
HAI READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💞💞💞💞
LANJUT ***
Sarah langsung tertegun melihat dan mendengar perkataan Rino barusan,ia tak percaya ternyata kecurigaan nya dari tadi tidak beralasan.
"Dari tadi kamu salah paham terus ya,makanya selalu marah marah tidak jelas?" Tanya Rino memastikan dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Sarah.
"Sekarang masih mau marah lagi atau bagaimana?" Tanya Rino memastikan.
Sarah hanya menggeleng kepalanya,jujur ia tak enak hati pada pria bule dihadapanya itu.
Dari tadi saat bertemu ia selalu marah marah tidak jelas,bahkan tak segan segan memukul anak orang.
"Ya Tuhan kalau dia niatnya tulus,artinya yang mesum itu aku atau apa ya?" Batin Sarah.
"Heii kenapa kamu diam saja,lagi sariawan atau apa hem?" Tanya Rino memastikan.
"Ishh kamu nih kenapa jadi orang kepo sekali,padahal aku tadi kan lagi berusaha buat pendiam sebentar saja tapi ada saja gangguan nya!" Gerutu Sarah cemberut.
"Wah ini namanya Mukjizat karena kamu mau belajar jadi pendiam!" Sindir Rino membuat Sarah kesal dibuatnya.
"Hehe jangan marah kali aku kan hanya bercanda tadi,kalau marah terus nanti cepat tua lho." Bujuk Rino sambil tersenyum.
"Bisakah kita tidur mataku kayanya tersisa hanya lima watt deh!" Pinta Sarah pelan.
"Kamu sudah mengantuk?" Tanya Rino memastikan.
"Belum ngantuk tapi pengen tidur!" Sahut Sarah sambil memejamkan matanya.
"Itu mah sama saja kali apa bedanya,ya sudah ayo kita tidur aku juga sudah ngantuk parah nih!" Sahut Rino yang juga ikutan tidur disamping Sarah membuat wanita cantik itu menatap tajam kearahnya.
"Lho kok kamu malah tidur disini,ayo tidur disofa sana!" Perintah Sarah emosi.
"Dingin!" Ucap Rino manja.
"Bodoh amat,memangnya kamu pikir aku peduli begitu?" Tanya Sarah ketus.
__ADS_1
"Ya ampun dinginnya itu sungguh menyiksa sampai menembus tulang,apa kamu tega melihat aku mati kedinginan?" Tanya Rino yang berusaha mendramatisir keadaan.
"Iya juga ya,kalau dia mati kedinginan kan nanti aku juga yang bakal ribet karena dicurigai sebagai pelaku penganiayaan." Batin Sarah mau tak mau menuruti kemauan Rino yang aneh itu.
"Hem baiklah tapi ingat ya jangan macam macam,terus nih ada bantal guling pemisah awas saja kalau macam macam!" Ancam Sarah tajam.
"Ya palingan colek dikit doang kali jangan marah ya!" Bujuk Rino.
"Etdah bule memang dari dulu otaknya selalu isi begituan,walaupun sudah jauh dinegeri orang?" Sindir Sarah jengah.
"Jangan gitu dong,aku itu kan hanya mau jagain kamu doang." bohong Rino.
"Heh kamu pikir aku anak kecil begitu jadi harus dijagain,jangan alasan yang enaknya dikamu susah nya di aku!" ketus Sarah.
"Hehe menurutku itu bukan susah tapi demi kehangatan yang tiada tara." Goda Rino lagi.
"Terserah kamu saja aku mau tidur,awas kalau sampai macam macam bakal kupenggal anumu biar kasih makan anunya." Ancam Sarah.
"Baik yang mulia!" Sahut Rino sambil tersenyum.
Keduanya tertidur dalam keadaan saling membelakangi,akan tetapi Rino gagal fokus dengan keadaan risleting Sarah yang tidak dikunci.
"Oh God kok bisa sih aku dipermainkan begini,kalau modelan begini mah bisa dilihat tapi tidak boleh dipegang." Gerutu Rino dalam hati.
Sarah pun seolah lupa dengan keadaan baju bagian belakang miliknya,terpampang jelas punggung mulus dan bra berwarna hitam.
"Hemm Otw." Sahut Sarah yang terdengar seperti gumaman saja.
"Aku bisa minta tolong?" Tanya Rino meminta izin.
"Apa lagi sih?" Ketus Sarah.
"Kamu tidurnya menghadap aku saja,soalnya godaan nya sungguh memikat!" Pinta Rino dengan suara terdengar serius.
"Lho memangnya aku kenapa?" Tanya Sarah bingung.
"Baju bagian belakang kamu tidak ditutup makanya adek kecilku jadi bangun " Sahut Rino membuat Sarah terlonjak kaget.
Betapa malunya Sarah ketika mendengar perkataan Rino barusan,kenapa dirinya melupakan hal yang penting itu.
"Ya ampun kalau dia punya pikiran aku wanita mesum gimana dong,Mana malunya minta ampun."Sarah merutuki kebodohan nya tadi..
"Eh itu tadi tidak bisa kukasih naik soalnya tangan ku tidak sampai." Sahut Sarah malu malu.
"Kenapa tidak minta tolong?" Tanya Rino bingung.
__ADS_1
"Idih aku mah ogah minta tolong sama makhluk jenis kaya kamu,yang ada pasti gunakan kesempatan dalam kesempitan." Tolak Sarah.
"Daripada kamu setengah telanjang begitu?" Tanya Rino sinis.
"Idih ogah,yuk tidur hal ini tak masalah." Sahut Sarah santai.
Akan tetapi Rino langsung mengukung tubuh Sarah,setelah itu ia mengangkat tubuh Sarah sedikit keatas dan langsung mencari bagian baju belakang dan setelah didapatnya langsung menariknya keatas.
"Lain kali kalau dibilangin jangan melawan,sekali kali jadi wanita penurut boleh kan?" Tanya Rino.
"Eh itu makasih." Sahut Sarah gugup.
"hem sama sama." Ucap Rino lalu segera mengambil selimut dan menutup selimut seluruh tubuhnya seperti mumi.
"Aku bisa gila kalau begini terus,mana tadi dadanya lumayan juga sih nempel dipunyaku beberapa menit saja."Lirih Rino dalam selimut memaksakan matanya agar terpejam.
Sarah yang aslinya kalau kepala sudah sentuh bantal langsung teler,tak peduli dengan keadaan sekitar yang penting bisa tidur.
Keduanya tertidur dengan posisi saling membelakangi,entah apa yang terjadi keesokan paginya biar Tuhan saja yang tahu.
Dikamar sebelah Silvia sedang mengumpat tak jelas,bagaimana tidak seluruh permukaan leher mulusnya habis dianiaya suami sendiri.
Kalau hanya satu mungkin masih ditoleransi,astaga ini sudah seperti baru habis dimangsa drakula.
Penuh dengan bekas kiss mark,yang Davin dengan enteng menjawab itu adalah mahakarya ciptaannya.
"Nasib nasib punya suami kok gini amat ya,kalau ada waktu bisa digarap sampai habis.Ini lama lama aku jalannya pake kursi roda,supaya nanti dia nya puas." Sungut Silvia.
"Sayang kamu masih didalam?" Tanya Davin memastikan.
"Hemm." Ketus Silvia.
"Ngapain ini udah mau setengah jam lho?" Tanya Davin penasaran.
"Lagi nyamar jadi puteri duyung." Sahut Silvia asal.
'Lho kok bisa,perasaan tadi saat main kamu normal kok?" Tanya Davin heran.
"Barusan soalnya takut dimangsa lagi,karena sekarang tuh dikamar ini sudah ada penghuni baru yaitu drakula." sindir Silvia membuat Davin sadar jika dari tadi itu merupakan sindiran secara halus untuknya.
"Yang,kamu mah tega?" Sungut Davin didepan pintu.
Silvia yang sudah selesai membersihkan diri memilih untuk keluar kamar mandi,ia cuek bebek saja ketika melihat Davin sedang berdiri menunggu dirinya.
"Minggir jangan halangi jalanku,badan sudah kaya buntalan karung goni tapi masih percaya diri terus." sindir Silvia.
__ADS_1
"Lho kok gitu,biar begini tapi suami kamu lho?" Goda Davin.
"Bodoh amat!" ketus Silvia.