
HAII READER KU TERSEYENG JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
LANJUT ***
Sarah merasakan tidurnya yang sangat nyaman,mungkin karena ada satpam tanpa gaji yang sedang menjaga dirinya.
"Kenapa melihat dia tersenyum dalam tidur aku tidak bisa marah ya,padahal dia lagi senyum karena orang lain?" Tanya Rino monolog sambil menatap intens kearah Sarah yang tertidur pulas.
Memang benar kata orang ,jika perasaan cintamu lebih besar dari rasa bencimu maka dipastikan apapun kesalahannya pasti ada kata maaf.
Melihat wajah damai Sarah saat tertidur membuat Rino juga tertular mengantuk ,daripada ia duduk patok seperti Ayam memilih ikutan tidur .
Karena ketiduran diatas kenyamanan bahkan keduanya sampai lupa waktu,Sarah pun tak kalah memeluk tubuh Rino dengan erat.
"Kenapa gulingku ada nafasnya?" Tanya Sarah dalam hati.
"Nah itu beneran kan ada rambutnya ,perasaan boneka ku saja lebih kecil!" Sambung Sarah lagi.
Ia akhirnya membuka matanya dan melihat benda apa gerangan yang berada didekatnya itu,oh tidak ternyata benda itu adalah manusia.
"What,ini makhluk kok bisa ada disini perasaan tadi sudah pulang deh?" Tanya Sarah pelan.
Akan tetapi saat hati ingin membangunkan Rino,tangan itu hanya berhenti diudara.Dipandangi wajah Bule tampan nan membahana itu,terpukau dan menawan untuk dipandang.
"Ya Tuhan ternyata aku baru sadar nih orang tampan juga." Gumam Sarah pelan.
Sarah kini menggantikan pekerjaannya yaitu memandangi wajah Rino,terlihat sungguh menggelikan akan tetapi terdapat ketulusan disana.
"Kenapa aku jadi bodoh ya saat melihat dia,apa aku tipe wanita murahan begitu?" Batin Sarah.
Ketika merasa apa yang dilakukan nya salah,wanita cantik itu memilih masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan Rino jangan ditanya lagi,mungkin gantian Sarah memimpikan Eonie cantik membahana.
__ADS_1
Berbeda dengan Davin dan Silvia yang pergi kerumah orang tua mereka,akan tetapi karena sunyi membuat keduanya merasa heran.
"Kok sunyi ya disini ,memangnya Mereka kemana sih?" Tanya Davin pelan.
"Iya kok tidak ada orang,perasaaan Mama kan masih cuti karena sakit kemarin itu kan?" Sahut Silvia akan tetapi setengah bertanya.
"Aku hubungi Papa dulu ya!" Ujar Davin lalu segera mengeksekusi benda persegi ditangan nya.
Tut tut tut
"Hallo..
"Iya Hallo Pa,rumah kok sunyi?" Tanya Davin penasaran.
"oh kita ada keluar ,kenapa memangnya?" Tanya Dika memastikan.
"Aku sama Via ada didepan rumah nih,tapi kok sunyi memangnya Papa sama Mama kemana sih?" Tanya Davin lagi.
"Ada dirumah sakit mau check up keadaan Mama kamu,sama Lika dan Alan juga." Jelas Dika.
"Mama baik baik saja kan?" Tanya Davin lagi.
"Kita nyusul ya!" Pinta Davin karena cemas memikirkan keadaannya Yuli.
"Eh jangan lebih baik kamu pergi cek perusahan,soalnya Rino lagi keluar katanya mau cari jodoh." Tutur Dika dari seberang.
"Aigo tuh bule nyasar lama lama bikin kesal saja,sudah tahu jodoh nya tidak disiapkan Tuhan masih saja manisu." Omel Davin.
"Ya mau bagaimana lagi,kalau Papa omelin tuh anak nakal pasti bakal dimarahi Mama kamu." Gerutu Dika.
"Ya sudah Pa,aku cari si kampret dulu!" Pamit Davin.
Setelah panggilan itu terputus ,terlihat Davin memegang tangan istrinya untuk menuju mobil.
Silvia masih memasang wajah penasaran dengan apa yang terjadi ,Davin pun paham akhirnya saat mobil sudah jalan baru dirinya menjelaskan apa yang terjadi.
"Papa lagi anterin Mama ke rumah sakit ditemani Papa Alan sama Mama Lika!" jelas Davin pelan.
"Mama masih sakit ya jadi harus ke rumah sakit segala ,lebih baik kita nyusul saja deh dari pada penasaran." Saran Silvia.
__ADS_1
"Tapi Papa minta kita ke kantor ,karena Rino lagi cari jodoh katanya." Davin menyampaikan pesan Dika tadi.
"Aduh Rino ini memang ya keterlaluan ,dari kemarin sampe tadi pagi sudah nempel kaya perangko eh sekarang masa ulang lagi." Gerutu Silvia kesal.
'Nah maka dari itu lebih baik kita pergi cari tuh bocah ,setelah itu bawa dia ke kantor. Lagian perusahan kan miliknya dia,haruslah belajar tanggung jawab dengan apa yang dikasih sama orang tua." Omel Davin.
Dika dan Yuli sepakat untuk memberikan harta mereka secara adil merata,tak peduli dengan status Rino yang hanya sebagai anak angkat.
Rino akan mewarisi harta kekayaan keluarga Hadiwinata,sedangkan Davin akan mewarisi keluarga dari Mamanya dan orang tua Silvia.
"Kita kerumah Sarah Yuk,aku yakin tuh kampret pasti sudah kesana!" ajak Silvia.
"Nah itu bagus biar sekalian aduin ke orang tuanya Sarah,biar tuh bocah sekalian di hajar sama Papanya Sarah yang tampangnya sangar tapi takut istri!" Sahut Davin berapi api karena merasa ada sebuah ide memukul telak Rino.
Eva dan Heri sekarang sedang berada diperusahan mereka yang bergerak dibidang perhotelan dan industri bahan tekstil.
Para pegawai menatap Eva dengan tatapan yang sulit diartikan,apa karena iri atau kasihan bingung menjabarkan nya.
"Nyonya Eva kasihan ya,punya suami kaya tapi tidak ada manis manisnya." Bisik Salah satu resepsionis yang berada disitu.
"Ya mau manis bagaimana ,sedangkan tampang Tuan Heri seolah ingin menerkam orang hidup hidup." Temannya menimpali.
"Tapi anak mereka cantik banget lho,aku saja sampe pangling." Mereka memuji Sarah.
"Nah itu namanya merubah garis keturunan,masa mau jelek terus apa kata dunia ini?" Sahut Salah satu staff yang kebetulan lewat.
"Hehe ,aku kayanya ingin juga deh merubah garis keturunan biar hanya one night stand sama Oppa korean." Ucap Chika sekertaris Heri yang kebetulan disuruh keluar membeli kue tiramizu di seberang jalan.
"Hadeuh itu mah namanya untung di dia ruginya di kami,main buang isi eh botolnya dibuang sembarangan.Kamu pikir urusin anak dengan menjadi single Mom itu gampang apa?" Sinis Resepsionis itu.
"Ya ya,jangan cemberut gitu dong melihatnya aku jadi pengen muntah." ejek Chika.
'Kamu disuruh Tuan Heri ngapain ,kok bisa malah terdampar disini?" Tanya pegawai lainnya membuat Chika menepuk pelan jidatnya.
Ia tahu pasti sebentar bakal kena amukan dari Bos nya itu,lagian kok bisa ya dirinya sampai pikun kalau sebenarnya dirinya masih punya pekerjaan lain.
"Mati aku,sebentar bakal pasang lakban ditelinga biar jangan copot!"Gumam Chika pelan dan hanya mendapat tawa dari teman temannya yang lain.
Bukan rahasia umum lagi,bagaimana cara mengamuk Heri kalau sampai Chika berbuat salah .Bahkan ia akan diceramahi jika ada kesempatan ,sungguh cobaan yang sepadan dengan gaji yang didapat.
__ADS_1