Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Laura Cha


__ADS_3

Aurora masih duduk di depan komputernya mengerjakan tugas tertunda beberapa hari ini. Jari tangannya bergerak lincah diatas papan keyboard dengan kepalanya yang tampak manggut manggut mendengar musik yang diputar melalui headphone yang terpasang di kedua telinganya.


Setelah tadi Edward mengabari jika Jingmi tidak bisa ditemui malam ini, Aurora lebih memilih mengerjakan tugasnya sembari menunggu Edward pulang.


Waktu sudah menunjukkan jam 1 dini hari tapi tampaknya Aurora belum mau menghentikan aktivitasnya. Ia masih sibuk dengan angka angka di monitornya.


Edward yang baru saja tiba, menyandarkan tubuhnya di pintu sambil bersedekap dada. Ia tak menyangka jika istrinya belum tertidur dan masih asyik dengan pekerjaan hingga kedatangannya pun tak diketahuinya.


Edward melangkah dan langsung memeluk Aurora yang sedang duduk dari belakang.


"Kamu mengabaikan aku?"


Aurora segera melepas headphone dan mengecup pipi Edward sekilas. "Maaf, aku tidak mendengar."


"Hem, kamu terlalu asyik sendiri, apa yang sedang kamu kerjakan? apa tidak bisa dikerjakan besok? ini sudah malam waktunya istirahat."


"Aku tahu. Sebentar lagi selesai."


"Baiklah. Aku akan membersihkan diri sebentar, setelah itu tinggalkan pekerjaanmu dan temani aku tidur. Kau mengerti honey."


"Ya."


Edward mengecup pipi Aurora sebelum berlalu. Sedangkan Aurora segera menyelesaikan pekerjaannya dan mematikan komputernya. Ia segera memposisikan tubuhnya di ranjang dan segera menarik selimut.


Edward yang sudah selesai langsung mendekap Aurora dan mencari kehangatan di dalam selimut yang sama.


"Sayang, bolehkah?" tanya Edward


"Tidak!" jawab cepat Aurora


"Ayolah, kamu menipuku."


"Ini sudah malam waktunya istirahat." Aurora mengembalikan ucapan Edward beberapa saat yang lalu.


Edward terdiam lalu memunggungi Aurora begitu saja. Bukan kesal atau apa, tapi Edward hanya ingin mengerjai istrinya dengan berpura-pura merajuk.


Aurora yang melihat itu juga membalikkan badan memunggungi Edward. Keduanya saling diam dan tak ada yang bergerak se senti pun. Edward menggerutu dalam hati, kenapa sikap Aurora seperti itu, kenapa wanita itu seakan tidak peduli padanya. Padahal bukan seperti itu yang ada dipikiran Aurora.

__ADS_1


Aurora sebenarnya juga merasa bersalah pada Edward, tapi ia masih belum siap melakukan itu. Ia takut hamil dan mengalami kejadian buruk seperti saat ia mengandung dua anak kembarnya. Jadi ia memilih tak menanggapi rajukan Edward malam itu.


Sial, kenapa wanita ini? Apa yang terjadi padanya, mau sampai kapan seperti ini. Haruskah aku menahan diri lagi. Setidaknya katakan kenapa tak mau disentuh olehku Aurora.


.


.


Pagi-pagi sekali, Jingmi sudah menyambangi kediaman Aurora bersama asistennya Chen. Dua pria itu duduk dengan nyaman di sofa bersama Brian dan dua anak kembar yang juga menunggu ibunya turun.


Saat melihat Aurora dan Edward turun bersamaan, Kevin segera mengajak anak anak untuk pergi, hatinya bertanya tanya tapi segera ia enyahkan saat melihat tatapan mata Aurora.


"Ada apa dengan mereka, apa mereka tidur bersama. Mereka sudah seperti pasangan suami istri saja. Apa mereka sedang menjalin hubungan. Haruskah aku melapor pada Tuan besar." Batin Kevin yang menyadari tautan tangan Edward begitu mesra.


"Maaf mengganggu waktu anda Tuan tuan, sebaiknya kita berbicara di ruang kerja saja. Silahkan." Aurora membuat gestur pada tangannya.


"Jangan sungkan nona." jawab Chen, sedangkan Jingmi hanya mengangguk.


Keempat orang itu telah duduk dengan nyaman, Aurora kemudian menceritakan hasil penyelidikan yang ia dapatkan dari awal hingga akhir. Edward juga menyimak apa yang dibicarakan istrinya.


"Jadi apa anda mengenal mereka Tuan Jingmi?" tanya Aurora.


Jingmi bahkan terkejut mendengar apa yang diucapkan Aurora. Aurora sedang mengungkap keberadaan adiknya yang diadopsi oleh ayahnya. Bagaimana mungkin Laura Cha adalah adik tiri Aurora, walau tak dapat di pungkiri jika wajah mereka terdapat kemiripan.


Jingmi kemudian meraih bukti bukti yang dikumpulkan Aurora. Ia bersama asisten Chen membaca seksama sebelum menjawab pertanyaan Aurora.


Asisten Chen sesekali melirik Jingmi yang masih serius membaca, padahal sudah jelas jelas jika nama Tuan besar terdapat disana. Pasti yang dimaksud Aurora adalah Laura Cha.


"Nona Aurora, sebelumnya saya ingin bertanya, kenapa anda baru sekarang mencarinya? Ini sudah sangat lama, pasti anda kesulitan mengaksesnya, apa lagi latar belakang gadis itu." ujar Jingmi seraya meletakkan berkas itu kembali ke meja.


Aurora menghela nafasnya pelan. Ia juga mengakui jika ia sangat kesulitan mencari jejaknya. Tapi setidaknya ia sudah tau keberadaan adik tirinya walau belum berhasil menemuinya. Harapannya jika rumor yang diberitakan orang orang tidak benar adanya.


"Sebelumnya saya tidak pernah terpikirkan untuk mencarinya, tapi saya harus meluruskan silsilah keluarga kami, saya tidak ingin jika kelak anak anak menikahi saudaranya sendiri." jawab Aurora yang terdengar logis.


Jingmi hanya mengangguk. Pria itu tersenyum kaku, tak percaya jika ayah kandung adiknya adalah Tuan Hardy ayah Aurora. Bahkan lebih tak menyangka lagi jika adiknya terlahir dari perbuatan bejat ayah Aurora.


"Apa kamu benar ingin bertemu dengannya? Apa alasanmu nona.?" tanya jingmi sekali lagi.

__ADS_1


Aurora menoleh pada Edward. Ia bingung kenapa Jingmi bertanya seperti itu, apa pria itu kenal dengan gadis yang sedang dicarinya, tapi ia tetap memberikan jawaban jujurnya.


"Aku ingin mengajaknya tinggal bersama kami, papa dan mama juga ingin bertemu dengannya. Kami ingin tahu seperti apa adikku sekarang. Kami ingin minta maaf padanya."


Jingmi lagi lagi tersenyum kecut. Orang yang sedang dicari Aurora telah tiada, dia sudah bahagia di alamnya. Jingmi menarik nafasnya dalam dalam, sedih jika ia teringat adik kesayangannya.


"Nona, sepertinya keinginan anda tidak bisa terwujud. Laura Cha sudah bahagia disana. Anda ataupun keluarga anda tidak bisa menemuinya."


"Apa maksud anda! apa anda mengenalnya?" tanya Aurora penuh selidik. Aurora bahkan melirik Edward yang hanya diam saja sedari tadi. Apa suaminya juga telah mengetahui sesuatu?


"Ya, mafioso yang anda cari adalah ayahku."


Deg


Deg


Aurora bahkan sampai menahan nafasnya ketika mendengar satu kalimat yang dilontarkan Jingmi. Ia menggeleng pelan. Apa maksudnya ini!


"Gadis yang kamu maksud adalah Laura Cha, dia adalah adik perempuan kami. Ayah dan ibuku yang mengadopsinya dari panti asuhan. Awalnya aku mengira jika kamu adalah Laura, ternyata bukan. Wajah kalian hampir mirip jika dilihatnya sekilas."


"Apa karena itu kamu menyukai istriku!" celetuk Edward mengerutkan kening.


Jingmi tersenyum dan mengangguk.


Edward mendengus kesal, sedangkan Aurora malah menatap Edward dan Jingmi dengan tatapan bingung, apa maksudnya ini!


"Laura sudah meninggal nona Aurora. Dia ternyata punya penyakit bawaan sedari lahir. Jika anda dan keluarga ingin melihatnya, kami akan mengantar ke makamnya. Anda juga bisa bertemu dengan Ayah dan ibu kami. Maaf jika kami sudah tidak sopan kepada utusan anda. Ayah tidak tau jika anda yang mengutus mereka." ujar Jingmi sopan.


Aurora mengatupkan bibirnya rapat, rumor yang dibicarakan orang orang ternyata benar adanya. Ia tersenyum kecut dengan pemikirannya sendiri. Apa yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan yang ada.


"Hufh..."


Aurora menghela nafasnya.


.


.

__ADS_1


.


#####


__ADS_2