
Tiga Bulan Kemudian.
Usia kehamilan Zahra sudah menginjak 18 minggu atau sekitar 4 bulan lebih. Artinya, Allah sudah meniupkan ruh pada janin tersebut. Bertambah bahagia lah Zahra, walaupun belum terlalu terasa gerakan sang bayi, tapi terkadang ketika bayinya bergerak aktif hingga membuat gelenyar geli di tubuhnya.
Zahra sangat menikmati kehamillannya, suaminya pun semakin sering berkunjung. Dulu sebelum hamil, suaminya hanya berkunjung satu bulan sekali paling cepat dua minggu sekali. Sekarang, Wildan suaminya itu hampir tiap minggu berkunjung.
Zahra juga masih aktif kuliah dan menyelesaikan skripsinya, dibantu Anita di bagian-bagian tertentu membuat Zahra terus bersyukur memiliki sahabat seperti Anita, hingga rasa kesepiannya karena berjauhan dengan suami tak terlalu
menyiksa.
Anita?
Skripsinya memasuki 2 bab akhir, termasuk kategori sangat cepat jika dibandingkan mahasiswa lainnya, mahasiswa lainnya yang seangkatan baru saja memulai pengumpulan data bahkan ada juga yang baru memulai pendahuluan.
Namun, bukan berarti milik Anita tanpa kendala, berulang kali bab akhir tersebut mendapat revisi dari sang pembimbing. Meskipun begitu, Anita terus mengikuti arahan dari sang pembimbing, mengikuti kemauannya yang entah harus bagaimana lagi demi mendapatkan ACC darinya.
Dalam waktu hampir dua minggu dan Anita hanya berkutat pada bab akhir yang isinya hasil analisis dan kesimpulan. Namun nyatanya sangat sulit bagi pembimbingnya itu untuk meloloskannya.
Hari ini, setelah melakukan lagi revisi, Anita kembali menghadap sang pembimbing. Tentu dengan janji yang sebelumnya dibuat.
Tok tok tok
“assalamu’alaikum, pak” sapa Anita dari luar pintu.
“masuk.” Jawab dari dalam singkat.
__ADS_1
Anita melangkah memasuki ruangan sang pembimbing. Dingin. Tapi bukan karena AC nya yang terlalu kencang, melainkan wajah laki-laki sebaya mamanya penyebabnya.
Namanya Pak Hedi. Wajahnya tegas dengan sedikit jenggot tipis di sekitar dagu. Kacamata tebal menggantung di hidung menambah kesan intelektualitas semakin bertambah.
Beliau terkenal dingin, perfeksionis, detail-detail kecil yang bagi mahasiswa tak penting bagi pak Hedi adalah harga
mati.
Lalu kenapa Anita memilihnya? Karena rekomendasi kebanyakan kaka tingkatnya.
“Memang dingin, perfeksionis dan sebagainya-sebagainya. Namun pak Hedi satu-satunya dosen pembimbing yang mau membimbing bahkan per kata untuk anak bimbingnya. Meskipun menyebalkan, tapi setelah nanti pada akhirnya mahasiswa itu sendiri yang akan menikmati hasilnya.”
Begitu kira-kira ucapan dari beberapa kakak tingkat Anita. Tentu saja bukan Anita sendirian sebagai anak bimbing pak Hedi, masih ada Vani, Ari dan Dita dan beberapa kakak tingkat Anita yang belum juga lolos ACC dari beliau.
Dosen itu sedang duduk di depan komputer entah melihat apa. Wajahnya sangat serius, bisa jadi sedang melihat rumus matematika yang bagi orang awam seperti kumpulan cacing-cacing.
Belum sempat anita mengatakan kalimat pembuka demi memecah kecanggungan itu, dosennya terlebih dulu menyabet draft yang diserahkan Anita. Anita tersentak.
Dan.. Lagi. coret sana coret sini di banyak tempat. Anita hanya menghela nafas kasar melihatnya. Raut muka kesal seketika terlukis di wajah manisnya, namun bibirnya tetap mengatup sempurna.
Tidak ada bantahan, tidak ada interupsi kali ini sepertinya. Anita diam mengikuti jejak pena yang dosen itu bubuhkan di berbagai tempat.
***
Bandung, Kota Kembang. Di hari yang sama.
__ADS_1
Hanif besar dimana Hanif mempertaruhkan studinya selama 1,5 tahun. Ya hari ini Hanif akan melaksanakan ujian tesis. Ia sudah memberi kabar pada Anita sejak kemarin, tentunya memberi kabar pula kepada keluarga di kampungnya untuk meminta doa dan restu.
Hanif memasuki ruang sidang yang didalamnya telah datang ketua, sekretaris, dosen pembimbing dan tiga orang dosen penguji.
Setelah Ketua membuka sidang ujian, lalu Hanif dipersilahkan memaparkan tesisnya , meskipun sedikit gugup Hanif berhasil memberi pemaparan dengan jelas dan rapi.
Di seberang meja, terlihat para penguji menyungging senyum tipis mendengar pemaparan Hanif. Sepertinya nampak puas.13 menit Hanif menyelesaikan pemaparan tesisnya kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab yang dimulai dari penguji utama lalu dilanjutkan penguji kedua dan ketiga.
Lagi-lagi para penguji dibuat takjub dengan pembahasan Hanif, lugas, tidak berbelit dan detail. Terlihat sekali dari raut wajah sumringah para dosen penguji itu. Hanif tetap tenang, tidak ingin berkesimpulan sendiri, biarkan nilai
yang menjawabnya.
2 jam sidang tersebut berlangsung. Setelah dosen penguji memberikan beberapa saran perbaikan, giliran Ketua sidang menyampaikan hasil ujian Hanif.
LULUS.
Betapa bahagianya Hanif saat itu hingga tak terasa satu cairan bening lolos dari sudut matanya. Tak lupa bersimpuh melakukan sujud syukur, lalu menyalami satu per satu dosen penguji dan dosen pembimbingnya.
Dua minggu kemudian, Hanif telah menyelesaikan perbaikan draft tesis sesuai dengan saran dosen pembimbing dan dosen penguji, lalu merapikan draft tersebut sebelum dijilid dan menyerahkannya pada bagian sekretariat prodi.
Beberapa hari setelahnya, Hanif segera mengurus pengajuan Surat Keterangan Lulus dan juga pendaftaran untuk Wisuda. Berita bagusnya dua hal tersebut sekarang bisa dilakukan secara online. Hanif dan mahasiswa kebanyakan tak perlu susah payah mengantri di gedung direktorat.
______________________________
Bersambung...
__ADS_1
Tak lupa kuucapkan, titipkan like untuk author ya readers, beserta komen dan vote..
Terimakasih ^^