
Zaidan yang tidak siap hanya bisa terdiam seperti patung, kaku dan lidahnya kelu tak sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya hanya menatap lurus kearah ruangan yang terbuka.
Zaidan begitu terkejut baru kali ini dia di peluk seorang perempuan yang bukan mahramnya, bahkan ketika dahulu saling berjanji untuk berkomitmen kelak tak pernah ada kontak fisik diantara mereka berdua jika bertemu hanya akan makan dan mengobrol saja itupun selalu di tempat umum yang ramai jadi kejadian ini begitu membuatnya terkejut perempuan yang dahulu Bahkan terlihat pemalu bisa melakukan hal ini, mungkinkah bebannya terlalu berat dia pikul. Satu sisi ingin membalas pelukan perempuan tersebut tapi sisi lain melarangnya mengatakan bahwa salah dan tidak boleh namun sisi lainnya mengatakan tak apa karena bisa dikatakan darurat untuk menenangkan orang lain yang sedang bersedih. Akhirnya hanya terpaku kaku untuk beberapa saat membiarkan kemejanya basah oleh tangisan perempuan yang masih selalu ada di hati dan pikirannya.
Aluna yang melihat kejadian tersebut hendak mendekat, dia tak ingin pemandangan seperti terlihat begitu lama oleh matanya, dia berasa marah karena merasa miliknya telah di sentuh orang lain. Tunggu dulu... Miliknya?? sejak kapan Aluna merasa memiliki Zaidan dan mengakui sebagai miliknya. Mungkin sejak kejadian beberapa menit lalu yang membuatnya berpikir seperti itu.
Perawat yang sejak tapi terdiam karena sama halnya dengan Zaidan dia pun terkejut dengan perlakuan perempuannya tersebut dengan atasannya tersebut, akhirnya perawat tersebut membantu Zaidan melepas pelukan dari Siren perempuan yang beberapa detik lalu bahkan menit tiba-tiba saja memeluknya.
" Sudah Mbak, kasian Pak dokternya nanti bajunya jadi basah karena air mata Mbaknya. Lagian adik mbak sekarang sudah stabil kondisinya" Ucap si perawat yang ternyata bernama Mira. Mira adalah perawat yang sering menemani Zaidan jika praktek atau kunjungan pasien.
Siren pun melepaskan pelukannya perlahan dia menunduk dan tersedu mulai menghentikan tangisnya walaupun masih tersedu.
Aluna pun yang akan mendekat menghentikan langkahnya, mengatur nafas dan merilekskan dirinya terlebih dahulu sebelum menemui Abangnya. Dia merasa harus menghentikan drama yang baru saja di lihatnya.
" Abang Disni?" Aluna mendekat berpura-pura dia baru melihat dan melewati tempat ini.
" Iya, Lun. Abang sedang ada pemeriksaan pasien." Zaidan terlihat sedikit gugup menjawab pertanyaan dari Aluna.
" Sus, saya ingin melihat keadaan adik saya..." Tiba-tiba Siren mengatakan ingin melihat keadaan adiknya pada Mira.
" Mari Bu saya antar ke ruangannya."
__ADS_1
" Saya permisi dulu dokter." Siren pun berlalu tanpa melihat pada Zaidan.
" Kenapa Bang? dia dan adiknya dirawat di sini?" Aluna bertanya seperti tidak tahu apa-apa.
" Iya...Ah tidak." Zaidan bingung hendak menjawab apa.
" Ih...Abang yang mana yang betul Iya apa tidak. Apa dia kenalan Abang?" Aluna sengaja bertanya hal itu ingin tahu apa yang akan di jawaban oleh Zaidan tentang perempuan tadi yang sudah mencuri pelukan pada Abangnya.
" Adiknya di rawat di sini karena kecelakaan namun dia ikut pingsan juga karena melihat kondisi adiknya yang drop. "
"Abang mengenalnya?" Sengaja Aluna mengulang pertanyaannya yang tidak di jawab oleh Zaidan.
" Dulu pernah satu kampus sama Abang ketika kuliah." Aluna pun manggut-manggut.
" Baiklah tunggu sebentar lagi, kamu boleh jalan-jalan atau menunggu di ruangan Abang."
" Di ruangan Abang saja. Aku cape berjalan-jalan." Aluna berlalu tanpa menunggu reaksi Zaidan yang menganggukkan kepala, namun Aluna tak sempat melihatnya karena berlalu dengan cepat dari sana.
Aluna berpikir bahwa Zaidan pun tak berbohong dengan mengatakan perempuan tadi adalah teman kuliahnya, namun hanya menutupi hubungan mereka saja, itu gak masalah lagian tadi di sana juga ada seorang perawat, tak mungkin Zaidan menceritakan masalah pribadinya di depan orang lain. Sekarang Aluna hanya ingin beristirahat sejenak di lantai paling atas tempat khusu untuk keluarga mereka bukan di ruangan Zaidan seperti yang dia katakan tadi. Biarlah nanti Zaidan mencarinya karena pastinya dia juga tahu ruangan tersebut. Jika tidak menemukan Aluna di ruangannya Zaidan pun akan mencari ke lantai atas rumah sakit'. Itu pikir Aluna.
Zaidan bergegas menemui Siren di ruang rawat adiknya. Ketika dia masuk Siren tengah duduk sambil memandangi adiknya yang terbaring dengan mata terpejam. Siren sempat terkejut dengan kedatangan Zaidan kΓ©sana.
__ADS_1
" Zaid??" Siren menautkan kedua alisnya.
Zaid adalah panggilan Siren pada Zaidan sejak dulu. Nama panggilan yang sangat di sukai Zaidan untuknya.
" Ya, aku. Aku ingin bertanya kenapa kamu menghilang waktu itu. Tanpa kabar. Zaidan berjalan mendekati Siren dan menatap perempuan tersebut meminta penjelasan.
Siren tertunduk, bingung harus menjelaskan apa. Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya pada pria di depannya yang menatapnya tajam.
" Maaf..." Akhirnya hanya kata itu yang terucap pertama kali dari mulutnya setelah beberapa saat terdiam. Menimbang antara menceritakan atau tidak kejadian yang menimpanya kala itu.
" Maaf... Untuk apa?. Apa untuk menghilangnya kamu atau untuk ingkarnya janji yang telah kita ucapkan bersama?" Suara Zaidan sedikit meninggi karena emosi. Tapi segera dia beristighfar dan mengusap wajahnya. Percuma untuk marah karena waktu yang telah berlalu tidak mungkin bisa diulang kembali.
" Apa aku harus menceritakan semuanya?" Ucap Siren. Kepala yang sejak tadi tertunduk diangkatnya perlahan menatap balik pria yang kini masih menatapnya namun dengan tatapan sendu walaupun masih terlihat sedikit ada emosi di sana.
" Harus." Zaidan menjawab dengan cepat. Dia ingin mendengar penjelasan Siren. Agar semuanya jelas dan dia tidak merasa terikat janji yang tak pasti dengan perempuan dihadapannya ini. Janji yang mereka ikrar kan berdua yang sampai saat ini masih mengikat hatinya untuk tidak bisa berpaling pada perempuan lain. Zaidan takut suatu saat Siren datang dan menagih janji itu walaupun sebenarnya Siren lah yang meninggalkan kala itu tanpa kata. Dan benar kali ini mereka dipertemukan kembali, Zaidan ingin melangkah ke depan bersama Siren ataupun entah dengan perempuan yang saat ini belum dia temukan. Zaidan hanya ingin kepastian terus atau berhenti.
" Baiklah jika itu yang kamu mau, aku pun merasa bersalah padamu sampai hari ini, aku tidak pernah berani menghubungi ataupun menemui mu. Di sini aku yang bersalah padamu. jadi maaf untuk semuanya." Siren pun kembali terisak sebelum menceritakan semua yang terjadi padanya sejak dia memilih menjauhi lelaki yang sangat dia cintai bahkan mungkin sampai saat ini dia masih mencintai pria ini. Bulan mungkin tapi memang masih dan berharap masih ada kesempatan kedua.
Happy reading..ππππ
jangan lupa like ,komen dan vote ya. terimakasih
__ADS_1
jangan lupa mampir ke karyaku yang lainnya