya semakin dekat aku begitu merasa gundah, apakah ini memang dirasakan oleh setiap calon pengantin, atau mungkin hanya aku yang merasakannya..
Aku begitu terkejut ketika pertemuan hari itu, aku baru tahu kalau calon suamiku adalah Tan masa kecilku dulu yang entah sudah terlupakan oleh ku. Mungkin tidak dengan dia yang begitu mengingat bahkan yang baru ku lihat CV nya hari itu, dia menyertakan foto sepasang boneka kesayanganku. Mungkinkah dia mempunyai cinta yang besar untukku? Mengingat dia begitu mengingat kenangan yang kami lalui dulu. Padahal kan dulu hanya bertemu beberapa kali saja. Bahkan aku nyaris tak mengingatnya sama sekali sebelum pertemuan hari itu. Ya hari dimana aku merasa tidak punya pilihan untuk mundur kebelakang. Walaupun Abi dan Umi menyerahkan keputusan padaku, namun tentu aku sebagai anak tak ingin membuat mereka kecewa jika aku memutuskan untuk mundur dan menghentikan rencana pernikahan ini. Tak mungkin kulakukan. Karena senyum bahagia dari bibir seorang wanita yang telah melahirkan dan merawat ku mungkin aku tak melihatnya hari ini andaikan aku memilih untuk mundur. Setidaknya ini adalah salah satu tanda bakti ku pada mereka. Astaghfirullah... Semoga Allah mengampuni dosaku. Namun aku tak sedikitpun ingin mempermainkan pernikahan ini. Maka rasa yang memang tak seharusnya ada di hati ini harus kubuang jauh-jauh. Mungkinkah ini yang dirasakan Daisy dulu ketika harus menerima pinangan dari pria yang kini menjadi suaminya. Aku jadi merindukan adik sepupuku itu apa kabarnya sekarang, lama aku tak bertemu dengannya. Yang ku tau mereka kini tengah bahagia karena akan memiliki momongan. Ya, Daisy bulan lalu dinyatakan positif hamil namun aku belum bertemu dengannya langsung, bahkan dihari pernikahan ku dia tidak bisa hadir karena kehamilannya yang baru masuk tri semester pertama jadi masih rentan untuk naik pesawat dan perjalanan jauh, sebab itulah mereka memutuskan untuk tinggal di sana dahulu untuk beberapa waktu hanya kabar kebahagiaannya saja yang aku tau karena kini dia sedang berada di luar negri mengikuti suaminya yang mempunyai pekerjaan di sana. Daisy yang menikah muda terpaksa berhenti kuliah untuk sementara karena suaminya menyuruhnya ikut menemaninya dan kehamilan yang mengharuskan mereka menetap dahulu di sana. Aku berharap aku pun akan menemukan kebahagiaanku kelak dengan suamiku. Kak Arby, ah maaf aku memang tak pernah mengingatmu...
________
__ADS_1
Calon pengantin pria berjalan dengan gagah, diapit oleh kedua orangtuanya dibelakang di ikuti Zaidan dan juga Luna dan Zaki juga para kerabat.
Hiasan indah sudah nampak dari sejak menapaki gedung pernikahan yang sudah dihias dengan sedemikian rupa.
Serangkaian acara pembuka Arby lalui, namun Ainun masih tersembunyi di sebuah ruangan. Tibalah pada acara inti yaitu ijab qobul, sang pengantin pria sudah duduk berhadapan dengan wali dari calon pengantin wanita yang tak lain adalah ustadz Mukti yang tak lain ayah dari Ainun Chandani. Selawat yang sejak tadi dikumandangkan mendadak terhenti karena akad akan segera dimulai, Tangan Arby sudah di jabat oleh sang calon mertua dan akad pun berlangsung sehingga para saksi mengatakan SAH, maka babak baru kehidupan kedua mempelai segera di mulai. Arby pun berdoa dalam hatinya semoga Ainun adalah jodohnya sampai nanti diakhirat kelak. Ainun pun berjalan mendekat di temani uminya dan sepupunya.Mereka pun mulai menandatangani berkas pernikahan. Setelah ya pasangan pengantin berjalan bersama kearah orang tua mereka untuk memohon doa restu. Haru, itu yang dirasakan Arby melihat Ainun menangis di hadapan kedua mertuanya. Kini dialah yang akan menjadi sandarannya dan menjadi penanggung jawab dari seorang Ainun Candhani.
POV Arby
__ADS_1
Kami memasuki kamar hotel,aku merasa gugup pun Ainun terlihat sama sepertiku. Kulihat barang-barang kami sudah ada di sana entah siapa yang mengantarkan kesini. Aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tentunya sesudah meminta ijin istriku terlebih dahulu dan Ainun terlihat membuka koper dan menata barang- barang kami. Setelah kami bergantian membersihkan diri kami melaksanakan sholat Dzuhur yang sudah agak terlambat. setelahnya aku pun membantunya membereskan barang-barang yang belum selesai dibereskan karena tadi aku menyuruh Ainun terlebih dahulu membersihkan diri. Betul saja adzan ashar berkumandang belum tepat satu jam kita melaksanakan sholat Dzuhur tadi. Kami pun melaksanakan kembali kewajiban kita sebagai umat Islam yang memang tidak pernah ditinggalkan dalam keadaan apapun.
Kedua pengantin sedang menikmati suasana sore hari dengan ditemani secangkir teh hangat beserta cemilan yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Balkon kamar ini memang menghadap ke arah jalanan yang terlihat banyak kendaraan yang berlalu lalang. Terlihat lebih kecil kendaraannya karena kamar ini berada di lantai tiga puluh lima sehingga memandang jauh ke bawah namun terlihat juga pemandangan kota dengan banyak gedung-gedung pencakar langit dan juga lampu-lampu yang berkilauan memancarkan sinarnya menggantikan sinar mentari yang siang tadi begitu terik. Mereka berdua hanya berdiam diri menikmati pemandangan tanpa sepatah katapun terucap dari bibir keduanya. Entah kedepannya akan seperti apa namun harus ada yang memulai terlebih dahulu supaya mereka bisa mendiskusikan kedepannya akan seperti apa kehidupan berumah tangga nya. Inilah pernikahan yang Arby inginkan dan sudah terjadi namun apakah Arby bahagia.... Melihat Ainun yang hanya terdiam dan menunduk, mereka seperti dua orang asing yang tidak pernah bertemu dan Sekarang dipertemukan dalam sebuah keadaan. Entah apa yang Ainun rasakan sekarang ini rasakan sekarang ini. Akankah bahagia datang menghampiri mereka sesuai harapannya???
Happy reading 💜💜💜
__ADS_1
Terimakasih kepada semua yang masih setia membaca