
Sebuah lagu mengalun mengisi keheningan didalam perjalanan mereka berdua. Tanpa kata.
Aluna yang biasanya periang hanya duduk manis di kursi penumpang sebelah kiri Zaidan. Melihat ketegangan di wajah pria yang disampingnya membuat lidahnya kelu, tak bisa berkata-kata. Mobil yang dikendarainya pun melaju agak cepat. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi namun entah apa itu Aluna pun enggan untuk bertanya.
Ketika bertemu lampu merah di pertigaan Mobil Zaidan pun berhenti dan dia baru menyadari bahwa dia tak sendiri ada Aluna sang adik yang ikut bersamanya. Dia pun melirik ke arah Aluna yang sejak tadi terdiam, ada rasa bersalah karena telah mengabaikannya. Dia terlalu Panik karena seorang perawat meneleponnya tadi mengabarkan bahwa pasien yang mengalami kecelakaan kemarin mengalami kejang dan sebenarnya bukan itu masalahnya karena di rumah sakit pun banyak dokter yang menanganinya namun dia khawatir pada seseorang yang mendampingi pasien tersebut yang histeris dan sempat pingsan.
Ketika kemarin hendak pulang memang Zaidan menitipkan pada seorang perawat agar memberinya kabar jika terjadi sesuatu pada pasien tersebut mau yang berhubungan dengan pasien itu. Jadi si perawat yang merasa diberikan tanggungjawab pun langsung menghubunginya ketika terjadi sesuatu di rumah sakit pada pasien maupun keluarga pasien kecelakaan yang baru kemarin masuk ke UGD.
Sebenarnya kondisi pasien kemarin sudah terlihat stabil namun entah kenapa bisa terjadi seperti itu.
Zaidan yang menyadari Aluna yang diam tak seperti biasanya banyak bicara merasa aneh, apa adiknya itu sekarang sudah menjadi wanita anggun seperti penampilannya saat ini, lama memang dia tidak bertemu dan berkunjung ke rumah orang tua angkatnya itu. Akhirnya Zaidan pun membuka percakapan.
" Lun, bagaimana sekolahmu?"
" Baik Bang," ucapnya singkat, menoleh sebentar ke arah Zaidan yang masih fokus ke depan memperhatikan peralihan lampu lalulintas yang sebentar lagi sepertinya akan kembali hijau.
Aluna pun kembali melihat ke samping memperhatikan jalanan yang ramai dengan kendaraan roda empat dan roda dua yang terlihat salip menyalip dengan kendaraan lainnya. Zaidan pun yang memang tak biasa banyak bicara bingung ingin bertanya apalagi, karena biasanya Aluna yang mendominasi obrolan mereka, namun jika si periang dan cerewet ini diam Zaidan pun bingung harus berkata apa sampai akhirnya mereka sampai di parkiran rumah sakit.
Setelah memarkirkan mobilnya Zaidan keluar dengan terburu-buru namun tak melupakan Aluna dan mengajaknya masuk dan langsung menuju lantai 2 dimana seseorang di sana sedang dalam perawatan.
" Kamu mau keliling apa...?" Zaidan tak ingin Aluna mengikutinya, buka apa-apa tapi lebih ke tak enak masa Aluna mengikutinya selama dia disini. Zaidan takut Aluna sendiri merasa tak nyaman.
__ADS_1
" Tidak." Aluna menyahut cepat.
" Maksudku, aku mau jalan-jalan saja keliling rumah sakit, sudah lama juga aku tidak main ke sini." Aluna menjelaskan.
" Orang lain ke sini itu kalau tidak untuk berobat atau menginap sebagai pasien ya untuk menjenguk. Kamu malah ingin jalan-jalan. Zaidan terkekeh sambil mengusap kepala Aluna.
" Ada-ada saja kamu."
" Terang saja rumah sakit ini kan milik Papaku, tak perlu sakit untuk datang kesini." Aluna pun memutar bola matanya malas sambil berlalu meninggalkan Zaidan yang menatap kepergiannya. Namun setelah beberapa langkah cukup jauh dia pun berbalik arah mengikuti Zaidan yang sudah melangkah jauh.
Aluna mengikutinya diam-diam, penasaran akan menemui siapa Abangnya itu dengan tergesa dna wajah yang terlihat khawatir.
Zaidan yang fokus berjalan tergesa tak sedikitpun berbalik badan sehingga Aluna bisa mengikutinya dengan leluasa.
" Bagaimana keadaannya?" Zaidan langsung bertanya terlebih dahulu sebelum perawat itu bicara.
" Sekarang dia sedang istirahat di dalam dok, mungkin pengaruh dari obat yang tadi diberikan dokter Sindy." Ucap perawat itu.
" Sebenarnya apa yang terjadi" Tanya Zaidan lagi.
" Entah kenapa tadi pasien mengalami kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Wanita yang di dalam melihatnya dan menjerit-jerit histeris melihat keadaan pasien dan tak lama dia pingsan mungkin karena kelelahan juga karena menunggui pasien sejak kemarin. Tadi setelah diperiksa dokter Sindy mengatakan itu dan beliau berikan Vitamin tadi dan menyuruhnya istirahat."
__ADS_1
Perawat itu menjelaskan panjang lebar
" Baiklah, bagaimana keadaan adiknya sekarang?" Zaidan kembali bertanya.
" Adik..?" Perawat itu sedikit bingung namun langsung mengerti adik yang dimaksud adalah pasti pasien yang di tungguin wanita yang sedang beristirahat didalam.
" Dia sudah stabil dok, soalnya langsung ditangani juga kebetulan tadi ada dokter Arif dengan dokter Sindy yang sedang berada di ruangan." Perawat itu menjawab namun benaknya bertanya-tanya siapakah gerangan wanita yang sedang didalam ruang rawat ini sampai-sampai Dokter Zaidan mengkhawatirkan sampai sebegitu nya. Sebenarnya dari kemarin sore perawat itu penasaran karena dokter Zaidan sampai menitipkan pasien bakan keluarga pasien padanya untuk mengabari jika terjadi sesuatu dan lagi ketika pagi tadi diberitahu wanita ini pingsan dokter Zaidan langsung mengatakan akan segera datang. Pasti wanita di dalam ruangan ini adalah kerabat atau mungkin orang yang spesial. Namun sang perawat pun tak berani bertanya. Sama halnya dengan wanita yang diam-diam mencuri dengar di balik tembok pembatas. Dari awal Aluna ya Aluna yang sejak tadi menguping di sana juga terkejut dari sejak awal bahkan ketika tahu Zaidan mencemaskan seorang wanita yang bahkan buka pasien. Dan Aluna menebak bahwa dialah wanita yang diceritakan Abangnya pada sang kakak tadi malam. seketika darahnya berdesir dan hati mulai memanas. Apalagi melihat kejadian tak terduga selanjutnya.
Dan Aluna pun terbelalak ketika melihat Zaidan yang hendak masuk ke ruangan tersebut malah wanita di dalam yang terlebih dulu keluar dan langsung memeluk Zaidan sambil kembali menangis.
Zaidan yang tidak siap juga hanya diam terpaku dan hanya berdiri dan tak membalas pelukan wanita itu. Dia bingung tak tega untuk melepaskan pelukan wanita dihadapannya namun juga tidak berani untuk membalas pelukannya walaupun sebenarnya hatinya ingin melakukannya untuk menenangkan wanita tersebut namun akal sehatnya masih berfungsi dengan baik dan melarangnya melakukan hal itu. Zaidan pun akhirnya hanya terpaku tanpa kata ..
Happy reading....❤️❤️
Terimakasih untuk yang sudah mendukung karya saya ini. Maaf jiga masih banyak kesalahan dalam penulisan. mohon masukannya yang tentunya membangun agar bisa lebih baik lagi. 🙏🙏
Jangan lupa mampir di novelku yang lainnya ya
- Imamku
- ku Gapai cintamu
__ADS_1
- Bertahan satu cinta