Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 67 - Pasangan Muda


__ADS_3

Anita dan Hanif sama-sama terdiam. Hanyut dalam pikiran masing-masing tentang indahnya ciptaan Tuhan itu, tentang waktu yang selama ini ia habiskan tanpa tahu dunia luar, dan tentang diri mereka masing-masing.


Tiba-tiba kecanggungan meliputi Hanif dan Anita. Dalam diamnya Hanif resah, bagaimana mengatakan kepada Anita tentang hasratnya. Malu, tapi hasratnya telah membuncah. Mereka masih menatap ke arah laut ketika mendengar sayup-sayup adzan ashar berkumandang.


“sudah adzan, siap-siap sholat yuk.. terus jalan-jalan dulu boleh?” pinta Anita, setengah menolehkan badan menatap Hanif.


Tangan kiri Hanif masih erat memeluk Anita, tangan satunya lagi mengusap-usap pipi Anita, lalu memberikan kecupan lembut di bibir istrinya itu.


“boleh, sekalian kita makan malam.”


Sore itu, Anita dan Hanif menghabiskan waktu berjalan-jalan di tepi pantai, sesekali berlarian mengejar ombak.


Persis seperti pasangan muda lainnya. Tangan mereka pun saling bertaut seakan enggan untuk saling melepas.


Kini mereka duduk di tepian pantai dengan iringan suara deburan ombak, mereka menatap cakrawala yang mulai memerah. Masih dengan tangan terpaut. Sesekali Hanif mengusap lembut tangan yang digenggamnya itu dengan ibu jari nya.


“dek..”


“hmm?”

__ADS_1


Anita berdehem, menoleh melihat manik cokelat suaminya yang mempesona. Sekejap Anita larut. Manik cokelat itu yang pertama kali membuat Anita belingsatan saat pertemuan pertama mereka. Tentunya, Hanif belum menyadarinya kala itu bahwa mereka telah bertemu lebih awal daripada dugaannya.


“terima kasih sudah menerimaku, terima kasih sudah mau mensejajariku dalam perjuangan ke depannya, terima kasih istriku..” ucap Hanif sambil memberikan tatapan lembut pada istrinya.


Ucapan sederhana itu berhasil membuat Anita meleleh hatinya. Dia tidak memberikan jawaban apapun, bukan tidak mau, Anita tidak mampu berkata-kata. Bahkan untuk menjawab ‘iya’ saja mungkin akan membuat Anita membanjir air matanya.


Hanya senyuman manis, satu bintik bening yang lolos dari pelupuk matanya dan juga usapan lembut di lengan Hanif yang ia berikan sebagai jawaban.


Anita menyandarkan kepalanya di bahu Hanif, membuang pandangannya kembali ke ufuk barat tempat sang surya beranjak tenggelam.


***


Duduk berhadapan dengan satu piring nasi dan beberapa lauk di sampingnya, Hanif menerima suapan demi suapan dari tangan Anita.


Malam itu, Anita sudah berjanji akan memanjakan sang suami, selain sebagai permintaan maaf karena mengabaikannya selama dua hari, juga karena menuntaskan hasrat yang sama-sama mereka tahan selama semingguan itu, terlebih Hanif.


Setelah melaksanakan sholat, Anita bersiap mengenakan pakaian terbaiknya untuk memanjakan Hanif malam itu. Sedangkan Hanif sudah terlebih dahulu membenamkan kepalanya di bantal empuk di atas ranjang besar.


Anita keluar dari kamar mandi, antara malu dan tapi juga mau. Anita berjalan perlahan sambil menunggu reaksi Hanif.

__ADS_1


Tatapan Hanif segera tertuju pada Anita saat wanita yang dicintainya itu muncul dari balik pintu kamar mandi. Matanya membola, terperangah, tertegun, termangu dan segala ungkapan lainnya seakan tak mampu mengekspresikan reaksi Hanif malam itu.


“istriku cantik sekali.. sini..” Hanif tak henti mengulas senyum di wajahnya. Sedang Anita justru malu-malu mendekati suaminya.


Anita telah berdiri tepat di hadapan Hanif, kakinya berdiri diantara kaki Hanif yang terbuka lebar. Tangan kanan Hanif melingkar mantap di pinggang Anita. Tangan satunya lagi meraba tubuh ideal wanita dihadapannya. Perlahan naik lalu merengkuh leher Anita agar wanita itu menunduk menerima ciuman dari Hanif.


Ciuman Hanif lembut namun perlahan menuntut, tangan Anita telah sejak tadi bertengger di bahu Hanif. Satu tangannya lagi membelai tengkuk Hanif.


Hanif menuntun Anita untuk naik ke ranjang besarnya, tanpa melepaskan ciuman itu. suara decak memenuhi ruangan akibat ulah dua insan yang tengah di mabuk rindu.


Hasrat keduanya telah membumbung tinggi, sudah tak bisa ditahan lagi. Malam itu, malam yang cukup dingin karena angin laut yang berembus menembus dinding-dindingckamar mereka, tak mampu menyejukkan aktifitas panas Anita dan Hanif yang telah sampai pada penyatuan. Peluh telah memenuhi tubuh keduanya. Erangan panjang dari Anita menandakan bahwa ia telah sampai pada puncaknya, hampir bersamaan dengan Hanif.


Hanif menjatuhkan badannya di samping Anita, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Tangannya menelusup ke leher Anita sebagai bantal untuk kekasih hatinya itu.


Hanif menarik Anita ke dalam pelukannya. Anita masih lemas untuk bergerak, ia hanya menurut saat Hanif menariknya.


“mas mencintaimu. Sangat. Terima kasih sayang..” ucap Hanif lirih. Lalu mencium kening Anita cukup lama.


Anita tidak menjawab apapun. Ia hanya bisa mengetatkan pelukannya, membenamkan wajahnya di dada Hanif, dan meninggalkan jejak lisptik tipis disana.

__ADS_1


\~\~\~


__ADS_2