
Kasih like dulu yuk..
komen-komen juga boleh kok, author malah tambah semangat setelah baca-baca komentar kalian.. ^^
***
Kini Anita dan Zahra sudah menginjak semeser 7, mereka baru saja menyelesaikan KKN di salah satu desa terpencil di sekitaran lereng gunung Merapi bukan KKN di desa penari yang pasti.
Anita dan zahra sudah mengatur jadwal kuliah terbarunya untuk semester 7 ini. Hanya tinggal 1 mata kuliah lagi dan setelah berkonsultasi dengan dosen mereka, sang dosen mengijinkan Anita dan Zahra untuk langsung menyusun skripsi.
“kayaknya baru kemarin kita kenalan pas ospek ya Zah, tapi sekarang kita sudah nyusun skripsi..hiks hiks, time flies so fast. Bahkan kamu sudah menikah” ucap Anita pada sahabatnya.
Matanya mulai berkaca-kaca sekarang. Seketika mulut zahra terasa kelu. Dia tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun. Dia tidak menyangka akan memiliki persahabatan yang sedalam ini dengan Anita.
Akhirnya Zahra hanya bisa memeluk Anita. Mereka berpelukan cukup lama. Seolah tahu kegundahan Anita. Bahwa ucapannya tadi berarti mereka tidak akan lagi bertemu, bergurau bahkan berselisih dengannya. Karena selain Zahra akan kembali ke Palembang dia juga akan mengabdi sepenuhnya pada suaminya. Tidak akan semudah sekarang jika akan saling menemui.
“kamu juga cepatlah menikah, biar besok pas wisuda sudah ada suami. Bukan cuma didampingi orang tua aja.” Ucap Zahra di dalam pelukan mereka.
PLAKK
Satu tamparan mengenai lengan Zahra.
__ADS_1
“aduh..sakit tau!!” pekik Zahra seraya mengusap lengannya yang terasa perih. Zahra terkekeh pelan karena masih menahan sakitnya.
“menikah-menikah.. gimana mau nikah kalau calon saja tidak punya..huaaaa..” ucap Anita histeris. Kakinya menghentak lantai sampai hampir retak.
Tenanglah readers, Anita sedang mendramatisir keadaan dirinya. Hehe.
“Tinggal bilang sama mas Hanif suruh segera lamar. Kamu juga mau-maunya digantung tanpa status gitu. Apa perlu aku yang ngomong?” Zahra serius dengan ucapannya. Jikalau sahabatnya itu butuh bantuan, dia siap berada di garda depan.
Wajah Anita kini berubah sendu, membenarkan ucapan Zahra tapi ia pun tidak berani bertindak apalagi menuntut kejelasan. Anita tahu betul kondisi Hanif seperti apa, sehingga dia tidak mau malah membebani Hanif.
“kalau jodoh nggak bakal ketuker kok..” Jawabnya sambil nyengir kuda.
Sudah sembilan bulan ini dia dan Hanif semakin dekat. Hanif juga menaruh perhatian lebih pada Anita. Tapi Hanif tidak menjelaskan status mereka bagaimana. Mengungkapkan perasaannya saja tidak.
“entahlah..” Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Anita. Dia sudah menyerahkan pada Allah, jikalau jodoh semoga segera didatangkan. Kalau pun tidak, semoga Anita diberikan keikhlasan untuk menerima dan dikirimkan jodoh yang lain yang lebih baik.
***
Bandung, Kota Kembang.
Gerimis menemani langkah Hanif menyusuri jalan menuju kampus. Ia berjalan sedikit tergesa, tangannya terus memegang bahu tas. Sore ini ia ada janji dengan dosen pembimbing tesis. Jika pengerjaan tesisnya lancar dan diterima, Hanif akan lulus satu semester lebih cepat dari seharusnya.
__ADS_1
Tok tok tok.
“assalamu’alaikum Prof..” Hanif mengucap salam setelah mengetuk pintu yang tidak tertutup.
“oh..Hanif, masuklah.” Tuntun Pak Deddy sang dosen. Lalu Hanif memasuki ruangan dosennya itu dan duduk di meja bulat menunggu sang dosen menyelesaikan pekerjaannya.
Dosen Pembimbing ini masih tergolong muda, usianya bahkan belum mencapai 40 tahun, namun telah berhasil menggondol gelar profesor di bidangnya.
Sore itu, Hanif dan sang dosen larut dalam pembahasan rumit. Hanif berulang kali mengangguk-angguk mendengar penjelasan sang pembimbing, sedangkan Pak Deddy asik mencoret-coret lampiran sementara tesis Hanif memberikan sedikit revisi. Sedikit menurut pak Deddy. Namun bagi Hanif itu sangat banyak.
Hampir dua jam Hanif menghabiskan waktu di ruang Pak Deddy. Saat adzan maghrib terdengar, pak Deddy sepakat mengakhirinya dengan banyak catatan yang harus diubah oleh Hanif.
Hanif memutuskan pulang ke kos nya, sepanjang perjalanan pulang ia terus menguap. Matanya mengatakan kepada setiap orang yang ditemuinya bahwa ia sangat lelah.
Setelah beberapa menit Hanif sampai di kamarnya. Ia berjalan menuju kamar mandi membasuh muka sekaligus mengambil wudhu. Lalu menunaikan sholat maghrib.
***
segitu dulu, bersambung dulu..
besok author akan up lagi yang lebih mendebarkan.. sabar ya.. hehe
__ADS_1