
HAII READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA
KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
LANJUT ****
Dika sudah tak bisa berkata kata lagi,karena Yuli lagi posisi mode marah yang tidak jelas.
"Kamu pikir aku marah begitu,wuyuihh asal kamu tahu ya aku mah biasa saja tidak terlalu peduli dengan sekitar jadi jangan takut bro kalau bahas soal masa lalu aku bakal emosi begitu?" Tanya Yuli yang tak bisa menahan tawanya lagi.
"Istriku jantung hatiku,bisa tidak jangan bahas yang tidak ada disini nanti bikin ganti kerjaan tau tidak?" Tanya Dika sambil tersenyum.
"Hahaee aku minta Maaf Misua tersayang,jangan marah nanti kan tampan nya bisa hilang?" Goda Yuli.
"Aduh Sayang kita tidak singgah dulu sekedar beli makanan dulu begitu,soalnya perut aku keroncongan nih?" Tanya Dika memastikan.
"Ah tidak usah,nanti suruh Rino sama Sarah saja soalnya aku kepikiran Silvia takut ada apa apa lagi?" Tolak Yuli.
"Ok baik kalau begitu kamu hubungi Rino sudah,takut nya mereka sampai lebih dulu kan bisa berabe!" Pinta Dika.
"Dasar tukang makan,lama lama tuh perut kaya orang hamil enam belas bulan." Ejek Yuli.
"Hehe kalau sial urusan perut itu tidak bisa di tunda karena sebuah keharusan.Lagian manusia hidup dengan berusaha melakoni berbagai macam pekerjaan hanya untuk bisa makan,jadi kita tidak boleh banyak komentar saat perut minta jatah!" Jelas Dika yang menurut Yuli ada benarnya.
"Aduh Suami ku pagi ini benar nan bijak!" Puji Yuli.
"Makasih Permaisuri!"
Saat keduanya tengah berbincang bincang tampak panggilan masuk dari Lika,Yuli mengeryitkan keningnya sebenarnya ada apa.
"Lika kok telpon?" Tanya Yuli sambil menunjukan ponselnya kearah Dika.
"Di angkat saja siapa tahu penting!" Ucap Dika.
"Hallo Ka,ada apa ya?" Tanya Yuli penasaran.
"Kamu sudah sampai dimana?" Tanya Lika penasaran.
"Udah dekat rumahnya anak anak Kok,emang nya ada apa?" Tanya Yuli bingung.
"Aku udah sampai tapi masih tunggu kamu,karena tadi keburu lupa bawa stetoskop kamu bawa kan?" Tanya Lika memastikan.
"Iya aku bawa,aku matikan dulu ya noh hidung pesek kalian sudah kelihatan!" Ejek Yuli lalu segera mematikan panggilannya.
"Ih dasar menyebalkan." Gerutu Lika membuat sang suami menatap penuh tanda tanya.
"Kenapa lagi?" Tanya Alan heran.
"Biasa Mulut remes nya Yuli!" Sungut Lika.
"Pasti ngambek sebentar doang nanti juga baikan lagi kalau udah ketemu,coba kalau sama suami sendiri beb bisa dipastikan bakal berminggu minggu marahnya." Gumam Alan pelan tapi masih bisa didengar oleh Lika.
__ADS_1
"Ya iyalah secara kita kan cs jadi buat apa marahan lama lama,bikin rugi tenaga sama pikiran." Sahut Lika ketus.
"Waw,si cunguk tumben datang lebih dulu." Ujar Dika membuat Yuli mendengus kesal kearahnya.
"kamu itu jangan memprovokasi keadaan deh,jaga sikap ingat ada anak anak setidaknya kita sebagai orang tua bersikap manis sedikitpun!" Pinta Yuli serius.
"sayang jangan bicara begitu dong,kamu kan sudah tahu kebiasaan kami berdua dari dulu?" Tanya Dika pelan.
"Lain dulu lain sekarang,kalau kita samakan terus mau jadi apa?" Tanya Yuli ketus.
Dika hanya geleng geleng kepala ,begitulah sikap seorang wanita pikirannya selalu saja kritis.
Mobil Dika sudah terparkir sempurna di samping mobil Alan,sedangkan Rino dan Sarah kini sedang mencari makanan buat sarapan pagi.
"Pagi Bebs!" Sapa Lika.
"Pagi Honey!" Balas Yuli.
Alan hanya bisa menatap keduanya dengan senyum mengejek,tadi marah sekarang sudah ayang Bebeb bikin capek saja.
"Kalian kok diluar saja ,ayo masuk kasihan suami kamu Asam uratnya kambuh karena kelamaan berdiri!" Ajak Yuli akan tetapi diselingi dengan mengejek Alan.
"Enak saja kalau ngomong,kamu pikir aku sudah tua apa jadi kena penyakit itu." Omel Alan.
"Oh situ masih otw tua ya,maaf soalnya hampir mirip sama aki aki jadi!" Sindir Yuli lagi.
Alan ingin menjawab tapi apa daya,sang pawang di samping Yuli sedang melotot kearahnya.
"Bininya tukang ganggu suaminya tukang pukul pas genap sempurna sudah lah!" Desah Alan lirih.
"Nah itu tahu kalau kami itu pasangan yang sempurna saling melengkapi,kalau ibarat sayur tanpa garam ya itulah kami." Ujar Yuli.
"Edodoe Mama Sayangee,kalian itu hobi sekali berdebat apa tidak capek tuh mulut?Aku saja yang dengar itu capek lho masa kalian tidak sama sekali?" Tanya Lika heran.
"Maaf itu may kebiasaan kita,sulit untuk di ubah jadi harap maklum!" Ujar Yuli membuat Lika gemas melihat wajah tanpa berdosa miliknya itu.
"Ya sudah ayo kita masuk saja,bosan juga ngajakin terus tapi hanya berdiri ditempat apa tidak bosan tuh kaki?" Kali ini Lika yang ajak karena kalau tidak bisa dipastikan nanti Davin datang dengan pengawal juga perdebatan tidak selesai juga.
Kedua pasangan itu langsung menuju kedalam rumah dengan berbagi arah,jika Yuli dan Lika menuju kamar Davin dan Silvia maka Dika dan Alan menuju dapur untuk membuat kopi.
"Kamu mau ngopi juga?" Tanya Dika.
"Yoi,soalnya tadi bangun langsung kesini untung juga masih sempat mandi kalau tidak mah parah!" Sahut Alan.
"Kamu syukur sempat mandi,nah aku boro boro sentuh air saja tidak?" Dika menimpali membuat keduanya hanya bisa tertawa saja.
"Ini kopi untuk kamu,dua sendok kopi dan setengah sendok gula!" Alan memberikan kopi buatannya untuk cs yang selalu setia mulai dari masih memakai seragam putih biru.
"Terima kasih,kamu tahu saja selera kopi ku seperti apa terus punya kamu mana," Tanya Dika heran.
"Ada nih!" Sahut Alan sambil menunjukan kopi nya yang berada sedikit di sudut.
"Oh Iya Lan,aku mau tanya kamu ada kabar tentang Sinta tidak,soalnya tadi Yuli sempat tanyain?" Tanya Dika memastikan.
"Yuli atau kamu yang lagi merindukan mantan?" Goda Alan.
"Aku serius kali bro,lagian siapa juga yang mau terdampar terus sama wanita ular itu?" Gerutu Dika.
"Hari itu aku sempat dengar katanya di sana dia jadikan kafe yang dulu aku kasih sebagai Club malam,habis itu juga terlibat dengan berbagai anggota Mafia yang masuk lingkaran peredaran obat obatan terlarang." Jelas Alan.
__ADS_1
"Ternyata tuh anak memang tidak pernah berubah,dunia malam sepertinya sudah mendarah daging tidak bisa dilepaskan lagi?" Sesal Dika.
"Aku bingung dulu apa yang bikin kamu kepincut sama dia,padahal kelakuannya sudah hancur dari SMP?' Tanya Alan bingung.
"Aku melakukan semua itu juga karena terpaksa,soalnya kamu tahu kan kalau dia itu nekat,takutnya nanti Yuli yang kenapa napa." Jelas Dika.
"Katanya sih dia sudah dua kali cerai biasalah dunia barat hobinya cari yang hot,kalau permainan di ranjang sudah monoton maka akan cari yang baru." Jawab Alan.
"Ya makanya dulu waktu Davin kuliah di luar kamu selalu waspada karena itu sudah,tapi syukurlah karena ilmu agama yang mumpuni membuat dia bisa menjaga diri." Dika berkata sambil menerawang dimana masa mereka harus berpisah dengan putra satu satunya itu.
"Gimana kehadiran Mami Riani sama Papi Bram?" Tanya Alan penasaran.
"Baik,katanya mau kesini kalau Rino akan menikah!" Sahut Dika.
"Wah jadi si cunguk mau menikah,bisa tambah rame dong rumah kamu?" Tanya Alan antusias.
"Kamu tahu tidak kalau semalam aku tidak ngomong maka hari ini adalah hari pernikahan mereka." Ujar Dika sambil terkekeh geli.
"Siapa calonnya?" Tanya Alan penasaran.
"Nanti juga bakal tahu sendiri,jadi lebih baik tunggu saja ya karena sudah tidak asing lagi." Sahut Dika ambigu.
Didalam kamar Davin,kini ada dua dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang sedang memeriksa serius.
"Jadi gimana Mah dia sakit apa,terus parah tidak apa mesti dibawah kerumah sakit atau rujuk keluar negeri begitu?" Tanya Davin cemas.
"Husss diam bicara kok ngelantur begitu,lebih baik keluar sana kalau masih cerewet!" Usir Yuli.
"Enak saja istriku disini aku diluar,kalau tidak bisa periksa dia lebih baik aku bawa kerumah sakit!" Tegas Davin datar.
Mendengar perkataan Davin yang bikin sakit telinga itu,membuat Lika mengambil bantal dan melempari menantunya itu.
Bugh
"Bisa diam tidak? Yang model beginian dokter selalu suruh pihak keluarga tunggu diluar,karena kalau tidak ganggu saja!"Omel Lika membuat Davin langsung terdiam.
"Salah lagi kan,padahal aku tanya tadi baik baik lho." Sungut Davin pelan.
Yuli mulai memeriksa denyut nadi;setelah itu bagian perut,dan senyum langsung terbit diwajah nya.
Bahagia,oh jelas bagaimana tidak kini menantunya sedang mengandung cucu mereka.Ia langsung memberikan kode kepada Lika untuk memeriksa,reaksi Lika pun sama begitu bahagia.
Perbuatan mereka itu semua tak luput dari penglihatan Davin,ia heran selama hidupnya baru ada dokter yang begitu senang menerima pasien yang pingsan.
"Mah dia sakit apa sih?" Tanya Davin setengah teriak.
"Kamu semalam jadi tidak belikan dia Jus Mangga muda?" Tanya Yuli penasaran.
"Tidak ada yang jualan lagi di jam segitu."Jelas Davin ketus ia tanya apa jawabnya apa tadi?
"Nanti lain kali kalau dia minta sesuatu tolong di usahakan untuk di penuhi jika tidak ingin anak kalian ileran,terus itu namanya ngidam jadi ya aneh aneh saja maunya apa." Kali ini Lika yang berbicara.
"Tunggu tadi Mama ngomong apa,ngidam Anak Ileran maksudnya apa sih?" Tanya Davin kesal.
"Istri kamu hamil bego,jangan jadi orang itu bodoh sekali dasar tidak berguna?" Ketus Lika.
"Oh hamil?" ujar Davin santai sepertinya belum sadar sama sekali .
"Iya hamil jadi lain kali kalau mau main jangan terlalu kasar dan lama,kasihan bayinya masih rentan." Jelas Lika membuat Davin sangat malu dibuatnya.
__ADS_1
Tessa Davin junior is Coming...