
HAIII READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMMEN NYA YA YA
KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
LANJUT ***
" hemm yakin nggak akan menyesal kalau nanti di kekang,tak bisa melakukan sesuatu yang dikehendaki dan akan terkurung terus "? Tanya Lika sambil menaik turunkan alisnya.
" Ihhh Mama tega,masa bukan ngomong yang bikin hati senang atau apalah.Eh ini malah lebih banyak bikin takut saja,dan tak mau punya suam". Ketus Silvia sambil mengerucutkan bibir nya.
Lika tertawa kecil karena melihat wajah kesal putrinya itu.Ia merasa lucu dengan wajah cemberut milik nya Silvia,padahal tadi ia hanya bercanda saja tapi malah di anggap serius.
" Haha Iya maafkan Mama ,tadi kan hanya penasaran saja makanya bertanya .jangan marah lagi dong,apa nggak kasihan Mama yang cantik ini di marahin ". Lika pura pura sedih.
" Mama jangan pasang wajah seperti itu ah,lihat nya menggelikan tau nggak "? Silvia merajuk.
Keduanya berbicara dan bercanda,bahkan sesekali tertawa. Lika adalah tipe ibu yang bisa menyesuaikan dengan umur anak nya,ia tahu saat yang mana berubah menjadi sahabat bicara dan kapan harus menjadi sosok seorang ibu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman Hadiwinata ,Davin tengah berharap cemas karena malam ini adalah penentuan hubungannya dengan Silvia. Ia sangat takut di tolak oleh Alan,dan tak merestui dirinya menjadi menangis dari keluarga Andrew.
Rino yang melihat kepanikan yang jelas di wajahnya Davin ,hanya menggelengkan kepalanya. Ia sampai mengelus dadanya ,karena ternyata orang kalau mau menuju Sah ribetnya minta ampun.
Di dalam pikiran Rino adalah lebih baik Kawin dari pada Nikah,padahal ia tak sadar jika pikiran nya itu salah besar dan di tentang agama.
__ADS_1
" Vin kalau tau nikah bikin ribet seperti ini,biarlah aku jadi jomblo abadi saja guys.Lihat kamu yang sudah seperti orang bego,aku jadi ngeri lihatnya semoga saja aku tidak mengalaminya ".Ujar Rino sedangkan Davin hanya mengeryitkan keningnya.
Mana ada seorang Rino tak mau menikah ,padahal sewaktu bertemu Silvia pertama kali saja sudah langsung minta di cari kan jodoh.
" Yakin kamu nggak mau nikah "? Tanya Davin memastikan.
" Iya sepertinya begitu ,soal nya aku lihat kamu sekarang memprihatinkan untuk mata dan hati ". Ujar Rino
" Ya ampun Bro kamu mulut nya memang tak bisa di jaga ya,ngomongnya seenaknya jidat nya saja". Kesal Davin
" Lho memang nya apa yang harus di jaga,kan memang kenyataannya seperti itu.Jadi aku kan hanya mencoba untuk jujur,dari pada berbohong kan bukan tipe ku". Sahut Rino santai
" Huft sudah balik ke kamar kamu sana,karena melihat kamu disini buat darah aku mendidih nih.Dan usahakan mulutnya di jaga,kalau di butuhkan baru bicara,,Ok bro". Ujar Davin mengusir Rino secara halus.
" Hemm baiklah awas saja Ya,jika nanti kamu perlukan saran atau pendapat ku.Karena sampai air mata darah pun,aku tak kan pernah mau lagi". Kesal Rino dan langsung keluar dari kamar Davin.
Sedangkan Davin hanya terkekeh melihat wajah kesal nya Rino,ia yakin sahabatnya itu pasti tengah sangat kesal kepadanya.
Tut tut tut
Panggilan masuk di ponselnya Silvia ,saat ia masih duduk bersama Lika.Ketika di lihatnya siapa yang menghubungi dirinya ,dan ternyata Davin yang menghubungi.
Dengan senyuman di wajahnya Silvia mengangkat panggilan itu.Semua yang ia lakukan tak luput dari penglihatan Lika,ia sangat yakin jika Davin yang menghubungi Silvia.
" Ma aku angkat telponnya dulu ya". Ujar Silvia sambil berlalu dari hadapannya Lika.
" Ciee yang lagi kangen ,angkat telponnya saja pake senyum segala. Padahal baru beberapa jam tadi ketemu ,eh malah sekarang sudah di telpon ". Goda Lika
Silvia wajahnya merona karena malu,sebab Mama nya selalu suka sekali menggoda dirinya. Dengan langkah terburu menuju ke kamarnya ,ia pun mengangkat panggilan dari Davin.
" Hallo Kak". Ujar Silvia dengan napas ngos ngosan karena berlari menuju kamar nya.
" Hallo Sayang suara kamu kok seperti itu,memangnya dari mana tadi"? Tanya Davin heran.
__ADS_1
"Habis marathon kak,jadinya napas aku hilang separuh deh ". Sahut Silvia asal.
" Lho memang nya marathon di mana kamu"? Tanya Davin lagi
" Astaga Kak kalau nelpon cuma mau tanya soal marathon lebih baik nggak usah deh ,padahal udah bela belain jadi pelari profesional masih nggak di hargai ". Kesal Silvia
" Hehe jangan marah lah Yang,iya deh aku ngaku salah.Aku minta maaf ya,tapi jangan marah lagi ya dunia ku serasa gelap lho kalau kamu marah".Rayu Davin
Silvia langsung tertawa mendengar kekonyolan Davin,memang nya ada pengaruh dunia gelang sama dirinya yang lagi marah.
" ishh jangan lebay deh Kak,kuping aku jadi panas dengarnya". Ucap Silvia yang malu malu.
Padahal kalau bisa di bilang Davin mana tahu ekspresi dirinya saat ini,tapi ia malah berbuat hal yang aneh.
" Lho kok panas Sih ,padahal aku berharap kamu senang lho kalau di rayu seperti itu". Ujar Davin pelan
" Ohh tadi ceritanya kakak lagi gombalin aku ya". Tanya Silvia pura pura tak tau.
" Lho memangnya dari tadi kamu nggak sadar Yang"? Tanya Davin balik.
" Bercanda kali kak ,"Sahut Silvia
" Kamu lagi ngapain Yang "? Tanya Davin
" Ihhh kakak aneh deh ,aku sekarang kan lagi teleponan sama Kamu ". Sahut Silvia heran
" Basa basi doang kali Yang ,aku pikir kalau kamu lagi merindukan aku ". Ucap Davin percaya diri.
"Aku nggak mau rindu sama kakak". Sahut Silvia sambil tersenyum membayangkan wajah kesal nya Davin.
"Lho Sayang kamu kok tega sih,aku disini sangat merindukan kamu.Eh malah kamunya biasa saja dan terkesan tak peduli ".Ujar Davin pelan.
Silvia yakin jika perkataan nya tadi pasti di tanggapi Lain,padahal ia hanya lagi mencoba menggoda Davin.
__ADS_1