
“kenal banget. Dia dekat banget sama kamu.” Jawab Zahra. Anita semakin mengernyitkan keningnya. Menebak-nebak sendiri dalam hati. Tapi akhirnya dia menyerah.
“laki-laki yang deket banget sama aku, ayahku, kakakku sama mas Hanif doang. Jangan-jangan kamu suka juga sama mas Hanif? terus selama ini kamu diam aja karena tahu aku suka padanya? Astaga Zahra..” Anita nyerocos sambil menepuk dahinya.
Dia tidak memberikan kesempatan pada Zahra untuk mengkoreksi ucapannya. Zahra yang merasa tertuduh seketika menatap Anita tajam.
“Anita..” Zahra memekik memotong ocehan Anita dan berhasil membuat Anita bungkam. Dia menghela nafas panjang sebelum mengucapkan sebuah pengakuan.
“laki-laki yang aku sukai itu sebenarnya…” Zahra memberikan jeda. “kakakmu. Mas Azzam.” Tambah Zahra, lalu dia menunduk dalam menunggu reaksi dari Anita.
Lama. Zahra menunggu lama untuk reaksi Anita. Tapi dia tidak mendengar suara apapun keluar dari mulut sahabatnya itu.
Zahra mendongak melihat Anita. Ternyata Anita sedang menatapnya sambil membekap mulut dengan kedua tangan. Dan hal itu berhasil membuat Zahra salah tingkah.
Flashback on
Hari dimana pertama kali Zahra bertemu dengan Azzam. Sepulang Anita dari rumah sakit.
Tok tok tok.
__ADS_1
Assalamu’alaikum..
“wa’alaikumsalam..” ucap seseroang dari dalam rumah. Suara laki-laki. Zahra pikir suara tersebut adalah ayah Anita, om Rudi.
Ceklek.
“temannya Anita ya?” tanya laki-laki asing tersebut.
“iya..” jawab Zahra sambil mengangguk. Zahra memberikan tatapan penuh tanda tanya kepada laki-laki itu.
“aku kakaknya Anita. Ayo, silahkan masuk dulu. Duduk dulu dek.” Lalu laki-laki itu masuk ke dalam memanggil sang adik. Tak butuh waktu lama, Anita keluar dengan kruk.
“ini catatan kuliah kemarin dan hari ini. Dua hari lagi aku ke sini lagi mengambilnya.” Ucap Zahra sambil memberikan buku catatan kuliah. Agar anita tetap bisa belajar dan tidak tertinggal.
"ternyata kamu punya kakak? Aku pikir kamu itu anak tunggal. Soalnya kakakmu nggak pernah kelihatan.” tanya Zahra penasaran.
“oh, mas Azzam? Iya. Kakakku dosen di surabaya sekaligus melanjutkan S3 nya disana. Makanya nggak pernah kelihatan. Dia juga baru kemarin pulang, setelah mama ku menelfonnya memberi kabar kalau aku habis kecelakaan."
“ooo..” mulut Zahra membulat, tapi matanya menyelidik berusaha mencari sosok tampan tadi. Tanpa disadari Anita, Zahra mengembangkan senyum berbunga-bunga.
__ADS_1
Dua Hari kemudian.
Zahra kembali ke rumah Anita. Rutinitas seperti biasa, memberikan dan mengambil buku catatan. Tapi kali ini tujuan Zahra tidak hanya itu. Dia ingin melihat lagi sosok tampan yang telah mengambil hatinya. Mas Azzam.
Flashback off
“kalau kamu nikah sama mas Azzam berarti aku memanggilmu kakak ipar dong.. iiuuh” Anita menatap Zahra aneh. Sebenarnya Anita hanya menggoda Zahra, tetapi jika dibayangkan lagi seketika membuat Anita bergidik ngeri.
“apaan sih kamu.. mikirnya kejauhan wooiii..” sahut Zahra. Dia kesal dengan sahabatnya itu yang kalau ngomong tanpa pernah berpikir terlebih dahulu.
“bukannya tadi bilang ada yang mengganggu hatimu.. jadinya gimana? Kamu pilih mas Azzam atau orang yang melamarmu itu? Siapa namanya tadi?”
“Wildan. Aku belum bisa memutuskan. Aku bilang sama abah meminta waktu untuk mempertimbangkan. Dan tentunya aku mau sholat istikhoroh dulu untuk meminta petunjuk. Tapi abah hanya memberiku waktu beberapa hari..” Jawab Zahra.
“beberapa hari itu sudah cukup untuk meminta petunjuk Zahra, asal kamu berdoa nya sungguh-sungguh. Kasian juga kalau lelaki itu harus menunggu keputusanmu terlalu lama, bisa jadi dia malah melewatkan jodoh yang sesungguhnya gara-gara menunggumu.” Ujar Anita.
Ucapan Anita ada benarnya juga. Kasian Wildan jika harus menunggu terlalu lama. Zahra manggut-manggut menyetujui perkataan Anita.
Seketika itu juga Zahra beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Ia mengambil wudhu lalu memakai mukena dan melaksanakan sholat istikhoroh.
__ADS_1
Anita sudah beranjak menuju ranjang empuk. Tangannya lincah bermain handphone. Mengecek beberapa pesan masuk. Tidak ada pesan dari mas Hanif.
Tak butuh waktu lama Anita sudah terlelap, sementara Zahra terus bermunajat pada Sang Pemilik Hati.