
Malam hari dikediaman Tuan Admaja,
Usai melakukan makan malam bersama, Edward kembali kekamarnya lebih dulu. Semua yang ada dimeja makan memandangnya heran, biasanya ia akan bercengrama lebih dulu diruang keluarga bersama dengan yang lain, tapi entah mengapa malam ini berbeda.
"Ada apa dengannya? Bukankah tadi pagi baik baik saja?" batin Aurora yang menyadari ada yang tidak beres dari suaminya.
Brian tertunduk lesu, ia tak diajak bicara oleh ayahnya selama Edward pulang dari kantor, rupanya pria muda itu masih marah dengan putranya. Ia diam diam menangis dan memutuskan kembali kekamarnya.
"Mom, kakek, nenek, aku kekamal dulu ya, .." ucapnya dan beranjak dari dudukannya.
"Eh..!" Aurora menggantung tangannya diudara.
"Nak, sebaiknya kamu temani mereka berdua. Ayah dan bunda mau kekamar. Biar bibik saja yang bereskan semua ini." Kata bunda yuli.
"Emm, Baiklah bund, Aurora keatas dulu ya, selamat malam."
"Malam.."
Aurora beranjak dengan membawa segelas susu Brian yang belum diminumnya . Ia berniat akan kekamar Brian sebelum menemui suaminya. Aurora masuk kekamar Brian tanpa mengetuk pintu dulu.
Ceklek
Brian tampak sedang telungkup dibawah selimut. Aurora duduk ditepi ranjang, mengusap lembut punggung Brian. Aurora terkejut saat merasakan punggung Brian yang bergetar, "Apa dia sedang menangis, tapi kenapa?" batin Aurora
"Bry.. minum susumu sebelum tidur..!" Aurora menarik lembut selimut putranya
"Nanti saja mom, "
"Apa ada masalah, kenapa tidak cerita sama Mommy, mungkin mom bisa bantu." tanyanya lembut.
Brian berbalik dan memeluk Aurora, ia menangis sesegukan dibahu Aurora. Aurora dengan sayang mengusap punggung kecil itu.
"Mommy... hiks hiks hiks.."
Brian menangis tersedu dalam pelukan Aurora. Aurora belum mengerti kenapa putranya bisa menangis seperti itu, apa ada yang melukai hatinya.
"Sssshhh, Tenanglah ada mom disini, katakan ada masalah apa, apa ada yang memarahimu? Coba mommy lihat.." Aurora mengendurkan pelukan Brian, ia melihat wajah Brian yang sembab dan masih basah dengan air mata.
"Mommy, daddy malah sama Blian, hiks hiks hiks.."
"Marah,..? ceritakan sama mommy, kenapa daddy bisa marah sama Brian."
__ADS_1
Brian memeluk tubuh mommynya, dan menceritakan kejadian hingga tadi pagi dikantor Edward. Bahkan sikap Edward yang mengacuhkannya saat dimeja makan. Ia tak berhenti menangis meluapkan kesedihan hatinya. Ia menyesali perbuatannya.
"Ssssh.. Mommy yakin daddy tidak marah sayang, mungkin tadi daddy sedang banyak pikiran. Mom akan coba bantu membujuk daddy. Apa kamu percaya sama Mommy.?"
Brian mengangguk
"Baiklah minum susumu dan lekas boboklah. Esok mom pastikan daddy sudah tidak marah sama Brian." Aurora menyodorkan susu yang dibawanya, mengusap rambut Brian dengan sayang.
"Thank you mom, Good night ."
"Good night too .." Aurora menyelimuti tubuh Brian dan melangkah keluar.
"Aih, rupanya bukan masalah sepele, tapi ini juga bukan kesalahan Brian sepenuhnya." gumam Aurora sambil berjalan menuju kamarnya sendiri.
Ceklek
Aurora melihat Edward sedang berada di balkon kamar sedang menghisap batang rokok sambil melihat gelapnya malam.
"Seperti itukah kamu jika sedang frustasi,..!"
Suara Aurora mengagetkannya dan berbalik menatap wajah cantik istrinya. Ia mematikan rokoknya dan segera merengkuh pinggang istrinya..
"Aku merindukanmu." Suara Edward begitu berat seperti butuh ketenangan.
"Ya, aku akan minta maaf esok hari. Sekarang bantu aku meredam hati ini, aku menginginkanmu."
Edward langsung menyambar bibir Aurora, mengecup dan menghisap bibir itu dengan penuh gairah, ia sedikit kasar memperlakukan istrinya. Hatinya yang dipenuhi emosi membuatnya melampiaskan pada sang istri.
Aurora hanya pasrah menerima perlakuan suaminya. Ia hanya berharap setelah ini bisa menenangkan hati suaminya agar bisa berpikir jernih kembali. Malam yang panjang untuk pasangan suami istri itu terulang kembali. Desahan dan lenguhan tak terhitung jumlahnya, Edward dan Aurora sama sama menggila diatas ranjang. Berharap jika dalam rahimnya akan hadir calon bayi untuk menguatkan pernikahan mereka, bukti cinta dari pernikahannya.
###
Sedangkan disisi lain, Yudha asisten Tuan Kim berada diruang kerjanya sedang menulis artikel untuk ia terbitkan esok hari. Hatinya dipenuhi emosi saat menulis artikel itu.
"Kau akan terkenal esok hari , kau akan menjadi artis dadakan , wajahmu akan tersorot publik kembali. Bukankah aku baik padamu.. Aku bahkan dengan senang hati mempopulerkanmu. Setelah ini, dunia akan mendengar dan melihat berita kematianmu. He he he " Yudha tertawa jahat.
Entah dendam apa yang dimiliki olehnya, ia mau saja menghancurkan kehidupan orang lain, padahal Edward tidak pernah menyinggungnya. Akankah ada hukum karma yang menantinya.? Tidak tau suratan takdir seperti apa setelah perbuatan jahatnya. Ingatlah hukum tabur tuai. Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai. Mungkin peribahasa itu cocok untuk Yudha saat ini.
Yudha tiba tiba teringat pada gadis yang bulan lalu ditemuinya tidak sengaja di mall. Ia tersenyum tipis jika mengingat pertemuannya.
"Melly.. hahaha namamu mirip sandal japitku dulu." batinnya terkikik geli.
__ADS_1
Ada rasa penasaran dalam hatinya, dia selalu mencari info tentangnya, tapi tak satupun yang ia dapat. Melly rupanya menutup identitasnya rapat rapat.
"Itu artinya dia bukan gadis sembarangan. Ah aku semakin penasaran dengannya. Siapa sebenarnya gadis itu. Apa dia putri pengusaha besar sehebat Edward ? masa iya.." Yudha masih saja menebak nebak kemungkinan.
Jemarinya masih menuliskan berita untuk diterbitkan esok hari. Ia yakin berita ini akan booming mengalahkan skandal artis yang lagi in saat ini.
Tok tok tok
Yudha mendongakkan kepalanya melihat siapa yang mengetuk ruang kerjanya malam malam begini.
Asistennya masuk membawa dua cangkir kopi mengepul diatas nampan.
"Tuan, jika anda lelah, aku bisa menggantikanmu. Istirahatlah, sedari pagi anda sudah bekerja bersama bos." asisten itu menawarkan diri.
"Baiklah, aku akan istirahat sebentar. Kau teruskan ini." perintahnya dan beranjak kesofa sambil menikmati seduhan kopi asistennya.
"Tuan, apa kita perlu memasukkan berita ini?"
"Masukkan saja, biar tambah ramai. Pasti akan bagus jika esok banyak pendemo dikantornya. Kita bisa memanfaatkan situasi ini. Kita lihat akan ada penurunan harga saham tidak. Jika iya, itu bagus untuk perusahaan Bos."
"Wah, anda memang cerdas Tuan. Apa anda keturunan Albert Einstein.." canda asistennya
"Yeah, mungkin dia kakek buyut ayahku."
"Wah, anda beruntung lahir dari lingkungan keluarga hebat. Kenapa anda tidak membuat bisnis baru saja, anda kan cerdas." tanya asisten itu, tapi matanya fokus pada layar komputer itu.
"Aku tidak menggigit orang yang memberiku makan. Aku sudah berjanji mengabdi padanya." ucapnya sambil menyeruput kopinya.
"Apa anda tidak mau mencari anak anda? Pasti dia juga pandai seperti anda." celetuk asistennya tiba tiba.
Uhuk uhuk uhuk..
Yudha tersedak kopinya sendiri.
"Apa yang kau katakan.! Aku belum punya anak.!!"
"Jangan menyesalinya jika tebakan saya benar Tuan. Anda waktu itu mabok dan masuk kamar bersama wanita, anda juga melihat jika dia masih perawan. Bagaimana jika wanita itu hamil anak anda? Apa anda tidak menyesal. Bagaimana keadaan anak itu, apa dia baik baik saja atau tidak? Apa anda juga tidak ingin mengetahuinya. Bagaimana jika anak itu sekarang menjadi gelandang dan tidur dibawah jembatan sedangkan anda tidur dengan nyaman diatas kasur empuk. Apa anda tidak peduli padanya?? Jika anda tidak menyukai ibunya, setidaknya anda peduli dengan anak anda." ucap Asisten itu memprofokasi pikiran Yudha.
"Entahlah, aku belum ingin mencarinya. kerjakan saja tugasmu."
Tidak ingin melanjutkan pembicaraan, Yudha memilih menutup matanya. Ia sudah lelah, ingin segera pergi tidur. Biarkan asistennya yang mengerjakan tugasnya. Ah pikiran Yudha jadi traveling kemana mana gara gara ucapan asistennya yang kadang ada benarnya.
__ADS_1
"Sial..!" rutuknya dalam hati.
###