Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 66 - Perjalanan


__ADS_3

“sudah selesai kan?” tanya Hanif, raut wajahnya ia buat sememelas mungkin.


Hari demi hari Hanif menghitung dan menunggunya dengan sabar. Kini sudah 5 hari mereka menikah, tidak mungkin Anita belum selesai masa merah nya kan.


Anita menoleh.


“apanya?” Anita berbalik tanya dengan wajah polosnya.


Dia lupa sepertinya untuk menyampaikan berita kepada suaminya bahwa dia sudah selesai. Dan dia tidak tahu Hanif menghitung hari demi hari hanya untuk menunggu selesainya masa merah itu.


“tanggal merahnya sayang..” ucap Hanif lirih dan lambat.


Ekspresi Hanif seketika membuat istrinya itu tertawa geli. Anita yang saat itu tengah berada di depan laptop, memutar badannya menghadap sang suami.


“sudah. Sudah sejak 2 hari yang lalu..” ucap Anita tanpa rasa bersalah.


“kok nggak ngasih tahu, mas juga nggak pernah lihat kamu sholat, jadi mas pikir belum selesai. Padahal udah lewat 8 hari..” omel Hanif.


Ternyata mas Hanif punya sisi seperti ini.. merajuk, manja, imut sekali.Ucap Anita dalam hati


“mas menghitungnya?”

__ADS_1


Hanif mengangguk dan disambut tawa oleh Anita.


“maaf ya mas, Anita lupa ngasih tahu..” Anita meraih tangan suaminya, diusapnya tangan besar itu berharap suaminya akan berhenti merengek.


“ya udah ayo..” bujuk Hanif, tangannya menarik jemari Anita agar duduk bersebalahan dengannya.


“sekarang?”


“iya lah..” sahut Hanif cepat.


“tapi ini masih siang..”


“nanti kalau tiba-tiba pintu diketuk mama gimana?”


“huuuuuffh.. terus gimana? atau kita aja liburan yuk. Kita belum kemana-mana loh. Kita ke Gunung Kidul, nginep, semalem aja. Mas kan lusa juga udah masuk kampus..hmm? gimana?” Tukas Hanif nyerocos tanpa jeda.


Bukan tanpa alasan mereka menunda honey moon-nya. Sehari setelah pernikahan mereka mama lagi-lagi ribut tentang rencana pernikahan Azzam. Seperti tak kenal lelah, mama langsung menyusun ini itu untuk rencana lamaran Azzam.


“ya udah ayok, Anita siap-siap dulu, mas yang pamit sama ayah dan mama ya? Boleh?”


“ok” jawab Hanif riang. Seperti anak SD yang mendapat lampu hijau untuk pergi tamasya bersama kawan. Hanif melenggang meninggalkan Anita yang tengah bersiap.

__ADS_1


Anita dan Hanif terpaksa menunda honey moon mereka dulu. Mereka ikut terjun mengatur acara sakral kakaknya itu. mereka juga belum pindah ke rumah mereka sendiri karena jarak kampus Anita dengan rumah mereka lebih jauh lagi. Sehingga mereka memutuskan untuk tetap tinggal serumah dengan orang tua Anita sampai Anita menyelesaikan ujian tugas akhirnya.


Anita sudah siap dengan satu ransel baju ganti di punggungnya. Hanif mengambil tas itu dan memasukkannya ke dalam mobil. Ya, ayah rudi mengijinkan mereka membawa mobilnya agar pengantin baru itu tidak terlalu lelah karena menepuh jarak yang lumayan jauh ke Gunung Kidul.


Dalam sekejap mobil mereka melesat menuju tempat yang akan menjadi saksi bagi mereka berdua menghabiskan malam pertama sebagai suami dan istri.


1 jam perjalanan menuju gunung Kidul, dan masih harus menempuh setengah jam lagi menyusuri jalan pantai sel. jawa untuk sampai di penginapan mereka. Hanif memilih villa and cottage sebagai tempatnya menginap karena lebih luas dan seperti layaknya rumah, sehingga membuat mereka lebih nyaman.


Saat sampai di villa itu, jam sudah hampir menunjukkan waktu ashar. Setelah melakukan check in Hanif dan Anita diantar oleh pelayan villa menuju penginapan mereka.


Villa itu menghadap langsung ke laut. Menyuguhkan pemandangan hijau pegunungan dan birunya laut di waktu yang bersamaan.


Anita berlama-lama di depan jendela. Mengagumi setiap titik ciptaan Tuhannya. Sangat menakjubkan. Tidak ada yang akan mampu menggoreskan lukisan seindah dan senyata ini.


Hanif tiba-tiba memeluk Anita dari belakang, membuat Anita sedikit terperanjat sebab hanyut dalam lamunannya. Tangan Anita bergerak mengusap lembut tangan suaminya yang mendekapnya. Hanif menelengkan kepalanya, menyandarkan pipinya di kepala Anita.


“bagus ya? Sebagai orang Jogja mas baru sekali ini menginjakkan kaki disini dan menikmati pemandangan seindah ini, apalagi sama wanita yang sangat spesial buat mas..” ucap hanif di belakang, lalu ia memberikan kecupan lembut di kepala istrinya.


“Anita juga.. selama ini mama sama ayah terlalu sibuk, ayah sibuk bekerja mama sibuk ngurus Anita dan mas Azzam.. kalaupun pergi jalan-jalan, paling pulang ke kampung mama di Surabaya. Anita malah lebih hafal tempat wisata disana.”


Anita dan Hanif sama-sama terdiam. Hanyut dalam pikiran masing-masing tentang indahnya ciptaan Tuhan itu, tentang waktu yang selama ini ia habiskan tanpa tahu dunia luar, dan tentang diri mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2