
Beberapa hari kemudian, handphone Hanif sudah selesai di service. Hanif mengaktifkan handphone, dan puluhan pesan whatsapp langsung masuk ke handphone itu.
Ada 21 pesan dari Anita, dan 17 pesan dari teman lainnya. Notifikasi panggilan tak terjawab juga masuk. 24 panggilan tak terjawab dari Anita. Dan kini Hanif semakin lemas memikirkan kebodohannya. Lalu dengan cepat menekan tombol telfon. Menghubungi Anita.
“Assalamu’alaikum, mas Hanif? Ya ampun, mas kenapa? Dari mana aja? Kenapa berhari-hari telfonnya mati? Mas nggak apa-apa kan? Nggak terluka kan?” pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Anita. Anita tidak sanggup lagi menahannya. Entah apa yang dipikirkan Hanif tentangnya, masa bodoh.
“wa’alaikumsalam. Hehe.. aku baik-baik saja, Nit. Maaf sudah membuatmu khawatir..” ucap Hanif. Anita menghela nafas kasar.
“Anita, bolehkah aku menemuimu?” tanya Hanif setelah mereka saling diam cukup lama.
“emm..mas Hanif dimana sekarang?” tanya Anita.
“masih di kos.” Jawab Hanif singkat.
“cepat kesini, tugasmu banyak, kasihan anggotamu..” titah Anita tegas.
“saya di aula masjid. Assalamu’alaikum.” Tambah Anita lagi lalu memutus sambungan telfonnya.
Di kos, Hanif mendengar itu langsung melonjak dari atas ranjangnya, menyambar jaket dan tas lalu berlari menuju kampus. Terlalu lama jika harus mengeluarkan motornya dari garasi.
__ADS_1
Sampai di pelataran masjid, Hanif berhenti lalu mengatur nafasnya. Tersengal. Kemudian berjalan sedikit santai menemui Anita. Anita sedang merapikan nota ditangannya ketika Hanif datang.
“assalamu’alaikum..” ucap Hanif sambil melempar senyum pada Anita. Mata Anita membola mengamati Hanif yang penuh dengan peluh, bajunya pun basah. Masih terlihat pula nafasnya yang terengah-engah.
“wa’alaikumsalam. Mas habis ngapain basah semua gitu?”tanya Anita heran. Sedang Hanif hanya terkekeh.
“sini aku bantu menyusun notanya..” ucap Hanif. Anita mengangguk menyerahkan nota-nota berantakan kepada Hanif.
“kenapa handphonenya mati berhari-hari?” tanya Anita, dia memulai lebih awal interogasinya.
“rusak, Nit.. kemaren jatuh..” jawab Hanif datar.
“handphonenya yang jatuh, di atas meja terus kesenggol jatuh pecah layarnya, jadi aku perbaiki ke counter beberapa hari baru selesai hari ini.” Ujar Hanif. Ia menatap Anita lalu hatinya tersenyum senang karena ada seseorang yang mengkhawatirkannya.
“tapi kenapa mas juga berhari-hari nggak muncul? Mas tau betapa repotnya kami karena ulah mas? Terus telrfon malam-malam itu kenapa?”
“mmm, aku lagi banyak pikiran, dek. Malam itu tiba-tiba pengen ngobrol aja sama kamu.” Jawab Hanif.
“kenapa?” tanya Anita semakin menyelidik. Yang ditanya hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
“kamu mengkhawatirkanku?” Hanif malah berbalik bertanya.
“hmm”
“Kamu marah?” tanya Hanif lagi. Anita memberikan seringaian tajam padanya.
Menyebalkan. Kenapa tiba-tiba kamu begini mas. Kalau mau menjauh sekalian saja pergi jauh. Tidak perlu membuatku goyah.
“maafkan aku..maaf karena sudah membuatmu khawatir..” pinta Hanif
“Anita Shoffiyah, jawab jangan diam doang..” ucap Hanif lagi sedikit menuntut.
“sudah dimaafkan. Aku pikir sesuatu yang serius terjadi padamu. Tapi sepertinya mas baik-baik saja. Aku terlalu berlebihan. Maaf.” Ujar Anita.
Memang terjadi sesuatu padaku, Anita. Hatiku rasanya tercabik-cabik kemarin. Tapi entahlah, melihatmu seperti menyembuhkan lukaku.
Rasanya lebih sakit saat mengetahui kebohongannya daripada saat ia meminta putus. Sudah hampir 3 tahun Hanif menjalin hubungan dengan Kiara, dan selama ini mereka baik-baik saja. Bahkan Hanif sudah sangat mengenal orang tua Kiara. Pernah suatu waktu Hanif menghadap orangtua Kiara, memberanikan diri menyampaikan niatan bahwa suatu ketika pasti akan melamar Kiara. Namun orang tua Kiara bergeming dan beralasan bahwa mereka masih terlalu dini. Kuliah saja belum selesai sudah memikirkan menikah.
Dan sekarang, Hanif merasa benar-benar dikhianati. Dia bertekad melupakan Kiara meskipun belum sanggup untuk membencinya. Karena sudah dikhianati pantang baginya untuk kembali.
__ADS_1