Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 43 - InginTahu Maksud Hati


__ADS_3

Di belakang rumah Zahra, Anita terduduk di bangku di bawah pohon mangga.


Anita tengah sibuk dengan handphone nya. Di grup chat nya ramai pesan-pesan dari teman-temannya. Anita tidak segera membalas justru sibuk memilah milah foto di galerinya. Memilih satu foto dengan angel yang bagus menurutnya lalu mengirimnya ke seseorang.


“kok nggak dibales sih? Padahal udah dibaca. Sibuk apa ya?” gumamnya seorang diri.


Menunggu sebuah balasan namun tak kunjung tiba. Anita memutuskan membalas pesan-pesan dari temannya yang heboh di grup chat.


***


Di Bandung. Tangan Hanif sedang menari di atas laptopnya saat satu pesan masuk di handphone nya. Hanif sudah pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi dua bulan setelah wisuda nya.


Sebuah Foto. Hanif menatap lekat foto itu. Tiba-tiba hatinya berdesir. Hanif justru kalut dengan pikirannya sendiri.


Bukan foto itu yang menjadikan ia kalut. Tapi si pengirim yang membuat Hanif tiba-tiba galau. Lama ia tak membalas pesannya.


Malam ini langit palembang dipenuhi bintang-bintang. Anita mengajak Zahra keluar tadi, ia menikmati malam sambil berjalan-jalan.


Ia sedang kesal karena menunggu pesannya tak berbalas, padahal jelas pesan tersebut suah terbaca oleh si


penerima. Zahra mengajaknya ke pinggiran kota, menikmati suasana malam di sana. Mereka mencari tempat duduk setelah membeli beberapa camilan. Lalu Anita membuka percakapan.


“Zah, apa akan menikah menjadikan seseorang banyak berubah?” tanya Anita. Rasa penasarannya sedari kemarin akhirnya dia ucapkan.


“Maksudmu?”


“aku merasa kamu sudah sedikit berubah, kamu menjadi lebih sensitif, bukan Zahra si bocah prik yang aku kenal.” Ucap Anita.


Matanya terus menatap ke depan, mengingat kembali beberapa hari ini Zahra sangat berbeda. Zahra menggeleng pelan.


“entahlah. Aku hanya merasa akan ada perubahan besar di hidupku. Jujur ada rasa takut juga.”


“Takut? Takut apa?” tanya Anita.


“bukankah sudah jelas. Aku takut jika pernikahanku nanti tidak berjalan lancar. Kamu tahu aku sama sekali tidak mengenal mas Wildan. Bicara padanya saja baru hari ini. Aku takut nantinya dia..”


Ucapan Zahra menggantung, dia sangat takut untuk melanjutkannya. Anita tidak mengatakan apapun. Hanya memeluk menenangkan sahabatnya sekaligus meberi kekuatan.


Tiba-tiba dering telefon milik Anita berbunyi. Anita melepaskan pelukannya. Dari Hanif.


“mas Hanif, bentar aku angkat dulu ya” ucap Anita seraya menjauh dari Zahra.


“assalamu’alaikum..” Sapa Hanif.


“wa’alaikumsalam” jawab Anita.


“lagi apa dek?” tanyanya.


“lagi jalan-jalan sama Zahra.”

__ADS_1


“Zahra? Kamu ikut ke palembang?”


“heem” Anita berdehem ria.


“ya sudah nanti aku telfon lagi, silahkan dilanjutkan jalan-jalannya. Hati-hati ya.. assalamu’alaikum” lalu sambungan telefon itu terputus. Aita kmebali menghampiri Zahra dengan wajah masam.


“cepet banget telfonnya?” tanya Zahra saat melihat anita kembali. Anita tidak memberi jawaban apapun lalu duduk di samping Zahra.


“ayo pulang..” ucap Zahra tanpa rasa bersalah.


“aku baru saja duduk Zahra..” pekik Anita. Sedangkan Zahra justru merasa lucu dengan reaksi sahabatnya itu, dia tertawa terbahak dan berdiri lalu berjalan meninggalkan Anita yang bertambah kesal.


****


Sesampainya di rumah Zahra Anita kembali mengirim pesan ke Hanif. Tak berapa lama Hanif kembali menelfon lagi. Anita berlari keluar rumah lalu duduk di teras sebelum ia mengangkat telefon itu.


“Zahra mau menikah ya?”


“iya”


“Kapan?”


“setelah ujian akhir, bulan agustus katanya. Tapi tanggalnya belum ditentuin.” Jawab Anita.


Hening. Hanif terdiam begitu juga Anita yang tidak tahu harus berkata apa lagi.


“dek, apa kamu juga pengen segera menikah? Seperti Zahra?” tanya Hanif tiba-tiba.


“ya mau tau aja.”


“pengenlah, masa nggak pengen sih nikah…” Anita sengaja menjeda. Hanif merasakan sesuatu tidak enak di hatinya tatkala mendengar ucapan Anita.


“tapi jodohnya nggak dateng-dateng tuh, mungkin Allah lebih tahu kalau Anita belum siap. Kalau Cuma sekedar pengen ya siapa yang nggak pengen menikah. Tapi kan menikah bukan perkara gampang. Dan sepertinya Anita belum siap.”


“tapi kalau tiba-tiba ada yang melamarmu? Apa kamu akan menerimanya?”


“siapa emang?”


“seandainya, entah siapapun”


Anita terdiam.


Apa bukan kamu yang akan melamarku mas?Ucap Anita dalam hati.


“Dek?”


“hmm, Anita nggak bisa jawab dong urusan terima atau tidak, kan harus lihat dulu siapa calonnya. Nggak bisa asal terima atau tolak kan. Kalau anita jawab sekarang akan aku terima hanya karena anita pengen cepet nikah, ternyata kemudian hari di berlaku buruk padaku bagaimana? Aku benar kan?"


“Heem..“

__ADS_1


“kenapa memangnya?” tanya Anita.


“kenapa apanya?” tanya balik Hanif.


“kenapa mas Hanif nanyain aku soal menikah cepat atau lambat?” Anita melambatkan ucapannya.


“sebagai bahan pertimbangan.”


“bahan pertimbangan apa?”


“bukan apa-apa. Lupakan.”


“isshhh..”


“nggak boleh kayak gitu ngomong sama yang lebih tua.. kapan pulang ke Jogja?”


“3 hari lagi..” jawabnya singkat dan ketus.


“kok jawabnya ketus, Kenapa? Marah ya?”


Udah tau masih nanya pula.


“Anita..?”


“hmmm..” Anita masih dengan nada ketus.


“kenapa? Kamu lagi ada masalah?”


Kamu itu masalahnya Hanif Rahardian!! Pekik Anita dalam hati.


“masih mau dilanjut nggak ini telefonnya? Kalau masih marah mending ke kamar mandi gih, ambil wudhu terus istirahat. Ok?” pinta Hanif lembut.


Namun bukan jawaban yang didapat melainkan bunyi telefon yang langsung terputus. Hanif tercengang, seketika terpancing emosi. Tidak menunggu lama ia kembali menelfon Anita.


“Ada apa lagi? katanya disuruh ambil wudhu?” tanya Anita tanpa rasa bersalah. Ia masih konsisten dengan nada ketusnya.


“setidaknya ucapkan salam, bukankah tidak sopan tindakanmu tadi? Mas minta maaf kalau mas tidak sengaja melukai perasaanmu, dek. Maafkan aku. Dan juga, lain kali, ketika aku ada salah yang aku tidak ketahui ataupun sengaja, katakan! Jangan buat aku menebak-nebak apa yang sedang terjadi. Ok?” pinta Hanif masih dengan nada lembut.


Dia memang emosi tapi sebisa mungkin ia tahan. Dia tidak ingin semakin melukai perasaan Anita.


Gimana aku nggak tambah jatuh cinta kalau dia selembut ini padaku? Bahkan dia tidak berkata apapun tentang bagaimana hubungan kami sebenarnya. Huuuuftt.


Anita menghela nafas berat.


“ok.” Ucap Anita lirih. Kini ia menyesal dengan perbuatannya sendiri. Tidak sepenuhnya Hanif salah. Bahkan Hanif tidak salah sama sekali.


Hanya prasangka buruk Anita yang kemudian menguasai hati dan pikirannya. Setelah mengucapkan salam mereka menyudahi percakapan di telefon itu.


Mas, sebenarnya apa maksud sikapmu itu? Bukankah kamu akan kembali pada kekasihmu ?

__ADS_1



__ADS_2