Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kebersamaan Ajeng dan Dika


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺


Ajeng menghabiskan hari liburnya di rumah, di kampung halamannya. Membantu orang tuanya melakukan pekerjaan di sawah seperti biasanya.


"Nduk ....., Sebenarnya ada apa dengan nak Al, kenapa dia sudah tidak pernah kemari?" tanya pak Darman, semenjak mengantar Ajeng beberapa Minggu kemarin, Al sudah tak lagi datang ke rumah Ajeng. Sepertinya memang Al menepati janjinya.


"Nggak ada pak, mas Al mungkin sudah berangkat!"


"Mungkin? Berangkat kemana?"


"Keluar negri!"


Pak Darman merasa ada sesuatu yang sedang di tutupi oleh putrinya itu.


"Apa apa nduk?"


"Maksud bapak?"


"Sebelum hari kelulusanmu kemarin, nak Al sudah datang ke sini, ia meminta kamu jadi istrinya!"


Ajeng terkejut, ia tidak menyangka jika Al melakukan hal itu. Bahkan Al tidak pernah mengatakannya.


"Lalu bapak jawab apa?"


"Bapak ini orang tua kamu, walaupun bapak tahu nak Al anak baik, tapi keputusan tetap berada di tanganmu!"


"Mas Al bilang apa lagi pak?"


"Dia akan melamarmu secara pribadi! Apa kamu menolaknya nduk?"


"Ajeng bukan menolak pak, tapi Ajeng belum siap untuk itu, masih ada mbak Diah yang belum menikah. Ajeng juga masih terlalu kecil!"


"Semoga kalian di takdirkan untuk berjodoh, suatu saat nanti jika nak Al datang lagi, bapak pasti akan mengatakan iya!"


Ajeng tahu jika orang tuanya begitu menyukai Aldevaro. Dia pria yang hangat dan sopan, bahkan selama enam bulan tinggal bersamanya, Al tidak pernah sekalipun melanggar norma.


Setelah puas berlibur di kampung halamannya selama satu bulan, akhirnya Ajeng memulai pendidikannya di kota sebelah, di kota malang.


Dan selama itu pun Al sama sekali tidak menemuinya, mungkin ia tidak mau membuat Ajeng merubah keputusannya karena kehadiran Al di hidupnya.


Ajeng memulai kehidupan baru tanpa orang yang selalu mendukungnya. Setidaknya mereka sama-sama tahu bahwa mereka sedang berjuang.


Ajeng tinggal di asrama, ia belum punya sesuatu untuk bisa di banggakan, ia harus memulai dari bawah. Banyak yang harus ia perjuangkan sendiri sekarang, tinggal di asrama dengan berbagai peraturan sedikit membuat langkahnya terhanbat.

__ADS_1


Ia cukup beruntung karena ternyata Dika juga kuliah di tempat yang sama. Mereka bertemu di acara osmaba, sekarang Ajeng bisa merasa lega karena tidak lagi sendiri.


"Dik!" awalnya Ajeng tak percaya dengan apa yang ia lihat, pria yang begitu ia kenal ada di depannya.


"Ajeng!"


"kamu di sini juga, bukankah kamu ...?" Ajeng terkejut sekaligus tak percaya saat mendapati Dika ikut dalam acara osmaba.


Dika berlari kecil di sampingnya, mereka sedang berburu tanda tangan para senior, sehingga Dika tidak begitu memperhatikan ucapan Ajeng.


"Ada alasannya, jangan banyak bertanya!" ucap Dika karena ia sudah begitu dekat dengan senior incarannya, senior itu begitu cantik, berburu tanda tangan hanya sebagai alasan saja.


"Dasar modus!" Ajeng tetap mengikuti langkah Dika, ia tidak mau sampai ketinggalan.


"Hay kak, boleh minta tanda tangannya!?" ucap Dika dengan wajah sok tampannya. senior cantik itu tersenyum dengan begitu manis.


Dika bicara ngalor ngidul, sok akrab, dan Ajeng di cuekin. Ajeng menghela nafas kesal, ia menarik tangan Dika menjauh dari senior cantik itu.


"Ada apa sih jeng, menggangu saja!" ucap Dika kesal karena Ajeng sudah menggangu kesenangannya.


"Kau tetap ya menyebalkan, aku kan cuma penasaran."


"Penasaran apa lagi?"


"Kau nanti juga tahu sendiri!"


Emang itu sebuah jawaban ....., menyebalkan sekali dia itu .....


Mereka mengikuti acara osmaba hingga akhir, Setiap hari Ajeng bertemu dengan Dika, hanya Dika sahabat Ajeng, walaupun menyebalkan tapi Dika tipe sahabat yang setia.


Banyak hal dapat dengan mudah di lakukan oleh Dika, ia punya banyak akses ke segala penjuru.


Siapa yang tidak tahu dengan keluarga Dika, bukan cuma di kotanya saja, di kota ini ayah Dika memilik banyak properti.


Tidak sulit bagi Dika untuk mendapatkan tempat tidur, bahkan di Malang pun ayah Dika juga punya rumah singgah.


Dika benar-benar tak perlu bekerja keras untuk mendapatkan apapun itu, banyak mahasiswa wanita yang ingin mendekati Dika, dan Dika si pria playboy itu selalu saja menanggapinya, hal itu kadang membuat Ajeng begitu muak, tak jarang Ajeng menjadi umpan Dika saat ia ingin putus dengan salah satu gadis saat ia sudah merasa bosan.


"Kau benar-benar ya ...., sampai kapan akan seperti ini?" Ajeng mengomeli Dika persis seperti emak emak yang ngamuk.


"Sabar lah jeng, seharusnya kau itu bersyukur karena punya sahabat seganteng aku!"


"Sebuah kutukan kali ...., awas saja kalau besok aku dilabrak lagi!"

__ADS_1


Memang tak jarang Ajeng selalu di labrak oleh mantan mantan Dika, mereka menyalahkan Ajeng atas putusnya hubungan mereka.


"Anggap aja angin lalu, nggak usah di pikirin ...!"


"Tapi kau harus membayar semua ini tau!"


"Iya aku akan mentraktirmu selama satu Minggu!"


"Kurang!"


"Dua Minggu!"


"Kurang!"


"Baiklah satu bulan!"


"Ok ..., aku setuju!"


"Dasar ....., tukang peras!" keluh Dika sambil mengusap asal rambut Ajeng, membuat Ajeng menyebutkan bibirnya kesal.


Di setiap kesempatan Al selalu menghubungi Dika untuk menanyakan keadaan Ajeng, apa yang di lakukan Ajeng, Ajeng sedang dekat dengan siapa? dan bukan cuma itu, dia juga meminta Dika untuk mengambil gambar Ajeng. Banyak sekali fotoyqng sudah Dika kirimkan untuk Al.


"Apa sih Dik, foto foto ...?" protes Ajeng saat Ajeng sadar jika Dika mengambil fotonya.


"Ingin aja ....!" jawab Dika sambil kembali menyakukan ponselnya.


"Jangan bohong ya!" Ajeng menajamkan matanya.


"Nggak bohong, aku cuma pengen liat aja, anak badung ini bisa jadi feminim atau tidak!"


"Nggak jelas!"


Walaupun mereka satu universitas, tapi mereka mengambil jurusan yang berbeda. Dika tidak selalu bisa mengetahui dengan siapa saja Ajeng bergaul.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy reading 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2