
Keheningan terjadi dalam perjalanan keduanya, Aluna yang melihat perubahan sikap Zaidan tidak berani memulai pembicaraan terlebih dahulu begitu pun dengan Zaidan pikirannya masih berkecamuk tak menentu hanya alunan lagu yang menemani keheningan perjalanan mereka berdua. Sebuah lagu yang dinyanyikan dua orang penyanyi terkenal yang membuat pikiran mereka seakan membenarkan lirik lagi tersebut.
Tiba saatnya kita saling bicara
Tentang perasaan yang kian menyiksa
Tentang rindu yang menggebu
Tentang cinta yang tak terungkap
Sudah terlalu lama kita berdiam
Tenggelam dalam gelisah yang tak teredam
Memenuhi mimpi-mimpimu malam kita
__ADS_1
Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah
Perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu
Dan kini hanya ada aku dan dirimu
Sesaat di keabadian
Jika sang waktu kita hentikan
Meleburkan semua batas
Antara kau dan aku, kita
Aluna seakan merasa cintanya yang tak terungkap memang harus dia katakan agar tidak lebih dalam lagi menyiksanya dengan memendam perasaan pada Zaidan. Ternyata mencintai dalam diam itu terkadang sakit dan menyiksa. Namun dia pun takut untuk mengungkapkan perasaannya. Hanya pada Sang Pencipta dia mengadu mencurahkan segala isi hati yang bahkan tidak bisa dia ungkapkan pada siapapun.
__ADS_1
Lain Aluna lain pula pemikiran Zaidan. Zaidan berpikir dia dan juga Siren telah terpisah dalam jarak dan waktu yang lama dan tanpa kepastian. Sekarang mereka dipertemukan kembali apakah ini pertanda bahwa jalinan diantara mereka memang masih terhubung dan pertemuan ini menjadi kesempatan kedua seperti yang tadi Siren ucapkan. Ah, memikirkannya membuat kepala Zaidan berdenyut dan pertigaan lampu merah menyala membuat Zaidan kembali berpikir secara waras, teringat akan pesan Aluna yang mengajaknya pergi ke toko kue yang berada di dekat sekolah Aluna. Ketika lampu hijau menyala dia pun membelokan mobilnya kearah kiri dan melirik gadis yang sejak tadi terdiam di sampingnya. Zaidan merasa heran karena Aluna yang biasanya cerewet tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Namun tanpa di duga pandangan mereka beradu sekilas saling menatap hanya sekilas karena Zaidan kembali fokus melihat ke arah jalanan, sedangkan Aku Aluna kembali terdiam dan merasakan detak jantungnya yang semakin cepat berusaha rileks dengan melihat jalanan yang mereka lewati. Banyak gedung-gedung tinggi menjulang walaupun pemerintah tetap menghimbau untuk melestarikan penghijauan di sekitar gedung dan pinggir jalan agar tetap ada serapan air yang tetap terjaga begitupun dengan dibuatnya tanaman kota, selain untuk para masyarakat yang sekedar ingin berjalan-jalan atau bersantai sejenak melepas penat sambil mengajak anak-anaknya bermain tanpa harus mengeluarkan uang. Terkadang rehat sejenak itu perlu untuk sekedar membuat pikiran agar tetap waras untuk menghadapi segala problematika kehidupan. Jadi taman kota itu sangat di perlukan dikala hampir semua lahan sudah jadi gedung-gedung bertingkat, setidaknya bisa memberi banyak manfaat untuk masyarakat. Masih banyak orang yang kadang ketika membangun rumah atau gedung perkantoran tapi tidak memperhitungkan adanya serapan air atau tidak.
Aluna sedikit terkejut ketika mobil melaju ke arah yang berlawanan dengan jalan pulang.
" Loh..Bang, kok belok kiri? rumah kita kan ke kanan?" Zaidan tersenyum kemudian dia berkata" Kan kamu tadi ngajakin Abang ke toko kue. Masih kamu lupa, bukankah kamu tadi mau késana dan membeli puding kesukaan kamu. puding strawberry lapis coklat. Benarkan? sejak kecil kamu suka puding itu apalagi buatan Mama dan sekarang pun pasti kamu akan membeli itu." Zaidan terkekeh melihat Aluna yang tersipu, wajahnya bersemu merah ternyata Abangnya masih ingat makanan kesukaannya.
" Itu dia, jangan-jangan kamu sekolah di sini karena dekat dengan toko kue yang menyediakan makanan kesukaanmu." Zaidan berbicara tanpa menoleh pada Aluna yang memasang wajah cemberutnya karena dikatakan bersekolah disini hanya karena ada toko kue yang menyediakan makanan kesukaannya.
Zaidan pun memarkirkan mobilnya di depan toko yang terlihat ramai sehingga menunggu mobil yang akan keluar terlebih dahulu baru kemudian dia dia biasa mendapatkan tempat untuk memarkirkan mobilnya. Keduanya pun turun dan masuk ke toko kue yang di sambut dengan senyuman oleh seorang pelayan di sana.
Setelah memesan beberapa kue dan puding Aluna dan Zaidan dipersilahkan untuk menunggu terlebih dahulu karena akan disiapkan terlebih dahulu. Terlihat banyak orang yang menunggu juga di kursi dan ada juga yang mengantri di kasir untuk membayar. Mungkin karena hari libur jadi toko terlihat sangat ramai walaupun hari biasa pun di jam tertentu toko ini selalu ramai pembeli.
Sepasang mata memperhatikan Aluna dan juga Zaidan yang terlihat mengobrol dan terlihat dekat. Ada rasa panas yang menjalar di hatinya menyaksikan keduanya yang terlihat akrab, bertanya-tanya dalam hatinya siapakah gerangan pria yang bersama dengan Aluna karena dia baru melihat pria itu. Yang jelas bukan kakaknya Aluna dia tahu persis karena beberapakali Aluna diantar kakaknya dan itu bukan pria yang sekarang ada di hadapannya. Ingin mendekat namun segan karena bahkan dengan Aluna pun tidak saling mengenal tapi rasa penasaran akan pria itu juga sedikit mengusik jiwanya. Namun sampai Aluna beranjak bersama Zaidan meninggalkan toko langkahnya seakan berat untuk mendekat kakinya seakan berat masih berpijak pada tempat yang sama hanya sepasang matanya yang terus bergerak memperhatikan keduanya sampai akhirnya mobil mereka menghilang dari pandangan dan seseorang menepuk pundaknya, diapun baru tersadar masih terdiam di posisi yang sama.
Happy reading....
__ADS_1
semoga kalian masih setia mengikuti kisah ini...