Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 56 - Rencana Kejutan


__ADS_3

Flashback on


Hanif tengah bersibuk menyiapkan kepulangannya. Mengambil dan membuka tas lalu memasukkan beberapa baju untuk dibawanya pulang. Tidak lupa membawa cincin yang telah Hanif siapkan sebagai modal untuk melamar Anita.


Hanif juga telah memesan tiket kereta api Lodaya yang akan membawanya pulang menuju kampung halaman. Besok Hanif akan kembali ke Jogja membawa gelar masternya.


Menemui orang-orang yang sudah sangat dirindunya. Barang tentu Hanif akan menunaikan janjinya pada Anita. Melamarnya.


***


Sebelum benar-benar berangkat,  Hanif terlebih dahulu menghubungi Zahra. Berharap Zahra dengan sukarela akan membantunya dan mempercepat langkahnya menuju Anita.


“assalamu’alaikum..” sapa Hanif.


“wa’alaikumsalam, ada apa mas? tumben telfon Zahra?” jawab Zahra yang langsung dengan nada tinggi bin sinis nya.


“apa kabar kamu? Bagaimana kehamilanmu?” tanya Hanif basa basi.


“baik. bayiku juga sehat alhamulillah.. katakan ada apa mas? nggak usah basa - basi..” tukas Zahra.


Tak ingin berlama-lama karena rupanya ia tengah bersiap menyuapkan nasi ke mulutnya saat Hanif menelefon tadi. Dia tak ingin menahan laparnya terlalu lama lagi, kasihan anak di perutnya nanti. Pikirnya.


“ya Allah, aku lupa kalau kamu Zahra yang dulu. Aku pikir setelah menikah kamu akan berubah.hahaha”


“Tentu saja aku Zahra, memangnya daritadi mas ngomong sama siapa?” sahut Zahra cepat.


“haha, ok ok maaf kan aku. Aku mau minta tolong..”


“apa?” sahut Zahra cepat, bahkan hanif belum menyelesaikan kalimatnya.


“mas mau minta tolong padamu, mintakan nomor handphone ayah Anita..bisa ya?”


“kenapa nggak minta sendiri ke Anita?”


“tidak bisa”


“kenapa tidak bisa?” tanya Zahra lagi yang membuat Hanif menghela nafas kasar.

__ADS_1


“Aku mau melamar Anita, Zah. Dan aku harus menghubungi orangtuanya terlebih dahulu tentunya kan..”


“serius? mas mau melamar Anita? beneran?” Zahra memekik semangat.


“iya..”


“alhamdulillah. Tapi kenapa nggak ngomong ke Anita aja..”


Duh Zahra.. Gemes deh nggak ngerti-ngerti. Hanif kan mau kasih surprise untuk Anita. Haha


“aku sengaja nggak bilang ke Anita dulu. Aku harus menyampaikan niatku kepada orangtuanya telebih dulu Zahra.. jadi bisa tidak membantu ku?”


“Zahra punya nomor telefon tante Rani, tapi kalau Om Rudi aku tidak punya.”


“boleh. Nomornya mamanya juga nggak apa-apa..”


“baiklah, nanti Zahra kirim..”


“terimakasih bu Zahra..” ucap Hanif dengan nada khas resepsionis bank.


“aku masih muda, jangan panggil ibu..” sergah Zahra.


Ucapan Hanif berhasil membuat Zahra terdiam. Seketika dia tersadar bahwa ia tengah hamil.


Ya allah maafkan mama mu ya nak. Mama tidak bermaksud melupakanmu. Gumam Zahra dalam hati.


“Assalamu’alaikum..” tutup Zahra cepat tanpa menunggu jawaban Hanif.


Setelah Zahra mengirim nomor tante Rani pada Hanif, secepatnya Hanif menghubungi nomor itu.


“assalamu’alaikum..”


“wa’alaikumsalam, siapa ini?”


“saya Hanif tante, teman Anita yang waktu itu berkunjung bersama Zahra..”


“oh ya ampun, nak Hanif apa kabar? Tante dengar kamu kuliah lagi di Bandung?”

__ADS_1


“alhamdulillah sehat tante, benar dan alhamdulillah Hanif sudah menyelesaikan ujian tesis Hanif..”


“alhamdulillah, selamat ya Nak..oh iya, ada apa ini kok menghubungi tante?”


“mmm, begini tante Hanif ingin meyampaikan kepada om Rudi tentang niatan Hanif. BisaHanif berbicara dengan om? Oh iya, tolong jangan beritahukan Anita terlebih dulu ya tante.”


“baiklah.. Sebentar tante panggilkan om ya..” ucap mama Rani, lalu beranjak menghampiri suaminya di belakang rumah.


Mama Rani menyerahkan handphonenya sambil berbisik. Ada yang mau bicara sama ayah, teman Anita. Begitu kira-kira bunyinya. Mama Rani juga berpesan pada suaminya agar menerima telfonnya di dalam kamar, agar tidak terdengar Anita.


“assalamu’alaikum..” sapa om Rudi. Ayah Anita.


“wa’alaikumsalam om, saya Hanif..” sapa Hanif memperkenalkan diri. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan.


“ada apa nak Hanif?” tanya Ayah Anita. Suaranya tegas dan sangat berwibawa, persis seperti Hanif.


“Begini om, Hanif ingin menyampaikan niat Hanif untuk melamar putri om satu-satunya, Anita Shoffiyah.. Tetapi saat ini Hanif masih berada di Bandung, sepulang ke Jogja, jika om merestui Hanif akan datang ke rumah beserta keluarga Hanif. Mohon maafkan Hanif atas ketidaksopanan saya om.” Ujar Hanif. Tangannya mengepal menahan gemetar. Nafasnya memburu, jantungnya berdetak semakin kencang.


“apa Anita tidak boleh tahu dulu perihal ini?” tanya Om Rudi. Hanif sangat lega ayah Anita sangat mengerti maksud penyampaiannya.


“iya om..”


“baiklah, om paham. Kapan nak Hanif akan datang?”


“insyaallah minggu depan om. Hari jum’at ba’da sholat Jum’at.”


“baik. Nanti om sampaikan juga pada mama Anita. Om tunggu kedatanganmu.”


“terimakasih banyak om. Assalamu’alaikum.”


“wa’alaikumsalam”


Setelah telefon terputus, Hanif segera menghembuskan nafas kasar dan cepat. Entah berapa lama ia menahan nafas. Kini ia merasakan kelegaan luar biasa. Hanif segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Ashar.


Dalam doanya selalu ada nama Anita disana, dan kali ini ia memohon dengan sungguh-sungguh agar niat baiknya diberi jalan yang baik dan kelancaran.


Esoknya Hanif bertolak dari Bandung menuju Yogyakarta menggunakan kereta lodaya. Menjemput Anita untuk dijadikan kekasih halalnya, berharap menjadikannya satu untuk selamanya.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2