Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
48


__ADS_3

 Setelah beramah tamah mereka pun kembali berdiskusi tentang rencana pernikahan yang akan di gelar satu bulan dar sekarang. Mulai dari rencana membuat undangan untuk para kerabat, teman dan lain-lainnya. Mereka akan menghitung dan memastikan lagi satu Minggu dari sekarang.


Merancang pernikahan yang sah menurut agama dan negara, akhirnya berjalan dengan baik.


Lokasi sudah di tentukan, wedding organizer juga sudah di tunjuk, pakaian pengantin dan tinggal menentukan jumlah undangan.


Kedua calon mempelai pun dipersilahkan untuk berkomunikasi jika ada hal yang memang ingin keduanya bicarakan sebelum pernikahan.


Mereka pun di ijinkan berbincang di meja yang lain di temani oleh Arby dan Ainun juga Aluna.


Aluna termenung melihat wanita di depannya. Satu sisi dia adalah wanita penolongnya yang dia kagumi namun di sisi lain wanita inilah yang membuatnya kecewa karena telah mematahkan hatinya.


"Baiklah, silahkan kalian bicara dan tanyakan apa yang perlu di tanyakan." Arby membuka percakapan karena Zaidan maupun Diana tidak ada yang membuka suara. Sepertinya terlalu gugup 🀭


Zaidan berdehem untuk menetralkan rasa canggung. Kemudian dia memulai berbicara.


" Saya penasaran kenapa dik Diana, mau menerima saya?" Tanya Zaidan terlihat sangat formal sekali.


Diana pun mengangkat wajahnya sebelum kemudian menjawab

__ADS_1


" Karena saya yakin dengan pilihan kedua orang tua saya. Tidak mungkin mereka memilihkan pasangan untuk putrinya secara asal, pastilah pria pilihan mereka terbaik dari yang terbaik." Diana menjawab dengan lugas.


" Hanya itu?" Zaidan merasa tak puas dengan jawaban Diana karena menerima karena pilihan orangtuanya. Tak sadar jika dirinya pun menerima karena orang tua juga. Ya.. Walaupun memang hatinya sedikit berdesir ketika membaca profilnya.


Diana terdiam sesaat...


" Dan aku percaya pada hatiku. Hatiku telah memilih mas Zaidan. Aku pun telah meminta petunjukNya. Dan in syaa Allah Mas Zaidan bisa membimbing saya dijalan yang di ridhoiNya.


"Bolehkan saya bertanya juga alasan Mas Zaidan menerima perjodohan ini?"


Zaidan pun mengangguk.


" Aamiin ya rabbal a'lamiin." Kompak mereka berdua juga Arby dan Ainun juga Aluna mengucapkannya bersamaan.


Ada yang berdesir di hati kedua insan tersebut yang mana sama-sama menjaga hati mereka untuk seseorang yang nantinya akan menjadi pasangannya. Walaupun sebelumnya Zaidan sempat bimbang dengan kehadiran Siren namun sekarang hatinya sudah mantap untuk memilih Diana sebagai pendamping hidupnya yang akan menemaninya dalam suka maupun duka.


" Silahkan apa kalian ada yang akan di diskusikan lagi?" Ucap Arby. Di sini Arby terlihat dewasa seakan dialah kakak dari Zaidan.


" Tidak ada, semua persiapan saya serahkan pada pihak keluarga saja. Saya tidak ingin pesta mewah. Bagaimana dengan mas Zaidan?" Tanya Diana.

__ADS_1


" Aku pun ikut baiknya saja karena ini pernikahan pertama saya jadi saya juga tidak punya pengalaman." Ucap Zaidan gugup. Membuat Arby dan Ainun menahan tawa.


* Apa maksud perkataan mas Zaidan tadi, apa mas Zaidan berencana poligami sehingga akan ada pernikahan kedua?" Diana menatap tajam membuat Zaidan salah tingkah.


" Bukan begitu maksud saya. Saya tidak berpikir ke arah sana. Sungguh ini pernikahan saya yang pertama dan inginnya yang terakhir."


" Inginnya...? Kenapa seperti tidak yakin?"


" Bukan begitu, aduh bagaimana ini..." Zaidan menatap sang adik yang mengulum senyum melihat tingkah kedua calon pengantin. Membuat zaidan menatapnya tajam sekaligus memohon pertolongan untuk menjelaskan pada calon istrinya. Namun Arby menatapnya dengan tatapan mengejek seolah mengatakan. Inikah Zaidan yang biasanya terlihat bijaksana dan selaluemberi nasihat padanya, pada adik-adiknya. Sedangkan Aluna hanya memainkan sedotan yang berada di gelas minumannya tampak seakan tak peduli dengan yang terjadi, raganya memang sedang duduk di sini namun jiwanya entah sedang berkelana kemana.


" Begini, saya ingin yang terbaik untuk pernikahan saya tapi kita juga tidak tau takdir yang akan terjadi pada kita kedepannya. Tapi saya berjanji dan tidak berniat sedikitpun dari ntukelakukan poligami. Satu istri pun harus saya pertanggung jawabkan nanti apalagi lebih. Saya tidak sanggup sepertinya."


" Baiklah, maaf bukan maksud saya mempersulit, hanya menguji saja. Bercanda he..." " Ya sudah diakhiri saja ya. Maaf." Ucap Diana dan langsung berdiri dan tergesa meninggalkan mereka dan kembali duduk di sisi ibunya.


Zaidan dan arby pun saling menatap dan Arby tertawa terbahak melihat Zaidan yang sepertinya masih bingung dengan kelakuan sang calon istri.


Ternyata calon istrinya cukup usul juga, terlihat pendiam namun sebenarnya dia gadis yang ceria, terlihat kalem namun sebenarnya dia bisa segalak macan.


Happy reading πŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


Maafkan author yang suka ilang" gak jelas ya he...


__ADS_2