
Walaupun mendung nampak menggelayut, namun tidak mengurangi kebahagiaan dua insan yang akan saling mengucap janji suci dalam ikatan pernikahan beberapa jam lagi.
Janur kuning sudah melengkung, dengan kanan kiri dilengkapi pohon pisang beserta buahnya yang telah menguning, khas adat jawa.
Di depan, pelaminan penuh dengan hiasan bunga-bunga hidup. Wangi-wangi semerbak bunga bercampur dengan potongan daun pandan yang berserak dijadikan alas untuk taman kecil mengitari air mancur disana.
Lagu-lagu khas pernikahan mengalun melalui soundsystem sewaan. Pagi itu lagu Brian McKnight-Marry Your Daughter sebagai backsound kala rombongan Hanif dan keluarga besarnya tiba lebih awal, karena Hanif harus ikut di make up.
Semua orang tengah bersiap. Termasuk Anita. Prosesi akad akan yang diselenggarakan pukul 09.00, sedangkan saat ini masih pukul 07.30. masih cukup waktu bagi MUA untuk menyempurnkan polesannya di wajah sang mempelai perempuan.
Anita mengenakan kebaya putih tulang dengan hijab panjang sedada. Di kepalanya disematkan mahkota perak dengan detail klasik untuk menambah kesan mewah namun elegan. Ditambah riasan natural yang MUA poleskan yang akan memikat semua mata pagi itu.
Anita masih menunggu di dalam kamarnya. Hingga kata SAH telah diucapkan, barulah Anita akan keluar untuk pertama kali menyandang status sebagai istri untuk Hanif.
Di luar, Hanif menggunakan warna baju senada Anita. Memakai peci putih dengan kalung melati di lehernya. Semakin tampan.
Hanif telah siap. Duduk di depan meja menghadap dua orang lelaki, ayah Anita dan satu petugas dari KUA. Bapak duduk di sebelah kanan Hanif bersama satu saksi dari pihak Hanif. di sebelah kiri petugas KUA duduk ketua RT dan satu saksi lainnya dari pihak Anita.
Simbah duduk di sebelah mama Rani di belakang Hanif, paklek, Hanna dan Hanum adek Hanif duduk di sebelah kanan simbah berjejer.
Setelah Laki-laki yang disebut Anita sebagai cinta pertamanya selesai mengucap kalimat ijab, Hanif menyambut uluran tangan sang calon mertua, kemudian mengucap kalimat Qabul yang artinya bahwa Hanif menerima Anita dengan segala kekurangannya dan akan mengambil alih tanggung jawab atas Anita dari sang ayah. Dengan satu
tarikan nafas Hanif lantang mengucapkan kalimat qabul itu.
Kata SAH menggema dari beberapa orang saksi pernikahan itu. Lalu seorang petugas KUA memimpin menangkupkan kedua tangan lalu memanjatkan doa-doa untuk pernikahan Anita dan Hanif.
Di dalam kamarnya Anita berderai, air matanya tumpah ketika mendengar ucapan lantang Hanif mengucap janji untuk mereka. Lalu ikut menangkupkan tangan memanjatkan doa.
__ADS_1
Selesai memanjatkan doa, Anita dipanggil keluar untuk menampakkan diri dengan status baru sebagai seorang istri.
Kegugupan yang melanda Hanif sejak kemarin berakhir menjadi mual pada perutnya.
Dan kini perut Hanif semakin terasa mual menanti datangnya Anita seiring dengan debaran jantungnya yang meningkat karena kegugupan.
Dadanya berdebar melihat Anita semakin mendekat ke arahnya. Pun dengan Anita, tak kalah berdebar hingga keringat memenuhi telapak tangannya.
Mama yang menggandeng lengan kanan, beberapa kali harus mengusap tangan Anita dengan tissu. Melangkah pelan dengan wajah tertunduk menyembunyikan malu. Karena ia tahu sedari tadi Hanif ikut menuntun langkahnya melalui tatapannya.
Akad nikah telah selesai. Kata SAH sudah menggema, doa telah dipanjatkan. Kini giliran Anita mencium takzim tangan lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Lalu bergantian Hanif yang membalas mencium kening istrinya.
Semua mata yang menyaksikan adegan ini berkaca-kaca. Semua ikut terharu. Terutama Bapak Hanif. Air mata membanjir enggan untuk berhenti.
Melihatnya, Hanif ikut menitikkan air mata, lalu mendekati sang bapak dan memeluknya. Hanif menenangkan.
***
Di depan, di pelaminan, Hanif tak henti-hentinya menampakkan senyum cerah dengan terus menggamit tangan Anita. Sambil sesekali berbisik ke telinga Anita, entah berkata apa. dan setelah Hanif berbisik terlihat jelas senyum sipu memenuhi wajah Anita yang merona.
Dua jam mereka berdiri menyalami tamu yang bergantian memberikan selamat serta tak lupa berfoto ria. Hanif berbisik lagi di telinga Anita.
“capek?” Sangat dekat di telinga Anita.
Anita mengangguk, mengiyakan. Namun matanya berbinar dan senyum terkembang lebar. Sangat berbanding terbalik dengan jawabannya.
“dilepas aja sepatunya , pasti sakit itu..” bisik Hanif sambil melongok ke arah kaki Anita.
__ADS_1
Meski hanya memakai heels pendek 5 senti, tapi sudah dua jam Anita berdiri tanpa duduk. Ditambah ujungnya yang mengerucut sangat lancip, dengan membayangkan saja sudah membuat hanif ngilu di kakinya.
“dilepas aja ya, kasian nanti lecet kakinya..” bujuk Hanif lagi.
Melihat raut Anita yang sepertinya baik-baik saja justru membuat Hanif kelimpungan.
Anita patuh, ia melepas sepatu itu, lalu menutup kakinya dengan gaun kebaya yang menjulur panjang sampai melebihi kaki Anita.
Sudah lebih dari dua jam namun tidak ada tanda-tanda akan selesai acara itu. Tamu mama Rani dan Ayah Rudi bergiliran datang seolah tak ada habisnya.
Mama Rani melirik ke arah Anita. Wajahnya kelihatan sedikit memucat, dan lagi dia sedang tanggal merah pasti kondisi tubuhnya semakin lemah.
Mama Rani mendekati Anita dan Hanif.
“kalian masuklah ke kamar dulu dan istirahat. Acaranya sudah selesai..” perintah mama Rani kepada pengantin baru itu.
“tapi tamunya masih banyak ma, nggak apa-apa kalau kami masuk?” sahut Anita.
“nggak apa-apa, sudah sana masuk, istirahat..”
“makasih ma, kami masuk dulu..” ucap Hanif.
Hanif menggamit lengan kanan Anita dan menuntun Anita menuruni tangga pelaminan. Tangan kirinya membawa sepatu heels yang menyakitkan kaki istrinya itu.
**************
Bersambung...
__ADS_1
Please tinggalkan jejak kalian wahai pembaca yang budiman^^