Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
episode 391


__ADS_3

HAII READER KU TERSEYENG JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU


LOPE U FULL


HAPPY READING YA GUYS


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


LANJUT ***


Davin menatap kesal kearah Mamanya ,karena sudah membuat istrinya ikutan mengerjai dirinya.


"Ada apa tadi suruh aku datang?" Tanya Davin.


"Biasa kau ini bisa duduk dulu kan,kalau tingkah seperti ini sudah seperti orang yang mau tagih utang deh?" Gerutu Yuli.


"Duduk!" Perintah Silvia jengah.


Mau tak mau kalau pawang sendiri yang menyuruhnya,Davin duduk akan tetapi wajahnya sungguh sangat tak mengenakan.


"Heii bocah wajah kamu kenapa jelek begitu?Bikin malu hasil ciptaan keturunan Hadiwinta!" Sindir Dika.


"Pa,jangan lupa ya itu juga merupakan ciptaan keluarga Adam Erlangga." Sungut Yuli tak mau kalah.


"Eitss tolong jangan lupakan aku,karena siapa dulu dong istrinya." Silvia menimpali.


Ketiganya tertawa membuat Davin pun akhirnya tertular juga,ia akhirnya ikutan tertawa juga.


Benar kata orang kalau kita tertawa maka orang yang berada disebelah kita akan ikutan tertawa.


"Ma Pa,tadi katanya ada sesuatu yang penting mau dibahas,kira kira ada apa ya?" Tanya Silvia penasaran.


"Oh iya hampir lupa,tuh gara gara suami kamu yang mukanya selalu ditekuk!" Yuli selalu saja menyalahkan putra nya itu.


"Haha,Yang kamu selalu saja melimpahkan kesalahan untuk orang lain." Goda Dika.


Davin hanya mendengus kesal ketika orang tuanya itu tidak tahu tempat untuk bermesraan,padahal keduanya yang masih muda saja pasti bakal tahu tempat.


"Bisa sadar tempat dan umur,karena disini ada orang lain juga!" Sindir Davin kesal.

__ADS_1


Akhirnya Dika pun memasang wajah serius,karena ia tahu jika putranya itu kalau sudah tak ingin bercanda maka harus dituruti.


"Baiklah Papa akan bicara serius kali ini,tolong jangan dipotong karena ini serius!" Pinta Dika serius.


Semuanya hanya diam tidak berkomentar,karena yang dikatakan Dika itu mirip sebuah kalimat yang tak ingin dibantah.


"Rino sekarang berada dikantor kan?" Tanya Dika memastikan.


"Iya tadi dijemput sama kami." Sahut Davin.


"Papa sama berencana mau mengenalkan dia ke rekan bisnis Papa,bukan bermaksud mau menjodohkan tapi hanya ingin menambah teman ngobrol untuk Rino." Jelas Dika serius dan hanya terdengar jelmaan nafas berat dari Davin dan Silvia.


"Papa melakukan ini semua murni hanya agar Rino tidak main main diluaran sana,jadi Papa minta kalian bantu bicara ya." pinta Dika.


Davin tahu dan sadar siapa yang disukai saudaranya itu,bukan kah sekarang bukan zaman siti nurbaya yang dipaksa menikahi datuk maringgi.


"Tapi Pah,Rino sudah besar lho jadi tidak perlu di perlakukan seperti itu.Nanti terkesan kita seperti memaksakan kehendak,kasihan dia yang merasa seperti kita tidak menyayanginya." Silvia menimpali.


"Nak,ayolah kalian itu pikirannya kritis sekali,orang tua mana yang tega sama anaknya." Gerutu Dika.


Davin hanya menghela nafasnya bingung harus bagaimana,ia tahu jika Dika dan Yuli pasti sudah memikirkan segala sesuatu dengan sebaik mungkin.


"Nanti aku usahakan untuk bicara padanya,kalau dia menolak itu urusannya sama Mama saja.Karena kalau Mama ngomong pasti dia tidak akan menolak,jadi tinggal tunggu saja si cunguk itu responnya bagaimana." Ucap Davin serius.


"Kamu ke kantor ya,biar langsung bicara ke Rino karena nanti malam kita harus pergi ke tempat wanita yang mau dikenalkan padanya."Pinta Yuli membuat Davin menatap tak percaya.


"Kenapa harus aku,Papa sama Mama kan bisa nanti kalau dia menolaknya gimana?" Tanya Davin heran.


"Kan ada kamu masa harus kami yang turun tangan lagi,terus gunanya kamu Apa?" Tanya Dika pelan membuat Davin benar benar emosi.


"Tapi Pah aku kan ingin berduaan dengan Istriku,masa sekali sekali menikmati waktu berdua dengan istri tidak boleh?" Sungut Davin.


"Kamu juga tidak mengerti dengan keadaan Papa,sudah tua begini harusnya kan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Mama kamu." Sahut Dika tak mau kalah.


"Etdah yang ada itu kebalikan nya Pah,yang muda harus semakin lengket biar selalu bersama sampai menua?" Tanya Davin sambil menatap sinis kearah Dika.


Yuli dan Silvia hanya bisa tersenyum saja,karena bingung harus bereaksi bagaimana lagi.


"Nak,kalian sudah makan kah?" Tanya Yuli setengah berbisik pada Silvia.

__ADS_1


"Sudah Ma,tadi sebelum kesini kita makan dulu." Sahut Silvia.


"Pokoknya kamu yang harus pergi ke kantor sekarang,dan usahakan caranya bagaimana agar dia mau!" Tegas Dika tak mau kalah.


"Tapi Pah,bisa tidak mengerti dengan orang yang lebih muda?" Tanya Davin.


"Oh maaf karena anak harus mengikuti kata orang tua jika tak mau dosa,lagian repotnya dimana kalau hanya pergi ke kantor?" Sinis Dika.


"Sore Semuanya!" Tiba tiba suara yang tidak bersemangat muncul ditengah perdebatan Davin dan Dika.


Degh


Yuli merasa jantungnya berpacu lebih cepat,dalam hati ia takut jika nanti Rino marah karena permintaan mereka.


"Ya Tuhan ini harus bagaimana ya,kalau dia marah apa nanti bakal pergi?" Batin Yuli cemas.


Semuanya diruangan itu terdiam,Davin yang merasa dirinya bakal diuntungkan memilih untuk menarik Silvia agar pulang.


"Yang kita pulang yuk!" Ajak Davin sambil tersenyum mengejek kearah Papanya itu.


"Eh kok malah pulang,ayolah Boy bantuin Papa dong masa harus berjuang sendiri?" Tanya Dika memelas.


"Bodoh amat,bukan nya aku belum punya anak jadi ngapain harus repot segala sih?" Tanya Davin sinis.


Dika hanya bisa mengacak gemas rambutnya,ia bingung harus bereaksi bagaimana.


"Ma,bantuin Papa dong!" Pinta Dika memelas.


"Nak kamu kok sudah pulang?" Tanya Yuli heran dan sama sekali tak peduli dengan pertanyaan dari suaminya itu,lagian bukan kah saat berbicara sesuatu harus dilakukan dengan tenang tanpa tertekan.


"Kalian itu kenapa sih,lagi menghindari sesuatu?" Tanya Rino heran kearah Davin dan Dika.


"Iya Mah,tadi setelah selesai meeting dengan klien langsung pulang kesini,soalnya kalau masih bertahan sedangkan otak tak bisa diajak kompromi mah sama saja." Sahut Rino kemudian.


"Hemm gitu ya." Ucap Yuli sambil tersenyum.


"Papa sama Avin kenapa?" Tanya Rino lagi.


"Tau ah Nak,ayo sana mandi setelah itu kembali kesini lagi,karena ada hal penting yang ingin kami bicarakan!" perintah Yuli.

__ADS_1


Begitulah aura seorang Ibu,ketika ia berbicara tak perlu kata kata kasar cukup keseriusan saja percaya lah buah hati kita pasti akan menurutinya.


"Iya Ma,aku keatas dulu ya.Oh iya kalian jangan coba coba pulang,karena jika hal itu terjadi jangan harap kalian malam ini t8dru nyenyak!" Ancam Rino.


__ADS_2