Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
episode 393


__ADS_3

HAII READER KU TERSEYENG JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU


LOPE U FULL


HAPPY READING YA GUYS


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


LANJUT ***


Rino hanya bisa menghela nafas melihat tatapan penuh harap dari orang tua nya itu,sebagai anak bukan kah berbakti pada orang tua adalah keharusan?


"Apa aku bisa menolak?" tanya Rino pelan akan tetapi terdapat nada penuh kekecewaan.


"Apa kami juga terlalu memaksakan kehendak?" Tanya Dika balik.


Rino hanya bisa terdiam sambil memijat pelipisnya,sungguh hal yang dikatakan Dika tadi adalah sesuatu yang sangat tidak terduga dalam hidupnya.


Bolehkah pria tampan itu berteriak seperti anak gadis yang selalu merengek ketika kemauannya tidak dituruti?


Bolehkah ia bertingkah seperti anak muda baru gede,yang selalu kabur dari rumah ketika menyatakan ketidak sukaan?


Bolehkah ia meraung seperti seorang istri,ketika kemauannya tidak dituruti suami dan akhirnya mogok bicara serta mogok ***** *****?


"Nak,sekali ini saja tolong ya turuti permintaan kami.Lagian Mama yakin dia gadis yang baik kok,nanti setelah kenal dan pendekatan ternyata kalian tidak cocok boleh kok kamu menolak!" Pinta Yuli pelan.


"Tapi Ma,malu dong masa segede begini soal jodoh masih harus di bantuin,lagian aku kan juga ada dekat sama seseorang." Sahut Rino ketus.


"Ya kan tadi Mama sudah bilang,H a n y a pen de ka tan!"Tekan Yuli agar sang putra paham.


"Tapi kalau si doi dengar terus di ambil orang kan bisa berabe?" Ujar Rino frustasi.


"Nasib nasib,kasihan sekali pedekate langsung kalah!" Ejek Davin.


"Kamu itu bisa diam tidak? Awas saja kalau bicara lagi ,aku akan ambil istri kamu biar kamu nya nyaho!" Gerutu Rino.


"Hadeuh kamu pikir aku ikhlas kasih istriku ke bocah tengik kaya kamu,itu tak kan pernah terjadi karena saat itu tiba kamu sudah menuju ke rumah Bapa!" Sinis Davin mengejek.


"Astaga kalian ini kenapa sih ,selalu saja berdebat kalian kasihan tidak hah lihat Mama yang setiap hari harus melihat tingkah kalian?" Omel Yuli jengah.


"Siapa suruh dia yang lebih dulu." Sahut Rino tak mau kalah.


"Sama saja,suka sekali pancing emosi!" Gerutu Dika.


"Eh kenapa kamu malah marahin anak aku,tidur di luar kamu malam ini!" Ketus Yuli membuat Dika langsung terkejut ia tak menyangka istrinya marah sampai segitunya.


Sedangkan Rino dan Davin bergidik ngeri,mereka memilih kembali ke kamar untuk cari aman.


"Ma Pa,nanti kalau mau pergi kesana bilang ke aku ya!" Ucap Rino lalu segera pergi tanpa menunggu jawaban dari orang tua nya itu.


Begitu juga dengan Davin,ia memilih menuju kedalam kamar untuk menemani istrinya tidur.

__ADS_1


Dika menatap penuh harap agar istrinya tidak marah lagi,mana bisa ia tidur tanpa memeluk dan mencium aroma istrinya itu.


"Yang kamu kok marah begitu sih,aku mana bisa tidur tanpa kamu?" Tanya Dika pelan.


"Ayo masuk tidur!" Ajak Yuli membuat Dika terheran heran.


"Lho tadi katanya..


"Aishh cuman akting biar tuh cecunguk berdua tidak banyak bicara." Ucap Yuli sambil menaik turunkan alisnya.


Dika hanya bisa menepuk pelan jidatnya,ternyata dari tadi kekhawatirannya terlalu berlebihan,padahal sebenarnya tidak terjadi apa apa.


"Kamu yah tega sekali,padahal tadi jantungnya seperti cenat cenut tau tidak?" Gerutu Dika sambil mengecup gemas pipi sang istri.


Keduanya memilih kembali kedalam kamar,karena ternyata tak ada hal yang serius sebab Rino menyikapi dengan kepala dingin.


Davin yang sudah masuk kedalam kamar,tersenyum ketika melihat wajah teduh Silvia.Ia meraba keningnya,ternyata tidak panas hanya saja terlihat pucat.


"Kamu sebenarnya kenapa sih Yang,kok tiba tiba begini?" Batin Davin.


Silvia merasa ada yang memegang kepalanya,ia langsung membuka matanya dan melihat wajah tampan suaminya itu.



"Heii kamu sudah bangun?" Tanya Davin sambil tersenyum.


"Hemm,gimana tidak mau bangun kamu nya saja selalu gangguin!" Goda Silvia.



"Hehe,lemas kan manusiawi orang kalau mati saja sudah di atur apa lagi sakit?" Sahut Silvia sambil tersenyum akan tetapi Davin yang merasa tak senang.


"Shut,kamu itu ngomong apa sih?Lain kali jangan bicara begitu aku tidak suka,kamu paham kan?" Tanya Davin pelan.


"Iya iya,oh Iya Rino nya sudah datang belum?" Tanya Silvia penasaran.


"Hemm sudah ." Sahut Davin cuek.


"Terus?" Tanya Silvia.


"Ya tidak ada terusan nya,lagian apa yang mau dibahas semua sudah jelas." Ujar Davin santai.


"Dia tidak mengamuk atau teriak teriak gitu?" Tanya Silvia.


"Hah,kenapa bisa begitu pertanyaan kamu?" Tanya Davin heran.


"Ya iya maksudnya saat Papa sama Mama kasih tahu dia soal yang tadi aku pikir dia marah karena dipaksa begitu?" Jelas Silvia.


"Mana bisa mau ngamuk,orang keburu Papa sama Mama berantem." Sahut Davin.


"Hadeuh kenapa bisa diwaktu yang pas ya,tapi syukurlah kalau aman terkendali aku jadi bisa tidur tenang." Ucap Silvia kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


Davin yang melihat wajah ceria sang istri merasa bahagia,sekaligus bisa dong di ajak nyicil buat Davin junior ya paling tidak bagian tangannya dulu deh.


"Sayang,Kamu sudah tidur kah?" Tanya Davin pelan.


"Hemm,otw tidur jangan gangguin apalagi ada udang dibalik bakwan!" Sahut Silvia yang masih setia memejamkan matanya.


"Ya padahal baru rencana,masa langsung digagalkan memang ah Junior memang nasibmu hari ini masuk karantina." Batin Davin.


Dengan perlahan ia juga ikutan berbaring,sambil menunggu waktu untuk bertemu calon nyai nya Rino.


Sementara itu di kamar lain,Rino sedang menghubungi Sarah perihal rencana makan malam mereka yang batal.


"Hallo Honey,aku gangguin kamu tidak?" Tanya Rino memastikan.


"Tidak juga,aku juga tadi rencana mau nelpon kamu eh tau tau nya kalah start dari kamu." Sahut Sarah.


"Ternyata kita itu memang sehati ya,sampai soal beginian bisa sama sama rasa." Goda Rino.


"Huh receh!" Ejek Sarah.


"Honey,aku mau ngomong sesuatu!" Ucap Rino tak enak hati.


"Kenapa?" Tanya Sarah penasaran.


"Malam ini rencana mau pergi makan malam nya di tunda dulu ya,soalnya aku lagi ada urusan keluarga sedikit." Jelas Rino takut takut nantinya Sarah kecewa.


Terdengar hembusan nafas gadis cantik itu dari seberang,lega karena ternyata ia juga tak mengecewakan Rino.



"Kamu marah ya?" tanya Rino pelan.


"Ah tidak aku hanya mau bilang,sebenarnya malam ini aku juga ada urusan jadi mau telpon kamu." Sahut Sarah.


"Wah ternyata kita memang jodoh ya,karena sama semua urusan kita?" Tanya Rino antusias.


"Kebetulan Bro,jangan berlebihan deh." Tukas Sarah sambil tersenyum.


"Kamu lagi ngapain sekarang?" Tanya Sarah.


"Lagi dikamar memimpikan kapan di sini ada kamu bukan aku sendiri." Ucap Rino.


"Haha,kalau jodoh tidak akan kemana tapi kalau tidak bagaimana pun kamu berusaha bakal akan tetap menjauh." Jelas Sarah.


"Oh iya Via nya disitu kah,soalnya tadi ponselnya tidak bisa dihubungi?" Tanya Sarah penasaran.


"Dia ada tapi dikamar,katanya tidak enak badan." Sahut Rino.


"Apa?" Teriak Sarah membuat Rino menjauhkan ponsel dari telinga.


"Kamu kalau mau teriak kira kira dong,kuping aku bisa lepas nih?" Tanya Rino sambil mengusap pelan telinganya.

__ADS_1


__ADS_2