Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
episode 392


__ADS_3

HAII READER KU TERSEYENG JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU


LOPE U FULL


HAPPY READING YA GUYS


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


LANJUT ****


Davin hanya menatap sinis kearah Rino,lalu setelah itu ia mendekati pria itu dan menjepit kepala di sela ketiak.


"Heii kamu mau ngapain,lepaskan tidak?" Teriak Rino.


"Masih mau berlagak jagoan hah,kalau aku pulang sekarang kamu mau apa tadi?" Tanya Davin sambil terus menjepit kepala Rino.


"Ma tolongin aku dong ini sakit." Pinta Rino pelan.


"Enak saja,gara gara kamu istriku tadi bilang kasihan dan Sayang." Sambung Davin lagi.


"Aishh itu urusan kalian bukan aku,ayolah lepaskan tidak." Kesal Rino lagi.


Setelah puas menuntaskan amarahnya,Davin segera melepaskan Rino dan menatap sambil tersenyum mengejek kearah nya.


"Apa lihat lihat?" Kesal Rino.


"pergi mandi sana,ingat setengah jam harus sudah sampai disini!" Ucap Davin tajam.


"Widih kamu pikir aku bebek apa,yang penting basah tidak perlu bersih!" Sungut Rino.


"Bodoh amat,cepat naik dan mandi sebelum ku panggil bencong yang memandikan kamu!" Ancam Davin membuat Rino bergidik ngeri.


"Kamu ih ada saja yang kamu lakukan,kasihan lho dia nya sampai buru buru begitu!" Gerutu Silvia.


"Sayang jangan coba coba belain dia,aku suami kamu menentang keras hal itu!" Tegas Davin membuat Silvia menatap jengah kearahnya.


Sedangkan Yuli dan Dika hanya bisa geleng kepala,sungguh tingkat posesif Davin sebelas dua belas dengan sang Papa.


"Kalian itu berlebihan minta ampun tau tidak,apa tidak capek tuh mulut marah marah tidak jelas?" Sindir Yuli tak mau kalah.


"Siapa suruh cari perkara." Ketus Davin lalu segera kembali duduk.

__ADS_1


"Yang aku ke kamar dulu ya,kayaknya capek sekali." Pinta Silvia saat Davin menatap kearahnya betapa terkejutnya pria itu ketika melihat wajah pucat sang istri.


"Kamu sakit,kok pucat sekali?" Tanya Davin cemas membuat Dika dan Yuli juga akhirnya tersadar dengan keadaan menantu mereka itu.


"Astaga iya benar,kamu kenapa nak perasaan dari tadi baik baik saja?" Tanya Yuli tak kalah cemas.


"Papa telfon dokter ya?" Tanya Dika yang berusaha tidak terlalu khawatir.


"Tidak perlu Pah,aku istirahat saja ya tolong!" Pinta Silvia pelan.


"Ya sudah kamu kembali ke kamar saja,nanti kami yang bakal menghandle semua urusan dengan Rino." Sahut Yuli yang terlihat sangat cemas.


Davin sangat mencemaskan keadaan istrinya itu,tanpa banyak bicara ia langsung menggendong Silvia menuju kamar mereka jika sedang menginap disitu.


"Turunkan aku dong Sayang,ini berat lho nanti kita jatuh!" Pinta Silvia karena tak mau suaminya kenapa napa.


"Biarpun ku gendong sampai ke ujung dunia sekalipun aku akan tetap melakukan nya,jadi sayang kamu tenang saja ya suami mu ini bukan pria lemah." Goda Davin membuat Silvia tersipu malu.


"Kamu kok bisa sepucat ini Yang,perasaan tadi tidak kenapa napa?" Tanya Davin cemas.


"Aku juga bingung perasaan tadi baik baik saja deh,eh tiba tiba mendadak pusing seperti ini." Sahut Silvia sambil memejamkan matanya karena sangat pusing menatap sekeliling nya.


Bagaimana kalau istrinya sakit dan ia tak tahu sama sekali,bagaimana kalau selama ini ia gagal menjaga dan memperhatikan istrinya itu?


Silvia yang merasakan pusing,tanpa sadar dengan cepat ia tertidur dalam gendongan Davin hingga sampai didalam kamar.


Davin yang mengetahui jika istrinya sudah tertidur ,secara perlahan membaringkan dirinya diatas ranjang.


Setelah itu ia langsung duduk di samping Silvia,menatap kearah wajah terpejam dan pucat itu.


"Kamu sakit apa sih,kok bisa sampai sepucat ini ?Maafkan aku jika selama ini tidak pernah memberikan perhatian lebih,aku sayang kamu!" Lirih Davin lalu segera mengecup lama kening Silvia.


Karena tidur nya yang nyenyak,Membuat Davin tak tega untuk membangunkan nya.Secara perlahan diselimuti Silvia,lalu setelah itu ia menuju kamar mandi.


Ingin hati menemani sang istri,akan tetapi urusan Rino juga lebih penting.


Davin tak mungkin membiarkan orang tua nya mengurus hal itu sendirian,sebagai saudara ia juga berkewajiban membantu bukan?


Setelah memperbaiki posisi tidur Silvia agar lebih nyaman,Davin langsung keluar daru situ dan menuju lantai bawah tepat Rino juga baru sampai.


Rino merasa heran perubahan Davin itu padahal tadi kan baik baik saja,kenapa sekarang jadi mewek begitu.

__ADS_1


"Kamu kenapa,kok jadi jelek begitu?" Tanya Rino mengejek.


Davin hanya menatap tajam kearah Rino tanpa ada niat untuk menjawab,karena jika hal itu terjadi bisa dipastikan keduanya bakal ribut.


Yuli yang melihat Davin sudah turun,tanpa tedeng aling ia langsung bertanya tentang keadaan Silvia.


"Avin,keadaan Via bagaimana?" Tanya Yuli cemas.


"Hemm dia lagi tidur." Sahut Davin lemas dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Lho memang nya Via kenapa?" tanya Rino pelan.


"Badan nya kurang sehat,nanti biar Mama sendiri yang periksa daripada panggil dokter dari luar." Sahut Yuli dan hanya mendapatkan anggukan kepala dari Davin.


"Perasaan tadi baik baik saja,sekarang kok sakit?Atau jangan jangan kebanyakan kamu ajak begadang,jadi nya istri kamu drop?Makanya Bro jangan terlalu ganas kalau mau main,kasihan kan bibinya jadi keok." Ujar Rino.


"Kamu diam atau bakal ku paksa


biar diam!" Kesal Davin.


Rino menurut supaya diam,karena ia tahu Davin kini tidak bisa diajak bercanda.


Dika dari tadi hanya terdiam memikirkan menantu,ditambah lagi dengan memikirkan reaksi dari Rino nanti.


"Pah,kenapa diam?" Tanya Rino heran.


"Hemm,kalian duduk lah ada yang mau Papa bicarakan!" Pinta Dika serius.


Suasana disitu berubah jadi serius,semua dalam pikiran masing masing.


"Rino Sebelumnya Papa sama Mama mau minta maaf jika nantinya apa yang mau Papa sampaikan membuat kamu marah." Ujar Siska sambil menatap kearah putranya itu.


"Papa ingin sebentar malam kamu dan semua pergi ke rumah keluarga yang anak wanitanya akan kami kenal kan kepada kamu. Tolong jangan tolak karena ini hanya untuk mengenalkan saja,tidak ada niat untuk menjodohkan." Sambung Dika lagi.


Deg deg deg


Jantung Rino serasa berpindah dari tempatnya,ia merasa langitnya akan runtuh seketika.Perkataan Dika tadi adalah pukulan terberat baginya,ingin membangkang akan tetapi ia tak mau menjadi orang yang tak tahu berterima kasih.


Masih sadar di benak nya segala perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh keluarga itu,akan tetapi ini masalah hati haruskah dirinya diam saja.


"Jadi bagaimana nak,kamu bersedia kan?Tolong jangan bikin malu kami,karena sudah memberikan harapan palsu!" Pinta Dika.

__ADS_1


__ADS_2