
.
"Siapa kalian..!!"
Andi memicingkan matanya. Sedikit takut dengan Aura yang ditampakkan wanita itu, tapi sebisa mungkin ia tutupi .
Kevan melirik Andi yang mulai melangkah kedepan sambil menyeret katananya.
"Dimana Pria brengsek itu, aku ada urusan dengannya!" seru Andi menantang
"Siapa kalian, beraninya masuk rumah ini. Cari mati ya..!!!" Teriak wanita itu.
Andi terkekeh, wanita didepannya terlihat tidak takut dengan anggota yang dibawanya yang juga menodongkan pistol kearah mereka, bahkan jumlah yang dibawanya lebih dari pasukan wanita itu.
"Aku tak ada urusan denganmu, Minggir..!!!" seru Andi. Ia juga tahu jika wanita didepannya bukan wanita sembarangan.
Andi memberi kode pada Kevan untuk mencari keberadaan Darius lewat matanya.
"Langkahi dulu mayatku bang Sat..!!" Teriak wanita itu.
"Kalian kenapa diam saja. Habisi semua tikus tikus itu..!!!" seru wanita itu memberi perintah pada bawahannya yang langsung diangguki oleh mereka.
Pertarungan sengit tak terhindarkan, Andi saat ini sedang melawan wanita yang dikiranya bagian penting dari kelompok Darius. Sedangkan Kevan berlari mencari keberadaan tokoh utama dari misi kali ini.
"Siapa kau..!!" seru wanita itu terengah enggah sambil menahan serangan dari lawannya.
Andi tak bersuara , ia malah menendang perut wanita itu keras hingga tersungkur kebelakang dan membentur rak buku.
DUAK.. BRAK..
Ughh..
"Siapa pria itu.. agh sialan, ada urusan apa dengan Darius, apa dia utusan GL? oh my.. bagaimana ini,?" batin wanita itu panik.
Andi berlari mendekati sambil menyeret katananya, wanita itu panik, matanya membulat melihat katana yang diayunkan ketubuhnya.
"Go to hell..!!!" Teriak Andi
Duak
Aghh..
Andi malah tersengkur ke samping. Katana yang diayunkan terpental. Seorang laki laki bertubuh besar menendang tubuh Andi dari samping untuk melindungi kawan wanitanya.
"Sial..!" keluh Andi
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Biarkan Darius menyelamatkan diri sendiri. Kita tidak tidak boleh sampai tertangkap dengan mereka." Bisik pria berotot itu.
__ADS_1
"Tapi.."
"Jangan membantah, Madam akan marah jika kita ketahuan terlibat. Belum saatnya kita muncul.! Ayo, kita segera kabur. Aku sudah mengaktifkan peledak disekitar sini. Waktu kita tidak banyak.! Biarkan mereka tertimbun disini." Bisik pria itu menegaskan.
Wanita itu hanya mengangguk tegang.
Segera saja, Pria itu melemparkan botol kaca kemudian banyak asap menyeruak keluar.
BUZZ...
Andi yang saat itu hendak menghajar pria yang menendangnya, langsung menghentikan langkahnya sambil mengibas ngibaskan tangannya ke udara menghalau asap.
"Brengsek.. beraninya mereka kabur.!" Geram Andi saat tak mendapati dua orang incarannya.
"Kevan, posisi..!!" tanya Andi dengan earpiecenya.
"Kami turun duluan. Segera turunlah. Kita dijebak, selamatkan yang lain. Mansion itu sudah dipasang peledak. Segera waktunya tinggal dua menit dari sekarang.!" seru Kevan yang melihat peledak aktif saat membawa Darius yang tak sadarkan diri karena pukulan dilehernya.
"Brengsek...!!" umpat Andi
"Master, arah jarum tiga. Segera meluncur dari sana. Cepat..!!" seru Kevan kembali.
"Diamlah, jangan membuatku tambah panik. Dimana Bos Alex..!! Awas saja jika dia kabur duluan.!" geram Andi segera berlari mendatangi anggota yang tersisa.
"Hei kalian..!! Segera keluar dari sini..!! Mansion ini akan segera meledak.!!" seru Andi keras.
"Tinggalkan saja. Cepat bawa anggota kita yang terluka. Waktu kita tidak banyak!! Meluncurlah dari sana, Bos sudah menyiapkan alat bantu untuk kita. Pintu utama sudah terkunci ! Cepat..!!!" Teriak Andi menunjuk balkon.
"Baik..!!" ucap serempak mereka.
Satu persatu mulai melompat turun menggunakan tali. Andi berkacak pinggang mengomandoi anak buahnya. Ia merasa tidak bisa egois meninggalkan mereka dalam bahaya sendiri. Dia masih berperikemanusian.
"Master.. segeralah turun...!!" Teriak anggotanya dari bawah.
"Ck..." Andi berdecak kesal. Anggota lainnya saja belum selesai turun pikirnya.
"Cepatlah...!!"
Andi segera melemparkan tali dengan jangkar pada ujungnya pada batang pohon. Ia akan menggunakan benda itu untuk meluncur kebawah jika keadaan terdesak. Ia masih saja membantu menurunkan anggotanya yang terluka.
"Master.. segeralah turun..!! tinggal dua puluh detik lagi..!!" seru Kevan panik .
Andi mengangguk, tapi disaat dirinya hendak turun, ia melihat anggotanya dari jauh yang berjalan tertatih tatih dengan darah mengalir dari perutnya. Jiwa kemanusiaannya terpanggil lagi, ia berlari masuk kedalam dan segera menggendong pria itu.
Kevan tambah panik, apa yang terjadi padanya pikirnya. Berkali kali ia memanggil Andi, tapi tak dapat jawaban apapun darinya, padahal waktu terus saja berjalan.
"Mundur...!! sebagian segera kembali kemarkas. Cepat..!!" seru Kevan pada anggotanya .
Baru saja Kevan memberi perintah, ledakan besar bersahutan menggema dimalam itu.
__ADS_1
DHOM...DHOM..DHOM...DHOM..
Bangunan mansion itu runtuh dengan begitu cepat, entah jenis peledak ada yang digunakan, untung saja letak bangunan itu jauh dari perumahan sipil.
Wajah Kevan pucat pasi, ia tak melihat Andi turun. Sedangkan earpiecenya sudah tak terhubung dengannya. Ia bingung menghadapi situasi saat ini.
"Bos, cepat..! saya mendapat info,polisi akan segera tiba kemari.!!" seru anak buahnya.
"Kalian pergilah dulu, tinggalkan aku satu mobil. Kau urus anggota lainnya. Aku menunggu Master. Cepatlah..!!" perintah Kevan tegas.
"Tapi..!"
"Jangan membantah perintahku...!!"
Anak buahnya mengangguk dan segera meninggalkan lokasi itu.
Andi yang telah mendarat dengan baik diatas pohon hanya bisa memejamkan matanya. Untung saja ia tak terkena dampak dari ledakan itu, tapi ia merasa telinganya terasa berdenyut sakit, bahkan mungkin saja sudah berdarah.
Andi menuruni pohon dengan menggendong anggotanya yang terluka. Ia segera menghampiri Kevan yang meneriakkan namanya. Suasana malam gelap membuatnya ia kesulitan mencari dirinya.
"Bang sat..! cepat bantu aku. Bisa bisanya kau meninggalkan aku.!" ucap Andi menendang tulang kaki Kevan dari belakang.
"Aduh.."
"Hah.., kau selamat..!! Ah ayo cepat cepat..!! Kita harus segera pergi dari sini. Polisi akan segera tiba kemari.!" ucap Kevan senang. Ia membantu Andi mengendong anak buahnya yang sudah tak sadarkan diri. Ia merasa jika sosok Andi adalah hero. Ia menjadi pemimpin yang bertanggung jawab pada anggotanya.
Sampai dimarkas, anak buah Alex memasukkan Darius ke dalam ruang tahanan. Alex mengunci jeruji itu dengan password. Ia pikir akan menginterogasi orang itu esok hari.
Makhluk bahaya juga ia rantaikan diluar jeruji tahanan.Ini adalah pengaman kedua setelah password yang ia gunakan , karena tidak semua orang bisa menjinakkan makhluk liar itu. Hanya pada King dan dirinyalah hewan itu akan menurut perintahnya.
Makhluk itu menggeru ketika melihat ada manusia didalam jeruji itu.
Roarrr roarhhh..
"Kamu jaga dia, jangan biarkan dia kabur. Dia yang mencelakai King kita. Awas saja jika dia kabur, daging mu akan aku potong potong lalu aku makan bersama dengan yang lain." ancam Alex menepuk kepala Lion pelan.
ROARHHH... ROARHHH....
Lion itu seakan mengerti yang diucapkan Alex padanya. Ia mengaum mendekati sel tahanan. Ia seperti ingin menerkam dan ******* daging manusia itu. Manusia berhati busuk yang sudah berani mencelakai King dan keluarganya akan mendapat pelajaran dari dirinya dulu sebelum dimusnahkan majikannya pikir hewan itu.
Alex hanya tersenyum miring ketika melihat itu.
.
.
.
$$$$$$$$###
__ADS_1