Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Tunggu aku kembali


__ADS_3

"Diamlah baby, semakin kamu bergerak semakin kamu membangkitkan Leon yang sedang bertapa di singgah sananya. Apa kamu tak merasakan sedikit pergerakannya." ujar Edward dengan begitu menggoda.


Aurora terperangah mendengar penuturan Edward, tapi ia segera membuang muka ke samping menghindari tatapan maut sang suami yang sedang memintanya.


Edward menarik pelan dagu Aurora dan segera bibirnya mengeksekusi dan menjelajahi dua daging tipis yang suka bicara ketus, tanpa bertanya pada sang empunya.


Aurora terkejut dan tanpa sengaja membuka bibir mungil tersebut seakan raga itu mengijinkan sang pemilik jiwa menerobos masuk.


Dalam hati Edward tersenyum senang. Ia tak akan membiarkan hal ini berakhir sia sia.


Diraihnya kepala Aurora dan menelusupkan bagian dalam mulut yang memanjang, agak tipis dan bisa bergerak gerak ke dalam Oris sang pemilik hati.


Seketika Aurora memejamkan mata menikmati rasa yang baru saja hadir menelusup dalam hatinya. Dikalungkannya kedua tangan ke leher Edward yang bergerak mengikuti kepala yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Oh."


Aurora mengumpati mulutnya yang tiba-tiba bersuara disaat seperti ini. Wanita cantik itu perlahan membuka mata dan mendapati Edward yang tengah tersenyum menatapnya.


Tatapan yang sangat teduh yang tiba-tiba membuat hatinya berdesir tak karuan. Aurora menggulum bibirnya sekuat tenaga agar bibirnya tak melengkung ke atas karena merona dan terpesona saat mata itu memandanginya.


Lampu kamar yang redup seakan menambah romansa romantis yang sedang diciptakan dua anak manusia itu.


Belum ada yang saling berbicara satu sama lain, mereka sibuk mengagumi dan menyelami pikiran pasangannya. Hati Edward terus mendorong dirinya untuk melakukan sesuatu yang lebih tapi tidak dengan pikiran rasionalnya. Ia masih takut jika apa yang akan di lakukannya akan melukai hati wanitanya.


" I am your lady." ujar Edward begitu lirih.


"And you are my man." jawab Aurora malu.


Edward tersenyum dan mencium kening Aurora lama.


Hati Aurora terasa menghangat. Ia semakin tidak rela mengijinkan suaminya pergi. Ia takut kehilangan belahan jiwanya untuk yang ketiga kalinya, tapi ia bisa apa, ia juga tak mampu mencegahnya.


Edward bangkit dan duduk di tepi ranjang. Pria itu membuka wajah sintetis yang sedang dikenakannya lalu mengambil sesuatu diatas nakas yang beberapa hari tergeletak disana tanpa ada yang menyentuh tas kertas itu.


Sebuah paperbag berwarna merah yang di dalamnya berisi sebuah kotak kaca yang hanya bisa dibuka oleh pemiliknya.


Pria itu mengeluarkan sebuah jam tangan digital berwarna silver dari kotak kaca itu.


"Aku akan memakaikan benda ini padamu." ujar Edward langsung meraih tangan Aurora.


"Benda ini akan membantumu untuk selalu terhubung denganku walau tak ada dalam jangkauan sinyal sekalipun."


Aurora bergeming.


"Aurora, izinkan aku pergi. Disana adalah wilayah sangat berbahaya, aku tidak bisa membiarkan mereka ke sana sendiri."


Edward mengecup punggung tangan Aurora penuh cinta. Ia tersenyum kecil menatap mimik Aurora yang sedikit bergetar. Ia tahu jika Aurora sedang melawan keegoan hatinya.


"Kamu seorang pemimpin, apa kamu berniat menumbalkan mereka? Mereka bahkan sama seperti kita. Mereka juga punya keluarga yang senantiasa di tunggu kepulangannya."

__ADS_1


"Aku mengerti, tapi aku juga takut." Aurora menunduk dan memandangi jam tangan pemberian Edward, ia memang tidak mempunyai firasat apapun, tapi tetap saja ia sangat khawatir. Dalam hati ia juga ingin mengikuti kemana pun suaminya pergi, tapi ia masih memikirkan ketiga putranya.


Edward mengangkat pelan dagu Aurora dan tersenyum tipis. "Sebegitukah kamu mencintaiku hingga hati dan ragamu tak mengijinkanmu melepaskanku?"


Aurora memalingkan muka. Malam ini dirinya di tuntut untuk menjadi wanita pengertian oleh suaminya. Ia bisa apa.


Edward menghela nafasnya. Ia beranjak dari ranjang menuju ruang ganti. Pria itu mengganti bajunya dengan setelan hitam dan menarik koper kecil di atas almari. Pria itu memasukkan beberapa potong pakaian dan menarik dua buah senjata mematikan dari balik brankas.


"Kak."


Edward langsung menoleh dan mendapati Aurora yang telah bersimbah air mata. Wanita itu tampak menangisi kepergiannya.


"Jangan pergi." lirih Aurora.


"Aku.. aku akan memberikan hakmu tapi berjanjilah untuk tidak pergi. Aku.. aku mohon Kak." ujar Aurora bergetar menahan sesak dalam hatinya.


Edward langsung merengkuh tubuh Aurora. Disandarkannya kepala Aurora dalam dadanya dan di usapnya pelan punggung itu yang semakin bergetar.


"Tolong jangan memberati langkah ini sayang. Aku berjanji akan kembali dengan selamat. Kamu harus mendoakan aku hem."


Edward mengurai pelukan Aurora dan menatap sendu mata itu yang tampak memerah. Wanita itu benar-benar tidak rela dirinya pergi.


"Aku akan benar-benar gila jika kamu tak kembali." lirih Aurora sesegukan mengusap wajah tampan suaminya yang menatapnya menghiba. Jika begini, ia tak bisa mengatakan tidak walau dengan berat hati.


"Sssttt! apa yang kau katakan hem. Kali ini kamu harus percaya padaku. Aku akan kembali dengan selamat. Aku janji tidak akan ikut terjun langsung. Aku akan sembunyi di dalam tempurung besi, hem.."


Aurora lantas memukul pelan dada Edward. Sama sekali tidak lucu pikirnya.


"Senjata apa maksudmu?"


Edward menarik pinggang Aurora untuk lebih merapat kearahnya. Edward tersenyum menyeringai.


"A..apa.. kamu mau a..pa." Gugup Aurora


"Aku mau memakanmu." bisik Edward dan mengulum daun telinga Aurora. Satu buah kode keras dari Edward untuk pemilik raga. Benar saja,..


Deg


Deg


Deg


Dada Aurora bergemuruh hebat saat mendapatkan perlakuan dari sang suami. Yang tak disadari Aurora adalah jam tangan milik Edward berkedip biru yang menandakan jika pasangannya sedang tidak baik-baik saja.


Edward tersenyum tipis dan menggigit bibir bawahnya menggoda Aurora.


Aurora tak mampu berkata kata. Ia menjadi salah tingkah di depan Edward. Didorongnya cepat dada itu, melarikan diri adalah solusi yang tepat untuk saat ini. Bahkan ia tak mampu menyembunyikan wajah meronanya. Berkali-kali ia menggembungkan mulutnya seperti katak untuk mengurangi rasa itu.


Ini lah jatuh cinta. Aku sadar jika aku sedang jatuh cinta. Wajahku terasa panas sekali. Jantungku berdebar debar tak karuan. Bahkan aku tak mampu untuk tidak merona di hadapannya. Perasaan ini ..

__ADS_1


Edward langsung mendekap tubuh Aurora dari belakang. Diciuminya leher dan bahu wanita itu hingga ia tersadar dari lamunannya.


"Apa yang kamu pikirkan."


Aurora berbalik tapi masih dengan pandangan menunduk.


"You're my sunshine and I love u."


"Oh, you're mine." Edward langsung mengakat Aurora dan memutar badan wanita itu. Ia terlalu bahagia malam ini.


" Oh! Wow. Hentikan! aku pusing."


Edward terkekeh dan menurunkan beban tubuh Aurora di ranjang begitu saja hingga tubuh wanita itu memental di atas kasur empuk itu.


"Wow, kau kasar sekali kak." rengeknya manja.


"Aku rasa kali ini kamu suka bermain kasar hem." Edward berbaring di sebelah Aurora dan menarik tubuh wanita itu agar lebih mendekat kearahnya.


"Tidurlah. Aku akan menemanimu hingga kau terlelap."


"Tolong jaga dirimu baik baik. Kamu sudah berjanji padaku. Ku mohon kembalilah dengan selamat. Aku akan selalu mendoakan untuk keselamatanmu dimana pun kamu berada."


Aurora memeluk erat tubuh suaminya dengan sayang. Ia menghirup dalam dalam aroma tubuh yang selalu akan dirindukannya. Berat, tapi ia harus mengikhlaskan.


"Jaga anak-anak, kak Jingmi akan tinggal disini selama aku pergi. Dia mungkin akan mengenakan wajah yang sama sepertiku. Aku harap kamu tidak memeluk apalagi menciumnya. Aku akan sangat cemburu jika itu terjadi. Kamu mengerti hem.."


Aurora mengangguk. Ia tak ingin bicara apa apa lagi. Ia hanya ingin menikmati pelukan itu sebelum dirinya benar-benar kehilangan kehangatan tubuh pria yang sangat dicintainya.


Sedangkan Edward senantiasa mengusap punggung Aurora, memberikan kenyamanan hingga wanita itu dengan mudahnya tertidur dalam dekapan hangat tubuhnya.


Dengan hati hati ia memindahkan kepala Aurora dan meletakkan guling dalam dekapan wanita itu. Edward mengecup lama kening Aurora dan membisikkan kata cinta di telinga wanitanya. Ia tersenyum kecil saat Aurora bergumam jika dia juga sangat mencintainya.


"Sweatheart, aku pergi. Aku pastikan , aku akan kembali di sisimu dan kita akan melakukan banyak hal bersama. Kita akan hidup bahagia setelah ini. Aku mencintai dan aku menyayangimu."


Edward beranjak dan merapikan bajunya, tak lupa ia memakai kembali wajah palsunya dan langsung menarik koper yang sudah ia siapkan.


Langkahnya begitu berat saat akan keluar dari pintu kamarnya. Berkali-kali ia memandang sendu tubuh Aurora yang tampak damai dalam tidurnya.


"Tunggu aku kembali." gumamnya sebelum menutup pelan pintu kamarnya.


Edward melirik jam tangannya, sambil menyeret koper di tangannya. Sebentar lagi pesawat akan segera berangkat dari jam yang di tentukan. Ia harus segera bergegas.


"Daddy!"


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2