Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Pertemuan kembali


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺


Tak berapa lama, Bara kembali datang dengan membawakan dua cap minuman dingin, ia meletakkan minuman itu di atas meja, ia tidak berniat membangunkan Ajeng, Ajeng terlihat begitu lelap.


Bara menggeser kursi kecil tak jauh dari meja Ajeng, memilih mengamati wajah Ajeng yang terlelap dalam tidurnya.


"Kenapa sulit sekali mendapatkan hatimu?" Bara menyandarkan dagunya dengan tangan, mengamati wajah Ajeng. Ajeng yang sudah cukup lama tidur, ia mulai menggerakkan badannya, ia tidak melihat jika di depannya ada orang, tangannya yang ia rentangkan memukul wajah Bara, membuat Ajeng begitu terkejut.


"Maaf ...., Maaf mas .....!" Ajeng berdiri dan memegangi wajah bara yang terkena pukulan tangannya.


"Tidak pa pa, tidak pa pa, jangan khawatir ....!" Ucap Bara menenangkan Ajeng. Tapi ternyata ada seseorang yang melihat Ajeng menakup wajah Bara, ia mengepalkan tangannya kesal. dia adalah Al. Ia sudah datang langkahnya terhenti saat melihat Ajeng bersama Bara.


"Mari pak, Bu Sasmita sudah menunggu anda!" Ucap pria di sampingnya menyadarkannya, ia mengalihkan tatapannya.


"Baik, ayo !"


Al meninggalkan Ajeng dengan Bara, ia menuju ke ruangan Bu Sasmita.


Sedangkan Ajeng masih sibuk mengusap pipi Bara yang memerah karena pukulannya, pukulannya begitu keras hingga meninggalkan jejak.


"Tidak pa pa, jangan khawatir seperti itu!" ucap Bara.


"Tapi itu memerah, mas!" Ajeng kembali memegang pipi Bara, sebenarnya Bara senang dengan apa yang di lakukan Ajeng, tapi untuk saat ini ada yang lebih penting.


"Itu tidak penting, yang paling penting sekarang, rapat akan segera di mulai!"


"Dimulai ....?" Bara pun mengangguk.


"Pasti sudah lama sekali ya aku tidurnya!?"


"Nggak pa pa, minumlah dulu, dan cuci mukamu agar lebih segar, kau pasti bekerja keras semalam untuk rapat hari ini!"


"Iya ...., Aku bahkan tidak tidur semalam, makasih minumannya!" Ajeng meminum minumannya.


"Aku ke ruang rapat dulu ya, nanti menyusullah, mana designnya biar aku bawakan!" Ajeng pun menyerahkan hasil designnya, Bara segera menuju ke ruang rapat, sedangkan Ajeng menuju ke kamar mandi, ia mencuci muka dan emrapikan dandanannya.


Ia mengusapkan sedikit bedak dan lipstik agar tidak terlihat pucat.


Di ruang rapat, semuanya sudah siap di tempatnya, ibu Sasmita membuka rapat, dan memperkenalkan Al sebagai tangan kanan barunya di perusahaan.


Mata Al tak pernah beralih dari menatap Bara, matanya juga sesekali mengedar mencari orang yang sangat ia rindukan itu. Tapi tak juga menemukannya.


Kemana dia, apa dia tidak mengikuti rapat ini ....


Al beralih menatap ibu Sasmita, ibu Sasmita adalah sahabat mamanya jadi cukup mudah untuk bisa masuk ke dalam perusahaan itu.


"Apa semua sudah ada dalam rapat ini?" Tanya Al.


"Iya ....!" Tapi tatapan Bu Sasmita terhenti pada bangku kosong di samping Bara.


"Bara ...., Di mana Ajeng, bukankah dia harus menunjukkan hasil desagnnya dalam rapat ini?"


Ceklek


Pintu terbuka, Ajeng muncul dari balik pintu itu,


Deg


Jantung Al berdetak keras saat melihat Ajeng, tapi sepertinya Ajeng tidak menyadari keberadaan Al di sana.


Untuk sekian lama, kita bertemu lagi ...., rasa rindu ini seakan tak terbendung lagi, banyak yang ingin aku ceritakan padamu, memelukmu dan mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu ....

__ADS_1


"Maaf Bu, saya terlambat!" Ajeng menunduk memberi hormat.


"Duduklah!" Ajeng pun duduk di bangku kosong itu, di samping Bara, membuat Al mendidih, ia terbakar cemburu, apalagi saat melihat Ajeng tersenyum pada pria itu.


Apa selama ini kau begitu dekat dengan pria itu, aku bahkan walau hanya melihat hatiku rasanya terbakar ....


"Baiklah ...., Kita lanjutkan rapatnya, setelah ini pak Aldevaro yang akan melanjutkan meminmpin rapat, kita mengharapkan ide ide baru dari pak Aldevaro." Ucap Bu Sasmita, Ajeng yang semula tidak tertarik untuk menatap ke depan, ia sibuk dengan desagnnya kini mendongakkan kepalanya,


Deg


Mata mereka bertemu, pria itu, pria yang sudah hampir empat tahun ini ia sangat rindukan dan kini berada di depannya. Jantungnya bekerja ekstra, matanya bahkan tak mau beralih dari sana.


Setelah sekian lama ...., dan sekarang aku melihat mas Al di sini, di tempat yang sama, kenapa? kenapa mas Al tidak menemui Ki selama ini?


Hegrm ....


Sebuah deheman mengalihkan perhatian Ajeng, ia memotong tatapannya, beralih dari pria yang sangat ia rindukan.


Sabar Ajeng ...., dia pasti akan memberitahumu nanti ....


"Baiklah ...., Kita mulai rapatnya!" Al mencoba senormal mungkin, ia tidak mau Ajeng menyadari perasaannya yang begitu merindukannya.


Apa dia melupakanku, apa dia tidak merindukanku ....


Ajeng bertanya-tanya dalam hati, ia ingin Al menyapanya, atau mengatakan hal lain yang lebih hangat. Tapi kenapa dia biasa saja?


"Nona Ajeng, silahkan anda persentasikan hasil design anda!" Bahkan Al berbicara sangat formal, Ajeng pun akhirnya mengesampingkan eprasaannya, ia yakin Al berbuat seperti itu karena mereka sedang di tempat yang formal.


Ajeng pun berdiri dan menjelaskan tentang designnya, tema designnya dan Al membernya banyak kritik dan masukan, entah belajar dari mana pria itu tentang fashion, ia benar-benar profesional dalam bekerja. Ia memberikan penilaian di berbagai sisi sehinggaenjadikan resign Ajeng lebih menarik.


Tak hanya milik Ajeng, milik designer yang lainnya pun juga mendapat kritik darinya, Ajeng hanya bisa menatap kagum pada pria di depannya itu.


Apa yang tidak bisa ia lakukan?


"Jeng ...., Ayo!" Ajak Bara.


"Bentar mas ...., Ada yang harus aku kerjakan, mas Bara duluan aja!" Ajeng berkata sambil menatap Al yang juga menatap padanya, ia sudah mengepalkan tangannya saat Bara mengelus pundak Ajeng dan meninggalkannya.


Kini tinggal mereka berdua di dalam ruang itu, mereka masih terdiam dengan perasaannya masing-masing.


"Apa mas Al puas?" Ucap Ajeng setelah hening cukup lama, mereka sudah sama-sama berdiri.


"Aku merindukanmu!"


"Kenapa mas Al bisa tiba-tiba di sini?"


Bukannya menjawab Al malah menarik tubuh Ajeng ke dalam pelukannya, Ajeng yang mendapat pelukan dari Al, pelukan yang begitu nyaman itu, air mata Ajeng berhasil meleleh.


"Mas Al jahat ....!" Rancau Ajeng dalam dekapan Al, ia menumpahkan semuanya pada pria yang begitu ia rindukan itu.


"Maafkan aku!"


"Kenapa lama sekali tidak menemuimu?"


"Maafkan aku!"


Mereka berpelukan cukup lama, hingga rasa rindu itu sedikit terobati, Al mendudukkan Ajeng di kursi yang tadi telah ia duduki.


"Apa kau senang aku kembali?" Ajeng pun mengangguk.


"Apa sekarang sudah siap menjadi istriku?"

__ADS_1


Pertanyaan Al seketika berhasil membuat Ajeng mundur.


"Mas ....!"


"Kenapa? Apa masih lebih penting karir dari pada cinta?"


"Iya!"


"Kenapa?"


"Karena setiap bulan bayar kos-kosan pakek duit mas, bukan pakek cinta!"


"Dasar .....!" ucap Al sambil mengusap kepala Ajeng.


"Aku tahu masih setelah tahun lagi, maaf karena aku mengingkari janjiku!"


"Makasih karena mas Al bisa mengerti aku!"


"Siapa Bara?"


"Maksudnya, mas Bara?"


"Kenapa kau memanggilnya mas? Aku tidak suka!"


"Dia atasan aku mas, ya wajarlah kalau aku panggilnya mas!"


"Dia mendekatimu?"


"Mas Al tahu dari mana?"


"Itu nggak penting!"


Al berdiri dan menarik tangan Ajeng, membuat Ajeng menepisnya.


"Kita kemana mas?"


"Aku akan memperkenalkan kamu sebagai calon istriku!"


"Nggak mau ah ...! Jangan macam-macam deh mas .....!"


"Baiklah ...., Sekarang maumu bagaimana?"


"Aku mau kita tetap seperti ini, tidak saling kenal!"


"Kenapa?"


"Mas ...., Aku nggak mau orang-orang mengenalku karena mas Al, aku mau Ajeng di kenal sebagai Ajeng!"


"Baiklah ...., Aku setuju, tapi sampai kapan?"


"Sampai aku lulus kuliah, sampai acara ini berhasil dan membesarkan namaku!"


Akhirnya Al menyetujui persyaratan Ajeng. Al tidak mau membuat apa yang di rintis Ajeng selama ini sia-sia. Mereka tetap bersikap seperti tak saling kenal.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘😘


__ADS_2