
Dan kini, Hanif tengah menyesalinya, satu pesan permohonan maaf Kepada Anita tak kunjung berbalas. Sedangkan pesan sore tadi dari sang kekasih Hanif memutuskan untuk mengabaikannya. Tidak memberi balasan namun menyetujui kemauan sang kekasih.
“baiklah kalau itu maunya. Aku juga akan fokus kuliah dulu.” Gumam Hanif di kamar kos nya.
Lewat tengah malam, ada notifikasi pesan masuk di handphone Hanif. Hanif belum sempat memejamkan mata, ia harus lembur malam ini karena menyelesaikan tugas kuliahnya. Dia membaca pesan tersebut. Dari Anita.
Bisa kita bertemu besok? Mas ada waktu luang jam berapa? Saya ikut.
Hanif langsung membalas.
Bisa. Besok aku ada kuliah pagi dan sore. Ba’da maghrib aja kita ketemu di perpustakaan.
Di kos Zahra, Anita tersentak ternyata Hanif langsung membalas. Pasalnnya ia sengaja tidak membalas pesan Hanif yang tadi dan mengirim pesan janji temu tersebut tengah malam kepadanya. Anita masih takut salah ngomong dan Hanif kembali salah paham terhadapnya.
Ting ting ting. Beberapa pesan lagi masuk di handphone Anita.
Nit?
Kenapa pesanku yang tadi tidak dibalas?
__ADS_1
Sudah tidur ya?
Pesan ketiga kembali masuk ke handphone anita karena ia tak kunjung membalas pesan-pesan sebelumnya. Anita menghela nafas dan membalas.
Bicarakan besok aja ya, Mas. Saya nggak mau membahasnya lewat pesan atau telepon. takut masih ada salah paham nantinya.
Baiklah. Aku tunggu besok. Makasih Anita. Balas Hanif.
***
Hujan semalam benar-benar meruntuhkan awan hitam yang menggantung seharian. Pagi ini langit terlihat sangat biru, matahari bersinar cerah. Kehangatan juga memasuki kamar-kamar. Anita sudah bersiap pagi-pagi sekali, karena ada jadwal kuliah pagi. Sedangkan Zahra justru semakin meringkuk di atas kasurnya seolah berkata, 'Jangan Ganggu Aku'.
“pergi sana..” merasa terganggu, Zahra memekik dan tangannya menampik tangan Anita yang terus mengganggu.
Anita terkekeh, mengambil tas lalu beranjak keluar kamar.
“aku berangkat, cepetan bangun jangan lupa sarapan!” ucap Anita sedikit berteriak agar si empunya kamar terganggu.
Penghuni kamar lain banyak yang merasa iri dengan persahabatan Anita dan Zahra. Bahkan diantara mereka mengeluarkan candaan yang menggelikan.
__ADS_1
”seandainya Anita adalah suami nya Zahra pasti Zahra sangat beruntung memilikinya..hahaha”
kelakar mereka di kamar masing-masing.
***
Sebenarnya Anita sangat lelah dan mengantuk, karena baru saja tertidur setelah sholat subuh, bangun lagi jam 6 pagi. Di kampus, selama kuliah berlangsung, Anita beberapa kali meminta ijin ke kamar mandi mengambil wudhu untuk menghilangkan kantuknya.
“Nit, muka mu pucet banget tau? Kamu sakit?” tanya Dila teman sekelasnya dan Anita hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“tapi kamu pucet banget, kalau nggak kuat mending ijin pulang aja.” Ujar Dila
“iya, Nit..kamu pucet banget, ijin aja sih. Atau mau aku mintain ijin pak Agung?” Dian yang berada di dekat Dila ikut menimpali. Pak Agung adlaah dosen mata kuliah mereka pagi ini.
Tetapi, merasa masih kuat Anita kembali menggeleng.
“aku cuma kurang tidur aja, selesai kuliah ini aku pulang tidur kok, bentar lagi ujian semester aku nggak mau ketinggalan kuliahku.” Ujar Anita meyakinkan temannya.
Dila dan Dian saling bertatapan. Lalu mengulas senyum pasrah, memilih mengiyakan keputusan Anita.
__ADS_1