
Tinggalkan jejak like and Vote ya readers..
Hari senin sekarang tolong ikhlaskan satu tiket vote nya untuk penulis ulung ini.
\~\~\~\~\~
P**OV Anita**
Beberapa hari yang lalu sebelum berangkat menuju Palembang, Nindi, salah satu temanku di jurusan Farmasi, bertanya padaku tentang mas Hanif.
“Nit, Mas Hanif mau menikah ya?” tanya Nindi tiba-tiba. Aku sangat bingung dengan pertanyaan tersebut. Setahuku mas Hanif sedang tidak dekat dengan siapapun, bahkan katanya dia sudah sangat kecewa dengan mantan kekasihnya itu.
“maksudmu?” Aku berbalik bertanya.
“soalnya aku kemarin nggak sengaja lihat mas Hanif sama perempuan di toko perhiasan.. mas Hanif nggak cerita padamu?” ujar Nindi.
Aku menggeleng dan semakin bingung namun aku berusaha terlihat baik-baik saja di depan temanku itu, bahkan aku sengaja melempar senyum.
“mungkin adeknya kali, mas Hanif kan punya adik perempuan.” Balasku.
Sebenarnya aku sangat penasaran tapi berusaha berhusnudzon dan agar temanku itu tidak serta merta menyebar gosip yang tidak-tidak.
“kalau adeknya masa sendiri-sendiri naik motornya, terus kelihatan canggung banget. Aku sih nggak nyapa. Takut mas Hanif nggak nyaman.” Ujar Nindi.
__ADS_1
“seharusnya kamu menyapa mas Hanif, lalu tanyakan padanya perempuan itu siapa. Kalau kamu bertanya padaku, mana aku tahu, aku kan tidak tahu wajah perempuan itu seperti apa.” jawabku sambil terus melempar senyum pada Nindi agar ia tahu bahwa aku sedang mengisyaratkan padanya untuk berhusnudzon.
“benar juga kamu.hehe, ya sudah aku ke kantin dulu ya..assalamu’alaikum.” ucap Nindi, lalu dia pergi meninggalkanku.
“wa’alaikumsalam..” jawabku.
***
POV Author
Sampai sekarang Anita masih memendamnya. Dan mungkin karena itu, dia menjadi kesal dengan Hanif. Hanif secara tidak langsung menjadi sasaran kekesalannya tanpa tahu salahnya apa.
Ingin sekali Anita bertanya tentang pertemuannya dengan wanita misterius itu, tapi Anita mengurungkannya. Dia tidak mau Hanif mengira dia cemburu atau bahkan mengetahui bahwa Anita menyukainya.
Selesai dari kamar mandi Anita kembali membuka handphonenya. Ia mengetik sesuatu di sana lalu memencet tombol send. Tidak sampai satu menit, Anita mendapat balasan.
Pesan dari Hanif.
****
Di bandung, tempat kos Hanif.
Kenapa Anita terdengar kesal sekali? Apa salahku?
__ADS_1
Gumam Hanif di dalam kamarnya yang sepi.
“masih mau dilanjut nggak ini telefonnya? Kalau masih marah mending ke kamar mandi gih, ambil wudhu terus istirahat. Ok?” pinta Hanif lembut.
Namun bukan jawaban yang didapat melainkan bunyi telefon yang langsung terputus. Hanif mencelos, seketika terpancing emosi. Tidak menunggu lama ia kembali menelfon Anita.
“Ada apa lagi? katanya disuruh ambil wudhu?” tanya Anita tanpa rasa bersalah. Ia masih konsisten dengan nada ketusnya.
“setidaknya ucapkan salam, bukankah tidak sopan tindakanmu tadi? Mas minta maaf kalau mas tidak sengaja melukai perasaanmu, dek. Maafkan aku. Dan juga, lain kali, ketika aku ada salah yang aku tidak ketahui ataupun sengaja, katakan! Jangan buat aku menebak-nebak apa yang sedang terjadi. Ok?” pinta Hanif masih dengan nada
lembut.
Dia memang emosi tapi sebisa mungkin ia tahan. Tidak mungkin menghadapi orang marah dengan membalas kemarahan. Dia tidak ingin semakin melukai perasaan Anita.
Setelah menjawab hanya 'Ok' lalu Anita mengucapkan salam dan menutup telefonnya. Beberapa menit kemudian satu pesan masuk di handphone Hanif.
Mas, aku minta maaf atas sikapku yang tadi. Mm, aku hanya sedikit lelah.
Begitulah isi pesan Anita.
Hanif segera memberi balasan. Mengetik beberapa kata lalu menekan tombol send.
Malam itu Hanif merasa gelisah entah kenapa, pikirannya terus tertuju pada Anita yang nun jauh di sana. Anita tidak seperti biasanya, meskipun marah sekalipun dia tidak pernah bersikap tidak sopan.
__ADS_1
Hanif sangat yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada Anita dan tentu bukan hanya karena kelelahan. Tapi Hanif tidak tahu apa dan bagaimana menanyakan hal itu pada Anita.
Jadilah malam itu keduanya Hanif dan Anita hanya saling menduga-duga dan bergelut dengan prasangkanya masing-masing tanpa mampu mengungkapkannya.