Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
39


__ADS_3

Rasa yang terombang-ambing ini akankah mendapatkan muaranya....


Melangkah itu maju buka mundur... namun kenapa langkah ini terasa begitu berat seakan memenjarakan ku pada masa lalu yang belum usai. Kini harus ku putuskan membuka lembaran yang telah usang ataukah maju membuka lembaran baru yang pasti keduanya pun belum tahu akhirnya akan seperti apa. Namu aku yakin pada sang pencipta akan memberikan takdir yang terbaik pada setiap umat Nya.


💜💜💜


Zaidan akhirnya pulang menemui ibunya, benar kata Mama Ayu dia tidak mungkin tidak melibatkan ibu kandungnya, ibu yang melahirkan dan memberikannya kehidupan.


" Bagaimana jika ini adalah cara Allah untuk memberikan isyarat padamu kalau dia memang jodohmu? Lewat tangan kakek angkatmu." Sang ibu kandung justru terlihat mendukung tentang perjodohan yang di tawarkan.


" Zaidan masih ragu untuk mengambil keputusan, makanya bertanya pada ibu." Zaidan tertunduk dalam sungguh berat baginya mengambil keputusan untuk masa depannya. Masa depan yang akan dia jalani sampai akhir hayatnya nanti dengan seseorang yang belum dia kenal. Berharap pada waktu yang akan menemukan jalan keluar namun justru waktu tidak pernah bisa menjawab. Justru hatilah yang akan menentukan.

__ADS_1


Sang ibu menatap anaknya yang tertunduk dalam. Namun sebagai seorang ibu dia mempunyai keyakinan bahwa Zaidan putranya bisa mengambil keputusan dengan benar karena Allah akan menuntunnya menuju perempuan shalihah. Itu adalah doa seorang ibu yang selalu Ia dipanjatkan disela ibadahnya, selain kesuksesan dunia dan akhirat apalagi yang seorang ibu inginkan untuk anaknya termasuk mendapatkan jodoh yang terbaik . Iya pun meninggalkan anaknya setelah mengelus kepala sang anak yang masih tertunduk dalam.


" Ibu akan melanjutkan menyiapkan makanan, jangan terlalu stres memikirkan jodoh. Mintalah pada sang Maha Cinta melalui istikharah jika kamu masih bingung Untuk mengambil keputusan." Ucap sang ibu sambil berlalu ke dapur dan kembali melanjutkan kegiatannya di sana.


" Pasti Bu, Zaidan akan selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah yang Zaidan ambil. Apalagi ini tentang masa depan." Zaidan pun bangkit dan menuju kamarnya dia merebahkan tubuhnya yang lelah di kasur yang memang jarang dia tempati. Bukan dia abai pada ibunya namun memang jarak kerumah sakit dari rumah ibunya cukup jauh sedangkan sebagai seorang dokter dia harus tetap siaga walaupun tidak pada jam kerja jadi dia lebih sering berada di apartemen dengan Arby sang adik, terkadang Zaidan pun menginap di rumah sakit di tempat khusuk keluarga yang memang disediakan di sana. Sesekali Zaidan juga akan menginap di rumah Mama Ayu dan di rumah ibunya.


Zaidan menatap langit-langit kamarnya pikirannya menerawang jauh berkeliaran entah kemana sampai akhirnya dia jatuh ke alam mimpi.


Setelah istirahat beberapa lama Zaidan terbangun, melihat ibunya sedang menata makanan di meja dibantu asisten yang dia pekerjakan untuk membatu sekaligus menemani ibunya di rumah ini.


" Sudah bangun kamu?" Zaidan hanya mengangguk kemudian berjalan mendekati sang ibu.

__ADS_1


" Duduklah!" perintahnya pada sang putra.


" Ayo kita makan sama-sama, sudah lama kamu tidak kesini. Ayo Siti kamu juga ikut makan bersama kami, biarkan pekerjaan itu kamu kerjakan nanti." Siti pun mendekat dan duduk bersama, tadinya dia beralasan karena masih ada pekerjaan walaupun biasanya dia juga akan makan bersama namun ketika ada Zaidan Siti akan merasa canggung dengan putra sang majikan. Walaupun Zaidan memang selalu ramah padanya tapi Siti tetap merasa sungkan.ereka pun makan bersama samai akhirnya Zaidan pamit akan ke rumah sakit ada satu pekerjaan yang memang harus dia kerjakan hari ini. Mobil Zaidan melaju pelan meninggalkan halaman rumah di iringi senyuman dan lambaian tangan dari sang ibu tercinta yang menatap sambil melantunkan doa-doa kebaikan sampai mobil anaknya tak terlihat lagi dia pun masuk ke dalam rumah namun doanya tidak pernah terputus untuk anak semata wayangnya.


Perjalanan yang hampir memakan waktu sekitar tiga jam karena sempat terjadi kemacetan yang lumayan parah sehingga mobil hanya bisa bergerak perlahan sesekali. Akhirnya Zaidan sampai di parkiran rumah sakit. Dia pun keluar dari mobilnya setelah menempatkan mobilnya di posisi yang benar. Ketika dia hendak memasuki lobby rumah sakit seseorang memanggil namanya, suara yang tidak asing dalam pendengarannya.


" Zaid...Zaid... Tunggu sebentar... Zaid." teriakannya. Pintu kaca yang sudah terbuka menyambut seseorang yang akan memasuki ruangan akhirnya tertutup kembali karena pria yang akan memasuki ruangan itu melangkah berbalik arah menatap seorang wanita yang tengah berjalan tergesa menghampirinya.


Bersambung...


Happy reading 💜💜💜

__ADS_1


Maafkan author yang baru bisa update kembali. Tetap dukung ya ,like komen vote juga. Terimakasih


__ADS_2