
Fardhan Kesuma Wijaya, pria keturunan Arab dari pihak Ayah dan terlahir dari seorang ibu asli Jawa. Berparas tampan dan banyak di sukai para gadis. Seorang yang berpendidikan tinggi lulusan universitas Islam negeri, mempunyai ilmu agama yang mumpuni. Dia lah pria yang di sukai Ainun. Fardhan adalah lulusan pesantren Ar Rahman milik Almarhum kakek Ainun yang kini di kelola ustadz Mukti yang tak lain adalah ayah dari Ainun Chandani Dulu Fardhan dua tingkat diatas Ainun, tak ada ikatan diantara keduanya namun ada kata yang pernah terucap ketika mereka dipertemukan kembali ketika Fardhan datang ke pesantren untuk membaktikan diri dua tahun lalu tepat ketika itu Ainun pulang karena sang ibu yang sakit dan ingin bertemu. Memang tidak ada janji namun kata itu terucap begitu saja di mulut Fardhan yang mengatakan akan datang bersama keluarga untuk meminta Ainun jadi miliknya "jika Allah menghendaki" katanya waktu itu. Namun tak ada pesan apapun hingga hari ini. Pria itu menghilang bak debu yang sudah diterbangkan angin tak pernah ada kabar beritanya lagi. Padahal biasanya dia selalu menyempatkan untuk datang ke pesantren entah itu memberikan donasi ataupun hanya sekedar menghadiri acara ataupun kajian. Tapi setelah hari itu dia seakan lenyap tak berjejak. Berbulan-bulan Ainun sudah kembali dalam menyelesaikan pendidikannya namun tak ada tanda bahwa laki-laki tersebut melaksanakan ucapannya kala itu. Pun sebelumnya pun tak ada pesan atau apapun lagi. Tapi ketika Ainun mengingat kembali kata-kata yang diucapkan Fardhan kala itu " jika Allah menghendaki" kata-kata itu terus terngiang di telinga dan seolah-olah nampak dalam pikirannya. " Ya mungkin bulan Allah menghendaki dan ternyata ini memang takdirnya menerima pinangan yang datang dari pria baik yang seperti dikatakan ayah." Ainun bergumam seorang diri. Dia berkali- kali meyakinkan dirinya bahwa pilihannya sudah tepat. Namun keraguan di hatinya masih tetap ada, tetap melekat. Entah keraguan atau perasaannya yang dia pupuk untuk Fardhan yang memang tidak bisa hilang dari sana.
Tiba-tiba Ainun ingat kata-kata Abi nya beberapa bulan yang lalu ketika menasihati adik sepupunya yang ingin menolak sebuah lamaran baik dari seorang putra kiyai dari Malang dengan alasan sudah mempunyai kekasih. Ya memang benar-benar adik sepupunya itu sungguh membuat para orang tua kesal. Secara terang- terangan Daisy mengatakan bahwa dia telah mempunyai pacar dan sudah berhubungan selama dua tahu lamanya. Ketika itu Daisy yang tidak lain adalah anak dari Adrian tengah duduk di bangku kuliah semester awal namun sudah ada yang melamar anak kiyai pula dan itu membuat keluarga besar bahagia namun anak itu malah ingin menolak beralasan sudah punya kekasih yang telah dua tahun menjalani hubungan tanpa ada yang tahu, membuat para tetua di keluarga mengucapkan istighfar.
Ustadz Mukti pun kala itu maju dan bertanya " Apakah kamu tahu siap perempuan yang ingin dinikahi Rasulullah pertama kali, waktu itu Belia belum menjadi seorang nabi?" tanya ustadz Mukti.
" Khadijah ataukah Aisyah?" Daysi menjawab namun seperti tak yakin dengan jawabannya.
__ADS_1
" Bukan" ustadz Mukti menjawab dengan tegas.
Ainun tersenyum kala itu saat melihat adik sepupunya mengernyitkan dahi, sepertinya sedang memikirkan nama perempuan yang menjadi istri- istri nabi. Namun akhirnya menyerang. Daisy menggelengkan kepalanya sambil tertunduk. Dan ustadz Mukti pun menjawabnya.
" Ummu Hani.'
" Jika nabi saja tak mampu memilih jodohnya sendiri. Mengapa kamu bersikeras akan memilih pasangan hidupmu sendiri dan sudah merasa yakin dengan keputusanmu, ingat kehendak Allah itu yang terbaik."
__ADS_1
Dan kata-kata itu yang membuat Daisy akhirnya luluh dan menerima pinangan kala itu. Dan kini mereka sudah menikah dan hidup bahagia pada akhirnya. Kenangan itu membuat Ainun tersenyum bahagia mengingat bagaimana kisa adik sepupunya itu. Dan kenangan itu pun semakin memantapkan hati ya bahwa ini adalah yang terbaik. Karena takdir di tentukan oleh sang pencipta bukan oleh yang diciptakanNya. Adzan Maghrib pun berkumandang membuat Ainun beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelah malaksanakan kewajibannya Ainun bergegas menuju pesantren karena akan mengajarkan les mengaji pada anak- anak di sana.
Rencana pernikahan pun sudah mulai dibahas dan akan segera di persiapkan. Arby maupun Ainun menyerahkan semuanya pada orang tua juga keluarga kedua belah pihak. Namun Arby meminta sekali saja dipertemukan dahulu dengan Ainun. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya yang memang tidak bisa ia tepis begitu saja karena Ainun yang menolak nadzor dengannya. Dan Arby tidak mendapat jawaban yang tepat makanya dia meminta sekali lagi. Takutnya ada sesuatu yang memang membuat Ainun tidak mau bertemu dengannya. Arby takut akane jadi masalah untuk pernikahannya dikemudian hari.
Akhirnya Ainun pun setuju dan akan ditemani oleh masing-masing dari pihak keluarga. Mereka berdua pun akan dipertemukan. Arby pun sepertinya tidak sabar menyambut esok hari. Sekian lama hanya bayangan Ainun yang dahulu yang selalu terlintas entah Ainun yang sekarang ini seperti apa, yang pasti masih secantik Ainun yang dulu.
Bahkan Zaidan pernah menggodanya bahwa Ainun yang sekarang terlihat gemuk dan wajahnya juga berbeda dengan yang ketika kecil dulu.
__ADS_1
Namun Arby mengatakan bahwa dia akan tetap memilih Ainun karena cantik itu relatif yang paling utama itu hatinya. Ucap Arby kala itu dia memang sebegitu yakin dengan gadis yang bernama Ainun sampai tak pernah berpaling pada gadis yang lain.Arby begitu mantap dengan pilihan hatinya.
Happy reading 💜💜💜