
“jujur deh, mas sebenarnya suka kan sama Zahra?” pancing Anita.
“apaan sih dek. Zahra kan sudah menikah..” jawab Azzam terbata.
Dan seperti yang Anita duga, jawaban Azzam tidak sinkron dengan pertanyaannya.
“mmm..” anita menggeleng-gelengkan kepalanya. Telunjuknya bergerak ke kanan ke kiri.
“maksudku dulu dan sampai tadi siang saat Anita belum bilang kalau Zahra sudah menikah. Iya kan? Anita sudah merasa ada yang aneh sejak mas Azzam bertanya soal Zahra tadi.” Lanjutnya.
Sedangkan Azzam masih diam salah tingkah. Dalam hatinya mengumpati sang adik, kenapa Anita peka sekali.
“sudah lama sukanya?” lanjutnya lagi.
Kali ini Azzam tidak berkutik lagi di depan Anita, seolah terhipnotis dengan sang adek. Azzam memang agak lugu dan polos, berbeda dengan sang adek yang sedikit bar-bar dan ceplas ceplos.
“sejak pertama bertemu..” jawab Azzam singkat.
“wah wah wah.. apa-apaan kalian ini. Saling memendam ceritanya? Ooh so sweet..” kelakar Anita dengan kedua tangannya menepel di pipi seolah dia yang tersipu, kakinya pun ikut berjingkrak tak terkendali.
“apaan sih dek..” ucap Azzam menatapnya tajam.
Siapa tahu sebenarnya hati Azzam pun sempat berbunga mengetahui bahwa Zahra juga menyimpan hati padanya. namun perasaan itu sekejap sirna dengan kenyataan bahwa Zahra sudah menjadi istri orang lain dalam waktu singkat.
“ok, maaf..” sahut Anita. Dia kembali memasang wajah datar.
“sini fotonya mas mau lihat!”
Anita tak menjawab tapi langsung memberikan handphonenya pada sang kakak.
“ini suaminya?” tanya Azzam.
“iya”
“Wildan..?” tanya Azzam. Mengulang lagi.
“iya, mas kenal?” kini giliran Anita yang makin penasaran dengan perubahan raut muka kakaknya itu.
__ADS_1
“kamu lupa sama wildan?”
“maksudnya?”
“dia teman mas waktu kuliah, dulu sering banget kan main ke rumah, bahkan sering menginap juga..” Terang Azzam pada adiknya.
Azzam masih tidak menyangka bahwa Wildan menjadi saingan cinta nya. Dalam hatinya terasa pedih namun wajahnya menampakkan senyum lucu.
“Oo.. ya ampun mas Wildan yang itu to. Ya Anita lupa lah mas, dulu adek masih SMP apalagi sekarang mas Wildan tambah ganteng..hahaha” Anita terkekeh merasa konyol sendiri.
“huss.. dia sudah jadi suami orang lo..” sahut Azzam mengingatkan.
“ups.. astaga, dunia ini sempit sekali ternyata. Sahabatku dapat jodoh sahabat kakakku.. hahaha” Anita masih dengan tingkah konyolnya smebari melirik Azzam yang terdiam. Ia terus memandangi foto pernikahan sahabatnya itu.
“mas kenapa tidak bilang dari dulu kalau suka sama Zahra? Zahra pun juga seperti itu. Kalian saling menyukai tapi diam-diam aja. Mana bisa tahu hati masing-masing..” ujar Anita pada kakaknya.
Sebenarnya ucapannya itu juga sangat pas sekali dengan dirinya saat ini. Ia diam-diam suka dengan Hanif tapi tidak berani mengatakan. Rupanya sejenak Anita lupa dengan keadaan dirinya.
“mas pikir tadinya akan langsung melamarnya. Karena mas nggak mau pacaran.” Jawab Azzam jujur.
“mas kira Zahra masih ingin bebas. Belum punya keinginan menikah. Rencananya mas menunggu dia selesai kuliah dulu. Tapi ternyata rencana Allah lain.”
“tahu darimana Zahra seperti itu? Kenapa mas ambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya padanya?” lama kelamaan Anita gemas dengan kakaknya, usianya sudah kepala tiga, tapi pemikirannya masih seperti anak remaja.
“kamu benar.. kenapa aku dulu berpikir seperti itu ya?” Azzam menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tersenyum pilu mengingat kebodohannya.
“karena kalian memang tidak ditakdirkan berjodoh..hahaha” Anita tergelak. Rasanya puas sekali bisa mentertawakan sang kakak.
“hisssh.. asem kamu..” Azzam beranjak dari kamar Anita, baru sampai pintu, tiba-tiba ia berbalik lagi.
“tunggu.. setahu mas, Wildan itu sudah menikah dengan Chyntia. Dia poligami? Zahra jadi yang kedua?” Rasa penasaran Azzam kembali memuncak, hingga omongannya melebar kemana-mana.
“ngawur mas kalau ngomong. Mas Wildan itu sudah bercerai sama istri pertamanya.” Jelas Anita gamblang.
“kenapa?” tanya Azzam polos. Wajahnya bahkan sama polosnya dengan kalimat yang ia lontarkan
“kenapa apanya?”
__ADS_1
“kenapa Wildan menceraikan istrinya?”
“Ngapain mas Azzam kepo urusan rumah tangga orang? Anita nggak tau dan nggak mau tau.” Jawab Anita ketus.
“ya ampun dek, nanya doang..” Azzam tergelak mendengar suara ketus adeknya sendiri. Walaupun sering bertengkar dengan sang adek, kali ini rasanya berbeda. Entah apa itu.
“pertanyaannya ngeselin sih..” Sahut Anita tak lupa sembari memonyongkan bibirnya. Menatap Azzam sinis.
“ya udah iya, maaf..” Azzam berucap sambil lalu. Melangkah lesu menyeret kakinya paksa keluar dari kamar Anita.
“duuhh, kasian ada yang patah hati nih..” ejek Anita, ia sengaja meninggikan suaranya agar terdengar seluruh rumah. Azzam segera membekap mulut sang adik dengan satu telapak tangannya yang besar.
“ssstt.. bisa diem nggak!! Nanti mama denger..” ucap Azzam sambil melototi Anita. Anita mengangguk pura-pura patuh.
“cieeee… patah hati..” teriak Anita lagi saat Azzam melepaskan tangannya yang membekap. Azzam kembali melotot.
“kenapa sih teriak-teriak, siapa yang patah hati?” Sahut sang mama saat mendengar teriakan.
“Anita tuh ma, kasian nggak dilamar-lamar..” Ucap Azzam asal.
“Apaan sih, bukan ma.. mas Azzam itu yang patah hati..” Anita gelagapan saat mendengar ucapan sang kakak. Sebenarnya dalam hatinya berdesir membenarkan. Membayangkan mas Hanif-nya datang tiba-tiba melamarnya.
“sudah sudah. Kalian kalau ketemu cuma ribut terus..” kemudian sang mama meninggalkan Azzam dan Anita.
“awas kamu ya.. nggak ada uang jajan..” Azzam mengancam Anita lalu menjulurkan lidahnya, mengejek sambil berlalu pergi meninggalkan Anita yang ternganga.
“yah..jangan dong mas..mas.. maaf..” Anita sedikit berteriak memohon.
"Gagal dapat uang jajan tambahan lagi minggu ini.." gerutu Anita penuh sesal.
Ia sudah tidak bisa konsentrasi lagi di depan laptopnya. memilih menghempaskan diri di ranjang empuknya. mengusap-usap guling kesayangan lalu memejamkan matanya.
***
mohon kemurahan hatinya untuk megusap tombol like nya ya..
kalau boleh voucher gratis vote tiap hari senin itu juga boleh.. hehe..
__ADS_1