
Boleh jadi sesuatu yang kita sukai bukanlah yang tepat untuk kita namun boleh jadi yang kita benci justru itulah yang terbaik untuk kita.
Manusia adalah sebaik-baiknya perencana namun Tuhan yang menentukan segalanya.
Aluna terduduk di tanah dengan keadaan yang tidak baik-baik saja hanya menatap kosong ke depan dimana ada tiga orang manusia yang sedang berkelahi di sana. Tubuhnya terasa lemas mengingat kejadian yang baru saja terjadi padanya.
Perkelahian akhirnya berhenti setelah dua orang preman tadi mendapat beberapa tendangan dan juga pukulan dari seseorang yang menolong Aluna.
Perlahan Aluna pun tersadar karena teriakan salah satu preman tadi ketika tubuhnya di injak oleh orang yang menolongnya. Aluna perlahan bangkit dan membenahi pakaiannya yang tadi sedikit tertarik oleh salah satu pria tadi, untung saja tidak sampai robek,
Setelah kedua pria itu pergi dari sana seseorang yang menolong Aluna pun mendekat dan membuka helm yang menutupi wajahnya. Dan betapa terkejutnya Aluna melihat sosok yang tengah menolongnya adalah seorang wanita. Aluna memang tidak memperhatikan jika pakaian yang di kenakan wanita tersebut pun celana namun berukuran lebar sedangkan bajunya tertutup jaket yang juga terlihat kebesaran.
Wanita tersebut pun tersenyum dan mengulurkan tangan pada Aluna, seraya berkata " Kamu tidak apa-apa?" Membuat Aluna reflek menggelengkan kepalanya berkali-kali.
" Terimakasih kak," ucap Aluna yang memang wanita yang menolongnya itu terlihat lebih dewasa darinya. Sungguh Aku a kagum dengan sosok wanita ini walaupun dia perempuan berhijab tapi tidak membatasi gerakannya saat berkelahi dan pakaian juga cukup syar'i.
" Mau saya antar pulang?" Ucap wanita itu melihat Aluna menatap kearahnya tanpa berkata apapun.
__ADS_1
" Tidak usah kak, aku bisa naik taksi.."
" Baiklah ,saya akan menemanimu sampai taksi pesanan mu tiba." Wanita itu berucap pasti.
" Terima kasih ya kak, aku gak tau jika tadi kakak tidak datang tepat waktu. Entah apa yang akan terjadi..." Aluna tertunduk, kembali dia meneteskan air mata. Aluna menyesal karena menghindari orang-orang di rumah , membohongi Mamanya dengan alasan akan berangkat bersama Shana untuk belajar bersama malah sebuah musibah menimpanya. Beruntung ada seseorang yang menolongnya kalau tidak... Aluna bahkan takut untuk membayangkan apa yang terjadi padanya.
Aluna pun mengucap Hamdallah dan berterima kasih berkali-kali karena merasa Allah telah mengirimkan wanita itu untuk menjaganya sampai akhirnya taksi yang Aluna pesan tiba dan wanita itu pun memeluk Aluna sebagai tanda perpisahan dan mengatakan pada Aluna untuk selalu berhati-hati. Aluna pun pamit setelah mengatakan terima kasih yang terakhir kalinya dan mengucapkan salam. Wanita itu pun berlalu dengan motornya dan Aluna baru menyadari kalau dia tidak meminta nomor telepon wanita tersebut bahkan namanya pun Aluna lupa menanyakannya.
Tiba di rumah Aku a disambut sang Mama tercinta dan keluarga besarnya.
Aluna pamit ke kamarnya setelah terlebih dahulu berbasa-basi bersama mereka tak lupa wajah cerianya dia tampilkan sebaik mungkin di depan semua orang.
Walaupun besok pertemuan keluarga antara Zaidan dan juga Diana hanya dihadiri keluarga inti namun mereka semua tetap diajak berdiskusi untuk acara tersebut. Itulah yang mempererat kekeluargaan dari mereka ketika ada apapun semua dilibatkan dan diajak bermusyawarah juga untuk tetap menjaga silaturahmi diantara mereka walaupun sudah ada grup chat tetap saja mereka merasa perlu untuk berkumpul secara langsung sesekali. Dan walaupun mereka tidak akan ikut pertemuan keluarga tetap memutuskan untuk menginap di sana dan besok baru akan kembali.
Tak lama berselang Arby pun meminta ijin untuk menemui Aluna, Arby merasa bersalah karena kesibukannya membuat dia akhir-akhir ini tidak begitu memperhatikan adiknya. Apalagi melihat tatapan adik ya barusan, mungkin Aluna bisa memasang wajah cerianya di depan semua orang tapi Arby yang menetap matanya ada kesedihan terlihat disana. Ainun pun mulai membiasakan diri berada di tengah-tengah keluarga sang suami di berusaha berbaur dengan mereka. Toh mereka pun memperlakukan Ainun dengan sangat baik. Apalagi nenek dan juga Oma dari suaminya itu begitu terlihat perhatian padanya.
Arby mengetuk pintu kamar Aluna, meminta ijin masuk pada adiknya. Itulah yang selalu diajarkan Mamanya walaupun Arby seorang kakak tetap tidak boleh bersikap seenaknya pada adik-adiknya bahwa Mama Ayu pun selalu mengetuk pintu dahulu sebelum masuk ke kara Aluna jika Aluna sedang berada di kamarnya.
__ADS_1
" Mas Arby boleh masuk lun?" Ucap Arby karena ketukannya di pintu tidak membuat Aluna keluar ataupun menyahut.
Aluna yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk mencuci mukanya segera membukakan pintu untuk Mas Arby walaupun memang sebenarnya dia tidak mengunci pintu tersebut.
Arbi pun duduk di sebelah adiknya di tepi tempat tidur.
" Kamu baik-baik saja kan, Lun? Aluna mengernyitkan dahinya bertanya dalam hati kenapa kakaknya bertanya seperti itu mungkinkah terlihat dari wajahnya...
" Baik, emang kenapa Mas? Luna balik bertanya.
" ya gakpapa, Mas ngerasa ada sesuatu yang terjadi dan mas gak tahu itu. Maaf jika akhir-akhir ini mas sibuk." Aluna menunduk dan meneteskan kembali air matanya, dia kembaliengingat kejadian yang beberapa saat menimpanya. Kemudian dia menghambur memeluk Mas Arby. Membuat Arby terkejut dan bertanya-tanya ada apa dengan sang adik tercinta.
" Eh, kenapa ini, benar kamu lagi gak baik-baik saja kan Lun? Cerita sama Mas..." Arby membalas pelukan adiknya dan mengelus punggungnya perlahan berusaha menenangkan Aluna yang terisak sambil memeluknya erat.
Happy reading 💜💜💜
Terimakasih kepada readers yang sudah memberikan dukungannya. Doakan semoga bisa konsisten update hingga selesai.,🤗🤗
__ADS_1