Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 46 - Mendesak Azzam


__ADS_3

Sembilan bulan kemudian.


Di rumah Anita. Mama Rani, Anita dan sang kakak, Azzam sedang duduk berbincang di belakang rumah. Anita asyik mengunyah pisang goreng buatan sang mama sambil memainkan handphone nya. Sedangkan Azzam sibuk dengan tablet nya, mempersiapkan materi untuk kuliahnya. Saat ini Azzam menyempatkan pulang saat akhir pekan.


Sang mama menatap bergantian dua anaknya yang seperti orang asing. Sama sekali tidak ada pembicaraan antara keduanya sedari tadi. Lalu, mama Rani coba memulainya. Tentu saja meluapkan tentang keresahannya.


“Azzam, kapan kamu akan menikah nak?” tanya mama sambil terus menatap lembut si sulung. Azzam tidak merespon.


“iya mas, mas juga nggak kelihatan punya pacar.” Ucap Anita menimpali. Azzam masih terdiam, masih enggan memberikan komentar.


“kamu itu sudah 32 tahun, mama juga sudah pengen banget gendong cucu seperti teman-teman mama. Teman-temanmu juga sudah menikah semua kan?” seloroh mama lagi. kali ini menatap Azzam dengan penuh permohonan.


Azzam belum juga memberikan tanggapan. Dia sedang menata kata-kata agar tak menyakiti hati sang mama.


“apa di tempatmu mengajar sana tidak ada yang dapat menarik hatimu?” tanya mama lagi.


Mama Rani gantian menatap Anita karena Azzam tidak juga segera memberikan jawaban.


“mas..” panggil Anita sambil menyenggol paha kakaknya agar segera tersadar dari lamunannya. Azzam tersentak dan menatap Anita dan mama bergantian. Lalu menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


“begini saja ma, Azzam akan buatkan CV Azzam. Lalu mama bisa berikan CV itu pada teman-teman mama, pakde, budhe, paklek, om, tante siapa saja kenalan mama. Bilang kalau Azzam sedang berikhtiar untuk mendapatkan jodoh. Kalau dirasa ada yang cocok dengan Azzam menurut mama dan mama setuju, Azzam akan melamarnya.


Azzam manut.” Ucap Azzam panjang lebar.


Dia benar-benar memikirkan ucapannya itu matang-matang.


“baiklah. begitu juga lebih baik. Tapi apa di kampusmu itu tidak ada satupun yang menarik hatimu?” tanya mamanya lagi. Dia tidak ingin anaknya terpaksa menerima ta’aruf nantinya.


“tidak ada ma, kalaupun ada mama juga belum tentu suka.” Jawab Azzam. Dia menatap mamanya sekilas lalu kembali pada layar tablet di genggaman.


Mama tersenyum mendengar ucapan Azzam. Dari dulu, Azzam bukan anak yang berani neko-neko. Dia sangat pandai menjaga dirinya dari wanita yang bukan mahram.


“sebenarnya kemarin ada yang suka sama mas Azzam ma..” ucap Anita tiba-tiba sambil melirik ke arah kakaknya.


Dan Azzam membalas dengan tatapan penuh tanya. Menelisik ke arah Anita apakah hanya gurauan yang dilontarkan adiknya itu.


“siapa?” tanya mama Antusias.


“Zahra..” jawab Anita lugas.

__ADS_1


“Zahra sahabatmu itu? Yang sering kesini? Waah.. sayang sekali..” ucap


Mama berakhir dengan kecewa. Anita mengangguk-angguk, wajahnya menyiratkan sebuah ejekan pada sang kakak.


“kenapa sayang sekali ma? Mama tidak suka dengan Zahra?” giliran Azzam yang antusias saat mendengar nama Zahra disebut.


“sayan sekali karena Zahra sudah menikah.” Jawab Anita santai. Sesantai kakinya yang sekarang menyila dengan sempurna. Punggungnya ia rebahkan ke sandaran kursi. Tangannya terus memainkan handphonenya.


“apa? Zahra sudah menikah?” tanya Azzam tercengang dengan penuturan sang adik.


“kenapa sih kagetnya begitu banget..” Anita menatap tajam ke arah Azzam.


Sedangkan Azzam menyadari tatapan itu langsung mendelik. Lalu menggelengkan kepala. Ia segera pamit menuju ke kamarnya agar tidak ketahuan bahwa dia sedang salah tingkah.


*****


Maafkan kalau ada sedikit typo ya, author lagi sedikit ngebut karena kepala puyeng bener..


jangan lupakan tombol like nya, dan juga tinggalkan komen-komen ya. komen kalian penyemangat buat MJ^^

__ADS_1


__ADS_2