
halo hai, selamat malam readers..
Author sudah kembali dan up lagi bab baru Mencintaimu dalam Diam setelah beberapa hari author vakum karena sakit..
Terimakasih dukungan kalian dan doanya..
Pada bab ini, ceritanya kembali tentang Hanif dan ANita saat berada di Kulon Progo, kalau bingung sebaiknya bacanya diulang dari bab 71 ya biar nyambung..
Mohon tetap dukung terus ya.. kasih like, komen dan vote nya..
Selamat Membaca..
****
“Kita berangkat sekarang?” tanya Anita setelah melepaskan pelukannnya.
“mas tanya simbah alamatnya dulu sekalian pamit, kita bawa mobil saja nanti..”
Hanif berlalu menuju belakang rumah menyusul simbah yang kembali melanjutkan aktifitasnya. Anita mengamati punggung suaminya hingga tak terlihat lagi. Ia mengambil handphonenya di dalam tas, lalu mengetik sebuah pesan.
Tak berapa lama, Hanif kembali ke dalam rumah dengan wajah tak puas.
“sudah?” tanya Anita.
“sudah untuk pamitnya, tapi kalau alamatnya belum, simbah tidak tahu, lupa katanya karena sudah puluhan tahun tidak kesana.” Ujar Hanif sambil menggamit lengan Anita.
Bergelayut seperti anak TK sedang mengadu pada ibunya. Anita melihatnya hanya tersenyum.
“sudah Anita duga. Ya sudah yuk, ambil mobil kan? sekalian pamit ke mama lagi..”
“kan belum dapat alamatnya sayang..eh, ajak mama sekalian juga boleh ya, biar nemenin kamu nanti.”
“ya ampun mas, ada ini..” sahut Anita sambil menunjukkan handphonenya. Tapi Hanif juga sama sekali belum paham masksudnya.
“Anita sudah hubungi Hanna tadi, anita sudah dapat alamatnya. Ayuk ah, keburu sore nanti sampai sana..” Anita sudah tak sabar menghadapi Hanif yang sedang kalut hingga membuat berfikirnya lama.
__ADS_1
Sedangkan Hanif hanya terkekeh. Mereka sudah melaju menggunakan motor matic imut menuju kediaman ayah Rudi.
Sesampainya di rumah, Anita bergegas mencari mamanya. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir 12 siang, mama sedang istirahat di kamarnya setelah aktifitas berkebunnya.
“ma..” panggil Anita di depan kamar mamanya yang terbuka.
“kok sudah pulang? Katanya nginep? Kenapa? Bapakmu sehat kan?” seperti biasanya, mamanya yang bicara seperti tidak memerlukan titik dan koma.
“satu-satu mama nanyanya, Anita sampai bingung mau jawab yang mana dulu.”
“ok. Jadi kenapa kok nggak jadi nginep disana?”
“bapak nggak ada, ke magelang kata simbah. Begini ma…..”
Anita menceritakan semuanya kepada mamanya. Tentang kondisi ibu dari suaminya itu dan juga rencana Anita akan bertolak ke Magelang saat itu juga.
“mama mau ikut?” tanya Anita.
“boleh? Kalian tidak keberatan?” tanya mama meminta persetujuan.
“justru mas Hanif yang meminta buat ajak mama tadi.” Terang Anita.
“baik ma.”
Tepat 10 menit seperti yang diucapkan mama. Mama keluar dengan dengan pakaian sederhana namun tak menghilangkan keanggunannya.
Mereka segera bertolak dari Yogkayakarta menuju Magelang tepatnya lereng gunung merbabu dengan jarak tempuh kurang lebih 2 jam jika tidak terhalau macet.
Anita menggulir alamat di handphonenya menggunakan aplikasi maps setelah menerima lokasi yang telah dikirimkan Hanna.
Mereka dengan tekun mengikuti arahan dari mbak yang bersuara merdu di aplikasi maps tersebut.
“semoga tidak nyasar ya mas.. kalau lihat di sosmed itu, banyak yang nyasar gara-gara ngikutin peta ini..”
“kamu gimana sih, Nit. Tanya yang bener alamatnya dimana, kalau kita nyasar beneran gimana nanti?” sergah mama Rani. Mama yang duduk di belakang tiba-tiba gusar mendengar pernyataan dari anaknya yang absurd itu.
__ADS_1
Anita dan Hanif hanya terkekeh mendengar ucapan mamanya. Anita melirik suaminya, ia lega bisa membuat Hanif tersenyum kembali.
“semoga tidak ma, nanti kita nanya orang dulu sebelum masuk ke desa nya.” Ucap Hanif mencoba menenangkan sang mertua.
Setelah memasuki Magelang dan berjalan 30 menit ke arah lereng gunung, Hanif memutuskan berhenti sebelum benar-benar berbelok ke desa yang dituju.
“sebentar ya ma, Hanif tanya orang dulu..” ucap Hanif lalu dibalas anggukan oleh sang mertua.
Tak butuh waktu lama, Hanif sudah kembali ke dalam mobil.
“bener jalannya?” tanya mama begitu Hanif masuk ke mobil yang bahkan pintunya saja belum sempat ia tutup.
“iya ma, bener kok. Nanti sebelum masuk dusunnya kita tanya orang lagi..” jawab Hanif santai menanggapi kegelisahan mama mertuanya.
“hmm..”
“mama ih.. Tenang aja ma, kalau nyasar ya tinggal putar balek. Nggak usah repot..” timpal Anita yang sudah gemas melihat mamanya rewel.
“dasar kamu..”
Anita terkekeh semakin meledek mamanya lalu diikuti tawa dari Hanif.
Dengan masih berbekal instruksi dari operator maps online, Hanif menyusuri jalanan desa itu yang semakin lama semakin menyempit. Entah benar atau salah jalan yang dituju Hanif pasrah terus melajukan mobilnya.
Di kanan dan kiri hanya terlihat jajaran pepohonan tembakau yang tidak terlalu tinggi karena sudah masa panen sepertinya. Jalanan itupun lengang, sepi, hanya beberapa motor penduduk desa yang sesekali melintas hendak kembali atau pergi ke ladang.
Setelah beberapa menit terus melaju Hanif melihat Gapura Dusun tujuannya. Namun melihat jalanannya yang begitu sempit Hanif tak yakin jika mobilnya bisa lewat.
Hanif kembali kemudian turun. Mencoba menanyakan tentang alamat seseorang yang dituju kepada salah seorang petani di ladang tembakau.
“pak, nyuwun sewu..” sapa Hanif. (Pak, permisi)
“nggeh mas?”
“badhe nderek pirsa..." (mau tanya..)
__ADS_1
****
Bersambung..