
Anita tengah duduk di depan laptop tangannya mengetikkan sesuatu di handphone saat Hanif masuk ke dalam kamar.
Hanif naik ke atas ranjangnya, duduk bersandar di headboard sambil memeluk bantal. Matanya tak lepas mengamati istrinya yang sepertinya sibuk dengan handphonya.
“lagi ngapain?” tanya Hanif..
“hmm? Mm, ini lagi chat sama mbak Indira.. hehe” Anita terkikik tanpa menatap Hanif.
“beneran ditanyain yang tentang yang tadi? Memangnya kenapa sih? kok tadi nyebut-nyebut Zahra segala.”
Anita mendekati Hanif, ikut bersender tapi di menggunakan bahu Hanif sebagai bantalan kepalanya.
“Anita itu bukan tipe orang yang suka kepo sama urusan orang lain, tapi nggak bisa nggak kalau soal mas Azzam, dari dulu.. hehe..”
“itu karena kamu usil sama kakakmu..jadi kenapa mas Azzam sama Zahra?” hanif ngotot ingin tahu kisah kakak iparnya itu.
“mas Azzam dulu sempet suka juga sama Zahra, tapi diam-diam aja nggak ngomong, nggak diungkapin, katanya udah ada niatan buat ngelamar Zahra tapi nunggu Zahra lulus, ya ketikung sama temennya sendiri, sahabat malah..”
“hah? Ketikung gimana?”
“ya itu tadi, karena mas Azzamnya diem-diem aja, nggak maju. Tanpa Zahra tahu kalau mas Azzam suka juga padanya, oh iya, Zahra ternyata juga diam-diam suka sama mas Azzam, tapi berakhir sama sahabat mas Azzam. Mas Wildan itu sahabatnya mas Azzam waktu kuliah.”
__ADS_1
“ya ampun, kasian mas Azzam..”
“nggak usah dikasihani, mas Azzam nya terlalu banyak mikir, nggak sat set sat set, jadi ketikung deh.. Sering mas Azzam begitu bukan cuma pas sama Zahra aja.”
“sekarang sudah dapat kan calonnya, kita doain semoga memang jodoh dan diberi kelancaran sampai hari pernikahannya.”
“iya. itu juga pasti karena bantuan ayah.. Anita tuh gemes sama mas Azzam, jadi laki-laki kok lembek gitu. Lama mikirnya, kalau memang suka ya bilang, urusan ditolak apa diterima kan bisa nanti-nanti mikirnya..” ucapan itu dibarengi dengan lirikan mata yang menyipit ke arah Hanif.
“nyindir nih?”
“nggak.. nggak nyindir, cuma ngomong apa adanya..” cibir Anita.
“tapi kan sekarang sudah jadi suami akhirnya.. udah ah, nggak usah cemberut, cantiknya berkurang loh..” ujar Anita mencubit bibir Anita yang masih mencibir.
“katanya mau kerumah budhe tadi, kenapa?”
“lama?” tanya Hanif lagi, ia tahu budhe yang dimaksud adalah budhe yang rumahnya hanya berselang 5 menit dari rumah Anita.
“mungkin, mau matur (menyampaikan maksud) sama budhe katanya diminta nemenin pas ke Bandung besok..”
“ya udah, sekarang bisa berarti..” ucap Hanif ambigu, tanpa menunggu jawaban Anita, Hanif segera ******* bibir Anita. Keras dan menuntut.
__ADS_1
“mmmhh, pelan-pelan..” Anita memukul dada Hanif.
“maaf--maaf, habisnya kamu gemes sih..”
Hanif mengulangi ciuman itu dengan lembut, menyusup ke dalam menjelajahi mulut Anita. tangannya bergerak mengambil tangan Anita untuk diletakkannya diantara tengkuk dan telinga Hanif.
Ciuman Hanif semakin dalam seiring usapan tangan Anita yang berhasrat. Tangan Hanif pun tak tinggal diam, menelusup ke dalam baju Anita, mengusap semua yang ada di balik baju itu.
Dengan satu kali tarikan, baju Anita sudah lepas dan dilemparkannya ke sembarang tempat. Ia sudah tidak peduli ada siapa di rumah itu, hasratnya semakin menggebu.
Hanif membawa Anita menuju puncak yang sangat ia dambakan, berbagi peluh, berbagi nafas dan berbagi benih yang ia semogakan akan tumbuh di dalam rahim wanita yang dicintainya.
Mata Anita sudah berkabut, nafasnya masih terengah dan tubuhnya lemas di pelukan Hanif.
Laki-laki yang dulu selalu ia sebut dalam doa-doanya kini berada dekat dengannya memeluk dengan hangat dan memberikannya cinta yang menyempurnakan dirinya.
Di antara rengkuhan Hanif itu, Anita mengucap syukur tak henti. Berterimakasih karena laki-laki yang ia doakan tanpa henti itu kini tengah mendekapnya dan menjadi bagian hidupnya.
***
Mohon dukungannya dengan cara like, komentar dan vote..
__ADS_1
Salam hangat dari author^^