Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Pulang


__ADS_3

Malam ini Aurora dan Edward telah selesai berkemas. Setidaknya ada lima koper besar yang akan dibawa pulang oleh mereka. Aurora kini sedang merapikan kamar tempat tidurnya agar tampak rapi kembali. Sedangkan Edward menelfon anak buahnya untuk menurunkan barang barangnya kebawah.


Tak lama kemudian anak buah Edward datang, mereka datang bertiga dengan pakaian formalnya menyapa Edward patuh.


"Selamat malam King.." salam hormat mereka bertiga.


"Malam, tolong bantu turunkan semua barang barangku. Apa Alex sudah memesankan akomodasi untuk membawa barang barangku?" Tanya Edward


"Sudah Tuan, mobilnya ada didepan loby hotel. Mobil Anda juga sudah terparkir disana." jawab salah satu anggotanya.


"Baiklah, aku akan segera turun. Bawalah dulu barang barang itu. Katakan kepada yang lain, kita akan segera berangkat ke bandara.! Katakan pada mereka untuk mempersiapkandiri. " perintah Edward


"Siap King laksanakan.!" seru mereka bertiga


Setelah anak buahnya keluar, Edward menghampiri Aurora yang sedang duduk dipinggiran ranjang sambil mengecek dokumen penting didalam tasnya.


"Sayang sudah siap..?" tanya Edward


"Hem, sudah. Aku sudah selesai. Ayo kita turun. Pasti yang lain sudah menunggu kita." ucap Aurora yang langsung berdiri merangkul lengan suaminya.


"Ayo..!" ajak Aurora. Tapi Edward diam tak bergerak dari posisinya. Edward terus saja memandangi Aurora, entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Ada apa..?" Tampak Aurora mengerutkan dahinya, mencoba menebak isi pikiran Edward.


"Sebentar,.. " Ucap Edward menahan tangan Aurora dan membawanya kearah balkon kamarnya.


Edward meraih pinggang Aurora dan menekan kedepannya agar lebih dekat dengan tubuhnya. Edward melancarkan ciumannya, ciuman panjang dengan background Menara Eiffel dibelakangnya.


Angin berhembus pelan, menerbangkan helaian rambut Aurora menjadikan Edward semakin bersemangat menyesap bibir Aurora. Edward semakin menekan tubuh Aurora semakin erat dan semakin rapat menempel pada tubuhnya. Edward merasakan kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya seakan enggan melepaskan pagutannya.


"I love you my sunshine." ucap Edward seraya mengecup kening Aurora lama.


Aurora tersenyum, hatinya begitu bahagia mendapat perlakuan manis dari suaminya. Entah sudah keberapa kalinya Edward mengucapkan kata cinta untuknya.


"I love you too honey.." ucap Aurora sambil memeluk Edward. Mereka berdua saling menempelkan dadanya untuk membuat sebuah ikatan batin satu diantaranya. Perasaan nyaman dan tenang itulah yang sedang mereka rasakan.


Setelah lama berpelukan, Aurora melonggarkan pelukannya dan sedikit mendongakkan kepalanya, "Apa sudah puas suamiku? Kalau sudah, sebaiknya kita segera turun, pasti yang lain sudah menunggu kita."

__ADS_1


Edward tersenyum dan mengecup bibir Aurora sekali lagi, "Rasanya aku belum puas sampai aku melakukan yang lebih padamu, tapi apa dayaku, kita sudah ditunggu banyak orang. Ayo, kita turun." ajak Edward dan menutup pintu balkon kamarnya kembali.


"Ayo, tolong bawakan tas ranselku yang hitam itu ya, aku bawa yang ini." pinta Aurora pada suaminya.


Edward mencangklong tas itu dibahu kanannya dan merangkul pinggang Aurora keluar dari kamar


Presidential suite setelah mencabut cardlock.


Pasangan Asia itu menebarkan senyumnya saat berpapasan dengan orang lain. Edward terlihat cool dengan kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya, serta padu padan antara baju, celana dan sepatunya. Begitu pula dengan Aurora yang tampak cantik dengan gaun hitam slim fit selutut dan dilapisi dengan jaket merah mudanya yang tak dikancingkan. Pasangan itu menuju lantai bawah untuk cek out dan pulang ke negaranya.


Sampai dilantai bawah, Edward dan Aurora disambut dengan Lukas dan Kwan yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Selamat malam Tuan, Nona, semua sudah siap, mereka sudah menunggu Anda." ucap Lukas dengan bahasa formalnya.


"Malam Lukas, Baiklah suruh mereka berangkat kebandara duluan, lalu dimana putraku?" ucap Edward seraya mengangsurkan cardlock dan kartu debitnya pada Lukas.


"Ada didepan bersama nona Amel Tuan." jawab Lukas dan berjalan duluan ke meja resepsionis untuk cek out serta membayar kekurangan biaya penginapan.


"Kwan, kau yakin tak ikut bersama kami?" tanya Edward sambil berjalan.


"Ini kado untuk pernikahan kalian. Aku khusus membelinya untuk kalian berdua. Semoga kalian menyukainya." ucap Kwan sebelum Edward bertanya.


"Terima kasih Tuan Kwan, sebenarnya tidak perlu repot repot begini." ucap Aurora dengan senyum ramahnya.


"Jangan terlalu sungkan nona, suamimu ini adalah teman baikku. Kalau boleh, tolong dekatkan saya dengan nona Selly nona Aurora." ucap Kwan sambil melirik Edward, takut takut ia akan dipukul kepalanya.


"Eh, jadi ada udang dibalik batu ni?" ucap Edward sebal.


"Ayolah Ed, aku menyukainya sejak pandangan pertama, dia wanita yang tidak mudah didapatkan. Aku semakin tertarik padanya." ucap Kwan jujur.


"Maaf Tuan Kwan, aku tak bisa janji padamu, tapi akan aku coba," ucap Aurora


"Sebaiknya kamu mundur saja Kwan, sainganmu cukup berat." ucap Edward.


"Sebelum janur kuning melengkung, masih ada harapan untuk menikung, apalagi sekarang dia belum punya status.'' ucap Kwan dengan percaya diri.


"Baiklah, terserah kamu saja. Aku sudah mengingatkanmu." Edward berkata sambil menepuk bahu Kwan memberi semangat.

__ADS_1


Lukas datang menghampiri Edward dan Aurora yang masih berbincang ringan didepan loby hotel.


"Silahkan Tuan, mobil anda sudah siap. Anda mau menyetir sendiri atau bersama supir? Brian dan nona Amel sudah didalam mobil. Yang lainnya juga sudah persiapan berangkat." Lapor Lukas dan menyerahkan kartu debit Edward kembali.


Edward menghitung mobil dibelakang mobilnya. Setidaknya ada lima mobil yang ikut dalam rombongannya. "Aku akan menyetir sendiri. Kau berangkatlah bersama yang lain." ucap Edward


"Baik Tuan, hati hati dijalan." ucap Lukas dan berpamitan pada Kwan.


"Hati hati Edward, jaga dirimu baik baik. Jika aku melawat ke negara mu,pastikan kau dalam keadaan sehat walafiat ." Kwan berkata sambil menepuk punggung Edward. Hatinya berkata seakan ada badai besar yang akan menghantam teman baiknya ini.


"Baiklah, aku tunggu kedatanganmu. Jaga dirimu baik baik. Aku berangkat dulu. Salam untuk kedua orang tuamu.Kapan kapan aku juga akan ke negaramu. Jangan lupa segera selesaikan tugasmu.!"


"Oke. Bye.." Kwan melambaikan tangannya.


Edward dan Aurora masuk kedalam mobil. Mereka mendapati Brian sedang tidur dipangkuan Amel dengan jaket yang membalut tubuhnya serta dot dimulutnya.


"Sejak kapan Brian tidur?" tanya Edward sambil memasang sabuk pengamannya.


"Barusan. Ini memang sudah jam tidurnya Kak." ucap Amel sambil bermain ponsel ditangannya.


"Baiklah kita berangkat, apa tidak ada yang tertinggal?"


"Tidak ada Kak, semua sudah aku masukkan ke mobil barang."


"Baiklah."


Mobil melaju sedang menuju bandar udara Roissy diikuti empat mobil dibelakangnya. Amel sesekali menatap raut wajah bahagia kakaknya. Ia beberapa kali melihat perlakuan manis yang diberikan Edward pada Aurora. Hatinya berkata jika kelak berumah tangga ingin mendapatkan pasangan seperti kakaknya. Pria baik, lembut dan penuh kasih sayang pada keluarganya. Ia membayangkan sungguh bahagianya kehidupan seperti itu. Harapannya hanya semoga dan semoga.


.


.


.


Bersambung...


.

__ADS_1


__ADS_2