Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 28 - Rindu


__ADS_3

Pihak rumah sakit memutuskan, membutuhkan satu minggu sampai Anita benar-benar pulih lalu dilanjutkan rawat jalan dan juga terapi selama satu bulan. Selama dirawat di rumah sakit, Zahra berusaha setidaknya dua hari sekali berkunjung.


Hari ini Zahra akan menjenguk Anita. Saat hendak masuk ke kamar rawat milik Anita, mama Anita memanggilnya. Mama Anita baru saja kembali dari kantin untuk membeli makanan.


“nak Zahra, sini sebentar..” titah mama Anita. Kemudian mereka duduk beruda di ruang tunggu tidak jauh dari kamar rawat Anita.


“ada apa tante?” tanya Zahra. Ia merasakan kebingungan dan kesedihan dari tatapan mama sahabatnya itu.


“apa Anita sedang ada masalah sebelum kecelakaan ini terjadi?” tanya mama Anita pelan, hampir berbisik.


“setahu Zahra tidak tante. Kenapa memangnya tante?”


“tante beberapa kali melihat Anita menangis saat sendirian. Dan juga sering melamun. Tante sudah bertanya padanya, tapi Anita hanya menggeleng lalu bilang hanya rindu kampus dan kamu. Tapi kan kamu hampir setiap hari kesini nak.. dan Anita tidak biasanya seperti ini.” Ucap mama Anita resah. Tatapannya memelas dan hatinya bak teriris saat melihat sang anak melamun dan tiba-tiba menangis. Zahra masih terdiam. Mereka sama-sama diam.


“tante..” panggil Zahra memutus lamunan.


“ya?”


“boleh Zahra berbicara berdua dulu dengan Anita?”

__ADS_1


“silahkan! Semoga dengan kamu Anita mau terbuka ya, tante sangat khawatir.. tante akan tunggu disini.” Ucap mama Anita sambil mengusap lengan Zahra.


“baik tante, Zahra masuk dulu..”


Zahra berlalu, masuk menemui sahabatnya. Di kamar kelas 1 itu, ia membuka pintu sedikit demi sedikit, pelan agar Anita tidak terganggu. Ia mengamati Anita terlebih dahulu. Dan ternyata benar apa yang dikatakan mama Anita. Anita tengah melamun, bahkan kini pipinya basah karena air mata mengalir tanpa henti.


“assalamu’alaikum..” sapa Zahra pelan agar Anita tidak terkejut.


“wa’alaikumssalam” Anita menjawab dengan suaranya yang parau. Tangannya mengusap air mata itu lalu tersenyum simpul ke arah Zahra.


“Aku bawakan nasi padang dari tempat langgananmu..” ucap Zahra sambil meletakkan bungkusan nasi di atas nakas.


Zahra menyibakkan gorden agar cahaya matahari masuk di kamar itu. Pemandangan hijau di luar sana juga akan membuat Anita sedikit tenang, meski Zahra masih tidak tahu apa yang mengganggu pikiran Anita. Lalu Zahra duduk di sofa kamar itu. Ia mengeluarkan handphonenya. Seperti hendak menghubungi seseorang, sambil sesekali melirik ke arah Anita yang kini kembali melamun. Zahra kembali meletakkan handphonenya di atas meja.


Hening.


“Nit..” panggil Zahra.


“hmm..” Anita hanya berdehem tanpa menoleh ke arah Zahra. Pandangannya melesat jauh menembus jendela kamar.

__ADS_1


“Haruskah aku menghubungi mas Hanif?” tanya Zahra. Ia hanya menebak-nebak apakah lelaki itu yang sedang mengganggu pikiran Anita. Selama hampir dua minggu Zahra tidak tahu kabar tentang Anita dan mas Hanif. Anita tidak pernah bercerita.


Pertanyaan Zahra berhasil menyadarkan Anita, ia langsung berbalik menatap Zahra saat


mendengar nama lelaki itu disebut.


Kini, Anita menggeleng. Bersamaan dengan itu air matanya kembali tumpah, semakin deras.


“tapi kenapa kamu jadi seperti ini? Apa ada masalah selama aku pulang?”


Anita mengusap air matanya. Lalu mengambil air minum di atas nakas.


“aku tidak akan mau bertemu dengannya..” Anita membuka suara akhirnya setelah terdiam lama.


“iya, tapi kenapa? Ada masalah apa?”


“kami baik-baik saja. Aku hanya takut. Aku rasa aku akan kesulitan mengontrol diriku jika harus bertemu dengannya sekarang.” Ucap Anita lemah.


Anita tengah merasakan rindu yang dalam. Setiap kali ia membuka mata, maka air mata itu tumpah seketika. Entah kenapa justru ia merasakan rasa itu disaat terbaring sakit seperti sekarang. Mungkin bertemu dengan Hanif akan mengobatinya, namun hanya sekejap. Setelahnya, Anita justru hanya semakin menderita. Karena rindu itu belum halal baginya. Maka sebisa mungkin Anita akan menahannya sampai ia halal untuknya. Itupun jika Tuhan berkehendak.

__ADS_1


\~\~\~


__ADS_2