
Pagi ini langit sangat cerah. Sorot matahari memberikan efek pantulan pada embun-embun di dedaunan menambah semangat bagi Anita. Ia sudah membelah jalanan pagi-pagi sekali.
Anita berjanji akan mengantar Zahra menuju bandara, mereka sudah janjian akan bertemu di bandara. Hari ini adalah kepulangannya yang sudah direncanakan sejak dua bulan yang lalu.
Di kamar kos, Zahra sudah siap menuju bandara, dia tidak membawa banyak barang karena hanya pulang sebentar. Dia mengajukan cuti seminggu di kampusnya karena harus sesegera mungkin kembali ke rumah. Dua hari lagi adalah acara lamaran resmi dari keluarga Wildan.
Ya, setelah Zahra melakukan sholat istikhoroh beberapa hari, ia mendapat keyakinan dan hatinya sangat mantap untuk menerima lamaran wildan.
Flashback On
Dua bulan sebelumnya.
“nak, bagaimana keputusan mu?” tanya Abah di ujung telefon.
“bismillah, Zahra menerima lamaran Kak Wildan bah.” Jawab Zahra mantap.
“alhamdulillah, nak. Abah akan segera kabarkan pada keluarga nak Wildan.”
“tapi bah..” sahut Zahra ragu. “Zahra boleh mengajukan syarat terlebih dahulu?” Tanya Zahra melembutkan suaranya.
“syarat untuk nak Wildan? Kamu bisa tanyakan langsung padanya nanti.”
__ADS_1
“tidak. Zahra akan meminta pendapat abah terlebih dahulu.”
“baiklah. Katakan!”
“Zahra menerima lamaran ini, tapi untuk lamaran resmi nya Zahra meminta waktu sampai Zahra menyelesaikan ujian terlebih dulu. Sulit rasanya meninggalkan kuliah dalam waktu dekat ini bah.”
“hanya itu?”
“ada syarat yang lain. Tapi kali ini Zahra akan memintanya langsung pada Kak Wildan. Bagaimana bah?”
“baiklah Zahra. Nanti abah akan sampaikan pada keluarga nak Wildan, semoga mereka mau menunggu lagi. Yang penting kamu sudah menerima lamaran nak Wildan.” Ucap abah. Lalu abah mengakhiri panggilan setelah mengucap salam.
Kembali ke masa sekarang
Dengan diantar Sylvi, teman satu kos Zahra, mereka mengendarai motor menuju bandara. Jarak kos mereka dengan bandara kurang lebih 30 menit.
Sesampainya di bandara, Zahra dan Sylvi segera mencari keberadaan Anita. Anita duduk di ruang tunggu lobi bandara dengan koper di depannya kakinya. Dia membuka handphone nya saat terdengar dering panggilan.
“assalamu’alaikum, aku di ruang tunggu lobi.” Ucap Anita tanpa basa basi. Zahra yang menghubunginya. Sudah pasti menanyakan lokasi Anita saat ini.
Tak butuh waktu lama Zahra dan Sylvi muncul. Zahra heran melihat koper yang dibawa Anita.
__ADS_1
“kamu mau kemana? Kok bawa koper?” tanya Zahra.
“ikut kamu lah..” sahut Anita santai.
“serius?” wajah Zahra seketika berbinar. Sahabatnya itu akan ikut menemani perjalanannya dan sekaligus menyaksikan momen sakralnya.
“serius lah. Aku udah dapet ijin dari mama sama ayah kok.” Jawab Anita yang langsung dibalas pelukan oleh Zahra. Tiba-tiba air mata menetes di pipinya.
“makasih..” ucap Zahra, terdengar sekali bahwa ia menahan isak tangis. Anita langsung melepaskan pelukan itu.
Entah kenapa dia menjadi sangat sensitif kali ini, dan mengetahui Anita akan ikut ke Palembang menjadi kekuatan baginya. Ada rasa lega menjalar.
“hey kenapa nangis?” tanya Anita heran. Anita juga menatap Sylvi penuh tanya, sedangkan Sylvi hanya menggeleng lalu mengedikkan bahunya.
“sudah ih..ayo masuk. Sylvi makasih ya..” ucap Anita. Ia mengambil kopernya. Sedangkan Zahra masih mengontrol emosi nya. Beberapa kali menghapus air mata tapi air mata itu justru semakin deras mengalir.
“sama-sama, kalian hati-hati ya. Oiya boleh nanti kita video call pas hari H nya kan?” pinta Sylvi. Sylvi adalah orang terdekat Zahra diantara semua penghuni kamar kos.
“siap! Kamu juga hati-hati pulangnya..” Sahut Anita sambil mengacungkan jempol.
Bersambung..
__ADS_1