
Di tempat lain di sebuah kedai makan, Zahra sedang makan sambil menonton drama korea di handphone nya. Jam menunjukkan pukul 18.35, sudah lebih dari setengah jam dan Anita tak juga menelfonnya. Di luar, rintik hujan mulai turun dan menderas. Zahra menyadari itu segera bergegas, memutuskan langsung pulang ke kos nya, karena tidak membawa jas hujan dan terlalu jauh jika harus kembali ke perpustakaan.
Di perpustakaan, bunyi hujan yang mengenai dinding kaca menyadarkan Anita dan Hanif. Mereka ingat bahwa Zahra sudah seharusnya berada disini dari tadi. Lalu handphone Anita bergetar.
“assalamu’alaikum, Zah. Kamu dimana?” tanya Anita.
Wa’alaikumsalam. Asik ya berduaan sampai lupa sama aku. Aku pulang ke kos, hujan deres banget aku nggak bawa mantel tadi. Suara di ujung sana terdengar meledek Anita.
“terus nggak kesini lagi?” tanya Anita.
Ya nggak lah, hujan deres banget ini. Mending aku tidur. Silahkan dilanjut ya ngobrolnya. Ucapannya semakin mengejek Anita.
“nggak usah kunci pintu, aku nanti pulang kesitu lagi.” pinta Anita memaksa.
Terserah. Satu kata lalu Zahra menutup telfonnya.
Kini, tinggalah berdua Hanif dan Anita. Ah, tidak. Banyak juga pengunjung perpustakaan, tapi bedanya mereka duduk di tempat masing-masing. Ditempat duduk Anita dan Hanif mendadak canggung setelah tau bahwa Zahra tidak akan datang. Satu bendel kertas Hanif keluarkan dari tas nya memberikannya pada Anita.
__ADS_1
“ini anggaran belanja yang baru setelah direvisi, sesuai permintaan bu bendahara.” Ujar Hanif memecah kecanggungan, Anita hanya menatap Hanif dan mengambil sebendel kertas tersebut lalu membacanya dengan seksama.
Setelah itu mereka berdua tenggelam dalam diskusi mereka sendiri, Anita beberapa kali ngotot memaksakan kehendaknya sebagai bendahara mengatakan bahwa divisi konsumsi harus lebih menghemat lagi. Sedangkan Hanif menimpali nya dengan tenang dan bijak. Beberapa kali pula Anita mencuri pandang kepada Hanif saat lelaki itu sedang menjelaskan padanya.
Aku tidak percaya aku berada sedekat ini dengannya dan hanya berdua.Gumam Anita dalam hati.
Hujan di luar masih deras, suara air hujan yang menimpa dinding kaca perpustakaan berbunyi berdentangan menambah suasana syahdu di dalamnya. Anita melirik jam pada laptopnya, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21.45, dan saat itu pula suara audio di perpustkaan memberi peringatan bahwa sebentar lagi perpustakaan akan tutup dan pengunjung dimohon segera meninggalkan perpustakaan. Hanif pun segera bergegas membereskan kertas-kertas dan juga laptopnya. Mereka keluar perpustakaan bersama. Di lobbi perpustakaan mereka berhenti melihat hujan yang masih menderas.
“oh iya, mas.. boleh minta tolong nggak?” tanya Anita ragu-ragu.
“apa?”
“metstat 1? Pak Surya?” tanya Hanif lagi.
“kok tau?”
“pak surya itu dosen favorit justru. Karena beliau murah nilainya..hehe. tapi ya gitu, memang kita harus bener-bener mandiri, beliau tidak akan menjelaskan panjang dan lebar..” ujar Hanif yang justru panjang dan lebar.
__ADS_1
“iya tau. Makanya saya minta tolong temani kami belajar bersama. Bisa nggak ajari kami?” tanya Anita lagi.
“bisa. Atur saja waktunya. Yang penting jangan hari sabtu dan minggu ya. Kan hari libur belajar.” Ucap Hanif. Memang hari itu hari libur belajar Hanif, tapi Hanif gunakan dua hari itu untuk bekerja.
“ok.siap!!” jawab Anita lugas.
“kamu bawa mantel nggak?” tanya Hanif pada Anita.
“sepertinya bawa mas, di jok motor..” jawab Anita.
“kalau begitu nih pake ini, ayo lari ke parkiran.” Ucap Hanif seraya memberikan jaketnya kepada Anita. Dan Anita menerimanya malu-malu lantas memakainya seperti payung untuk menutup kepala dan tas di punggungnya.
“ayo larii..” ajak Hanif sambil berlari dan diikuti Anita di belakangnya. Orang-orang yang baru keluar berdiri di
lobbi yang juga menunggu hujan mereda, tersenyum lucu melihat Anita dan Hanif.
Romatis sekali. Batin mereka.
__ADS_1
Anita merasa lucu juga pada dirinya sendiri, ingin sekali rasanya ia memperlambat larinya agar lebih lama bersama Hanif, tapi ia urungkan niatnya mengingat sudah terlalu malam dan pasti Zahra sedang menunggunya. Sesampainya di parkiran, Anita memberikan jaketnya pada Hanif dan mengucapkan terimakasih sekalian berpamitan. Mereka berpisah disana.