Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 21 - Tidak Sadar Perasaannya


__ADS_3

Dua minggu berlalu, ujian semester kini di depan mata, semua mahasiswa sibuk dengan urusannya masing-masing, organisasi ditinggalkan sementara dan perpustakaan kampus semakin ramai setiap harinya. Tidak ketinggalan kamar kos Zahra yang sudah seperti rumah kedua Anita. Hampir setiap hari Anita datang, sekedar melepas lelah ataupun ikut belajar bersama Zahra, tetapi jarang sekali Anita menginap disana. Tentang Anita dan Hanif, mereka off berkomunikasi sejak seminggu yang lalu. Hanif sekarang semester 5, konsentrasinya ia fokuskan sepenuhnya untuk kuliah.


Ada bagusnya juga ternyata Kiara meminta putus hubungan.  Gumam Hanif lirih di dalam kamar kos nya.


Selama ujian berlangsung, suasana kampus menjadi lebih tenang. Pun dengan gosip tidak jelas yang beberapa minggu ini mengganggu Anita dan Hanif bahkan Zahra.


***


Ujian semester telah berlalu, dan bulan ramadhan tiba. Kampus semakin sepi karena banyak mahasiswa yang memilih pulang kampung menikmati ramadhan bersama keluarga. Tapi untuk beberapa mahasiswa terpaksa harus tinggal karena tanggung jawab organisasi, seperti Hanif, Zahra dan beberapa teman lainnya.


“bu bendahara, saya butuh segera dana untuk cetak pamflet event tanggal 13.” Pinta Rama kepada Anita sang bendahara. Rama adalah anggota divisi Humas.


“berapa?” tanya Anita.


“sesuai yang sudah dianggarkan.” Jawab Rudi lagi.

__ADS_1


“baiklah, saya siapkan dulu. Nanti saya hubungi lagi kalau dana sudah siap.” Ucap Anita. Rudi hanya mengacungkan jempolnya ‘OK’. Lalu anita kembali memeriksa map anggaran dana yang dibutuhkan divisi Humas.


Beberapa menit kemudian, datang seseroang mendekati Anita.


“bu bendahara, ba’da maghrib nanti saya harus membayar tagihan konsumsi untuk kemaren dan dp untuk pemesanan makan besok.” Ucap Hanif tanpa jeda dan Anita hanya mengangguk.


Selama beberapa hari ini, hampir setiap hari bertemu dengan Hanif. Percakapan mereka hanya tentang kegiatan. Tidak lebih. Entahlah, mas Hanif terasa berbeda dimatanya, anita merasa mas Hanif menarik diri darinya, sehingga Anita pun melakukan hal yang sama pada Hanif.


“ini mas..” menyerahkan segepok uang kepada Hanif.


“aku nggak bisa, Nit. Aku takut nanti uangnya terselip atau tercecer, aku nggak terbiasa bawa cash segini banyaknya.” Ujar Hanif.


“mas nanti bisa minta bantuan sama anggota mas yang lain kan?” jawab Anita sambil melempar senyum. Kaku.


Hanif terpaku. Bingung dengan sikap Anita yang tiba-tiba dingin kepadanya.

__ADS_1


“apa ada perlu yang lain, mas?” tanya Anita membuyarkan lamunan Hanif. Yang bersangkutan malah menatap lekat pada Anita lalu menggeleng.


Hanif pergi meninggalkan Anita sendirian dengan perasaan yang entah bagaimana. Kecewa? Sedih? Kosong? Walaupun Annita bilang 3 hari tapi kenapa Hanif merasa akan sangat lama tidak akan bertemu dengan Anita lagi.


Sedangkan Anita merasakan ngilu di hatinya. Dia memang sengaja menjauh. Beberapa hari setelah berhenti berkomunikasi dengan Hanif dia merasakan perasaannya semakin dalam, dan sekarang tidak ingin terjerat semakin dalam lagi, maka Anita memutuskan menjauhkan diri. Kalau bukan untuk urusan organisasi ini ia pasti enggan untuk melihat Hanif.


***


Kembali ke masa Ujian Semester.


Ujian memang masih berlangsung, Hanif sendiri memilih berfokus pada ujian. Namun ingatan tentang pernyataan kekasihnya beberapa minggu yang lalu tiba-tiba menyeruak kembali. Ada rasa sayang sekaligus rasa marah dan juga kecewa. Hanif beberapa kali menilik lagi hatinya, apakah ia masih akan memperjuangkannya atau


benar-benar melepasnya. Di lain sisi, ada Anita di dalam ingatannya, perempuan itu membuatnya nyaman. Perempuan itu membuatnya sekejap lupa pada mantan kekasihnya. Perempuan itu membuat dirinya tertawa lepas saat bersamanya. Dan perempuan itu juga entah kenapa Hanif pun merasa ringan menceritakan apapun kepadanya. Seakan-akan percaya bahwa dia adalah orang yang tepat baginya untuk berbagi cerita.


Sayangnya, Hanif tak menyadari bahwa perasaan itu adalah cinta baginya. Hanif hanya menganggapnya kenyamanan sebagai kolega, bukan antara laki-laki dan perempuan.

__ADS_1


Hanif benar-benar merasakan kegalauan hati. Namun setelah beberapa hari merenungi Hanif memutuskan memperjuangkan kembali kekasih hatinya, karena bagaimanapaun juga ia pernah berjanji pada orangtua sang kekasih bahwa ada niatan untuk melamarnya. Namun, yang mengganggu pikirannya adalah dengan keputusan itu maka mau tidak mau ia harus menjaga jarak dengan Anita. Ada sedikit rasa takut pada dirinya jika harus kehilangan Anita.


__ADS_2