
Siang hari, Anita hendak pergi menemui Zahra di kontrakan barunya. Iya, Zahra dan suami memutuskan menyewa sebuah rumah di sekitar kampus, agar leluasa saat Wildan berkunjung ke Jogja.
Anita membawa serta laptop dan perangkatnya lalu beberapa baju seandainya ia memutuskan menginap nantinya.
Satu tangan Anita menggamit jaket dan meletakkan di bahu kirinya, sisi tangan lainnya memegang tas tangan berisi buku-buku dan beberapa bendel jurnal sebagai pendukung penyusunan skripsinya.
Setelah berpamitan pada mama, Anita menyalakan motornya, menaruh tas tangan di gantungan motor maticnya lalu melesat bergabung di jalanan kota Jogja.
Pukul 14.00 Anita sampai di kontrakan Zahra. Selesai memarkirkan motornya lalu Anita mengetuk pintu itu. Lama Zahra tidak segera membuka pintu, namun Anita mendengar suara orang di dalam.
Di kamar mandi, rupanya Zahra sedang muntah parah, ia hampir mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Anita mencoba membuka pintu itu yang ternyata tidak terkunci, segera ia berlari menuju ke arah sumber suara. Di depan kamar mandi, Zahra sudah terduduk lemas. Matanya terpejam menahan perih di perutnya. Beruntung Zahra tidak sampai pingsan.
“Zahra kamu kenapa? Ya Allah kamu pucet banget..” ucap Anita, ia ikut gemetar melihat sahabatnya seperti itu untuk pertama kalinya. Tangan kanan Anita bergerak ditempelkannya pada Zahra, mengecek suhu. Aman. Masih normal, Pikirnya.
Zahra masih terdiam belum sanggup mengucap kata, matanya mengerjap, tangannya terus mengelus perut yang teras perih kini karena ia terlalu keras memaksa keluar seluruh isinya.
“ayo, bangun.. pindah ke kamar dulu..” titah Anita. Satu tangan Anita menggamit lengan Zahra satunya lagi memegang lengan Zahra sebelah kanan, lalu menuntunnya ke kamar, membaringkan Zahra di atas ranjangnya. Kemudian membuatkan teh hangat untuk Zahra agar tenaganya kembali pulih. Membawa ke kamar dan meminumkannya pada Zahra.
__ADS_1
“diminum dulu teh nya..”
Zahra meminum tehnya sampai tandas. Ia merasa sudah lebih baik dengan teh Anita.
“kamu kenapa?” tanya Anita lagi.
“aku tidak tahu, tiba-tiba saja mual lalu muntah. Aku juga pusing banget.” Tutur Zahra, suaranya masih lemah.
“Kamu nggak demam, kita ke rumah sakit saja ya, aku pesankan taksi online. Ya?” bujuk Anita. Sebenarnya dia sangat ketakutan melihat Zahra. Apalagi dia sama sekali tidak berpengalaman mengurusi orang sakit. Zahra menggeleng.
“nanti pasti sembuh sendiri kok.. sekarang aku sudah mendingan walaupun masih mual.” Zahra kembali memejamkan matanya.
Tapi kan…”
“ya sudah, tapi malam ini aku menginap ya.. aku takut kamu kaya tadi lagi.” Pinta Anita kemudian diikuti anggukkan dari Zahra.
Anita masih memandangi sahabatnya itu memastikan hingga benar-benar terlelap. Anita meyibakkan selimut di sebelah Zahra lalu menyelimutinya. Anita menatap Zahra sendu. Zahra yang biasanya ceria, petakilan bahkan menyebalkan, melihatnya dalam keadaan lemah membuat Anita ikut merasakan nyeri.
“berjauhan dengan suami dan sedang sakit begini, pasti berat Zah.. aku akan bantu skripsi mu semaksimal ku biar kamu bisa segera ikut suamimu..” Gumam Anita didepan Zahra yang terpejam.
__ADS_1
“berarti aku harus sering-sering traktir kamu ya?” Zahra terkekeh lemah, lalu matanya dengan sangat perlahan terbuka. Menatap Anita dengan tatapan sayu. Anita tergelak.
“kamu belum tidur?”
“kamu berisik, gimana bisa tidur..”
“heleh, biasa juga aku jungkir balik kamu tetep aja ngorok..”
“tapi kan aku lagi sakit sekarang Anita Shoffiyah.. aku juga nggak tau kenapa, akhir-akhir ini susah banget mau tidur.”
“hmm, butuh pelukan suami itu mah..”
“mungkin..” lagi-lagi Zahra terkekeh dan Anita tergelak.
“ya sudah aku keluar dulu, aku mau baca-baca jurnal penelitian dulu. Kamu tidur aja.”
Zahra kembali memejamkan matanya saat Anita telah benar lenyap di balik pintu.
****
__ADS_1
Jangan lupa like ya kakak...
tinggalkan jejak komentar juga boleh..