Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
40


__ADS_3

Masa lalu bukanlah sebuah tempat yang bisa kembali aku singgahi dengan mudahkarena aku sudah berusaha keluar dengan begitu susah. Biarlah masa depan menyongsong diriku yang telah gundah. Aku akan terus melangkah ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang.


POV Zaidan


Aku melangkahkan kakiku menuju lobby rumah sakit dengan pikiran yang sudah sedikit tenang, ya aku sudah membuat keputusan tentang masa depanku. Setelah nasihat Mama dan ibuku dan akupun minta petunjuk pada NYa, aku kini mantap akan melangkah ke depan. Namun sebuah suara yang tak asing di telinga menghentikan langkahku.


* Zaid..." suara itu, ah aku membalikan badanku seketika bahkan pintu kaca yebat itu sudah terbuka siap untuk aku masuki namun aku mengurungkan langkahku dan berbalik dan memang dia dengan langkah tergesa menghampiriku. Nyaris terjatuh karena terburu-buru untung saja dia bisa langsung menyeimbangkan bibit tubuhnya sehingga tidak terjatuh.


" Boleh bicara?" wanita itu menatapku tajam, mata itu yang dulu terlihat teduh dan kepala yang selalu tertunduk kini terangkat.


" Tentang..." tanyaku. Berusaha untuk tenang menghadapi sikapnya yang justru terlihat meledak-ledak tidak sabaran sungguh berbeda sekali dengan dia yang dulu aku kenal. Apakah keadaan yang telah merubahnya ataukah memang inilah dia yang sesungguh, kalau iya sungguh aku memang sejak dulu tidak pernah mengenalnya dengan baik.


" Tentang banyak hal, dan aku tidak menerima penolakan." Benar aku memang tidak mengenalnya sekarang dan entalah maupun dulu mungkin.


" Baiklah, silahkan... Kita ke kantin rumah sakit." ucapku sambil membalikan badan ingin melangkah mendahului.


" Tidak, di kafe seberang saja." Dia melangkah terlebih dahulu sebelum aku mengiyakan ajakannya. Terbalik kini aku yang melangkah di belakangnya.

__ADS_1


Langkahnya yang cepat membuat dia hampir saj terserempet kendaraan ketika hendak menyebrang jalan, dengan sigap aku menarik lengannya dan dia berbalik ke arahku, kami saling tatap dan dalam posisi yang begitu dekat namun segera aku memutus tatapan itu, tatapan sendu dan teduh miliknya seperti yang dulu. Aku segera mengajaknya berjalan bersama menuju kafe.


Kami memilih tempat di pojok ruangan, suasana menjelang sore belum terlalu banyak pengunjung kafe sehingga masih terlihat lengang. Kami masing-masing hanya memesan minuman saja untuk menemanimu pembicaraan yang entah tentang apa.


" Beberapa hari ini aku bolak balik ke sini untuk mencarimu..." Dia menjeda kalimatnya membuatku penasaran apa yang membuatnya mencariku, namun aku hanya diam menunggu dia melanjutkan kalimatnya.


" kemana saja sih kamu, apa kamu menghindari ku?" pertanyaan macam apa ini, sungguh wanita yang berada di hadapanku terlihat aneh hari ini. Untuk apa aku menghindarinya, percaya diri sekali.


" Bukan urusan mu dan untuk apa aku menghindar, tidak ada alasan untuk menghindari mu." Ucapku kemudian.


Tanpa aku duka dia menarik tanganku dan mengatakan sesuatu , spontan aku tarik kembali namun dia memegangnya dengan erat. Aku menatapnya tak percaya pada apa yang dia lakukan dan apa yang barusan dia katakan


" Maksud kamu apa, kisah yang mana?" Sungguh aku tidak mengerti.


" Tidak ada kisah diantara kita tentang masa lalu ataupun di masa depan" ungkapku. Diae melepaskan tanganku dan tertunduk. Aku bingung dengan keadaan ini. Memang tidak ada kisah diantara aku dan juga Siren, ya siapa lagi wanita yang ada dalamasa lalu ku selain dia. Walaupun ya dulu kita punya harapan yang sama namun berakhir tidak baik dan sekarang, setelah aku tau semuanya aku merasa iba padanya sempat ingin merengkuhnya namun aku tidak mau menghancurkan rumah tangga seseorang Walaupun dalam keadaan yang tidak baik sekalipun. Biarlah masa lalu akan hanya menjadi kenangan dan pelajaran berharga.


" Apa tidak bisa kita mencoba seperti dulu lagi?

__ADS_1


" Maksud kamu apa, maaf aku tidak bisa.ini adalah jalan takdir kita tidak disatukan. Kamu adalah seorang istri terlepas seperti apa keadaannya, jika ada masalah komunikasikan lah dengan suamimu."


" jika kamu mau menerimaku apa adanya, aku akan meminta cerai dari suamiku. Harapanku masih sama seperti dulu. Ingin bersama mu."


" Namun harapan kita tidak sama, maaf aku tidak bisa. Perlu kamu tahu bahwa aku akan menikah dalam waktu yang tidak lama lagi." Aku berbicara dengan yakin seolah sudah ditetapkan padahal perihal perjodohan pun kakek Harsa belum membahas denganku. Rasanya aku jadi ingin tertawa sendiri mengingat kata-kata yang terucap dari mulutku sendiri. Namun aku memang sudah membuat keputusan untuk menerima perjodohan ini karena aku yakin ini memang yang terbaik seperti yang tadi ibu ucapkan. Ah aku jadi teringat Arby, adikku apa yang sedang dilakukanlah sekarang, ingin sekali aku membagi apa yang ada dalam pikiranku dengannya seperti yang selalu dia lakukan padaku ketika mempunyai masalah apapu. Dia selalu datang dan meminta pendapatku


Deringan ponsel Siren membuat lamu aku buyar. Wanita itu bergegas mengangkat telepon setelah menghapus tetesan air matanya dan menetralkan suaranya.


" Ya, baiklah aku segera datang." ucapnya lalu menatapku namun aku langsung mengedarkan pandanganku ke arah lain.


" Sekarang kamu berbeda dengan yang dulu Zaid."


" Begitupun dirimu." balasku.


" Aku harap kamu pikirkan lagi Zaid, aku punya harapan yang besar padamu." Ucapnya sambil berdiri dan melangkah dengan tergesa-gesa.


Sungguh aku tidak mengerti wanita itu. Huh.. Aku membuang nafas kasar meninggalkan kafe menyesali perbincangan barusan dengan Siren yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Yang jelas pertemuan dengan wanita itu tidak membuatku goyah dengan keputusan yang akan aku ambil. Aku melangkah dengan mantap menyongsong masa depan.

__ADS_1


Happy reading 💜💜💜


__ADS_2