Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kami takut


__ADS_3

Rombongan mobil berbanjar melaju cepat ketika Lukas telah memberi perintah untuk mengejar mobil yang membawa Aldevaro dan Eldevano menuju ke arah pelabuhan. Jarak yang lumayan jauh membuat mereka harus bergegas sebelum mereka kehilangan jejak.


Yudha dan Max sedang berusaha memulihkan sistem jaringan yang telah disabotase. Sedangkan Brian tampak memantau pergerakan anggota GL dari layar laptopnya.


Edward berdiri di belakang mereka dengan bersedekap dada. Ia sedang memikirkan cara untuk menjegal tanpa melukai dua putranya.


"Sial! aku ingin sekali membeli perusahaan mereka. Bagaimana bisa mereka tidak segera memulihkan sistem jaringan yang disusupi. Merugikan orang lain! Apa mereka makan gaji buta! Awas saja saat aku kembali, aku akan meminta bayaran pada mereka. Brian! minta aunty Selly mu menuntut perusahaan mereka. Buat mereka membayar lebih dari ini." gerutu Yudha. Rupanya sifat jahat dan suka memanipulasi keadaan masih melekat dalam diri pria itu.


Brian sejenak melirik ayahnya. Anak itu menghela nafasnya. Penyakit buruknya ternyata tidak bisa hilang begitu saja. Ayahnya hanya baik pada orang yang dekat dengannya saja. Sifat licik saat bekerja pada Kimura masih saja terbawa sampai saat ini. Ternyata merubah menjadi orang baik itu susah jika bukan keinginannya sendiri.


"Si kambing ini! apa maunya sih! Lihat saja, aku akan memberi pelajaran pada mereka setelah ini. Untung saja Selly sudah kembali lebih dulu. Bagaimana jika belum dan masih terjebak disini, siapa yang akan menjadi navigator-nya." Yudha terus mengomel pada layar laptopnya. Pria itu sepertinya tidak menyadari jika Edward sedari tadi mendengar umpatannya.


"Apa Ayah menyukai aunty Selly." celetuk Brian tanpa menoleh dari layar monitornya.


"Tidak! Ayah hanya menyukai gadis periang bukan gadis tomboy. Ayah hanya menyukai karakter yang dimiliki aunty Selly mu. Dia tidak cocok untuk jadi ibu tirimu." jawab Yudha seadanya.


"Bagus kalau begitu. Lagi pula aku juga tidak setuju, aunty menikah dengan Ayah. Ayah terlalu brengsek untuk gadis seperti aunty Selly. Harusnya dia menikah dengan paman Alex, aku sudah lama mengagumi sosoknya untuk menjadi pamanku, sayang sekali dia sudah menikah lebih dulu dengan bibi Zanitha."


"Ck! jangan katakan ayahmu ini brengsek. Ayah tidak pernah bermain main dengan hati wanita asal kamu tau. Kesalahan dengan ibumu itu terjadi tanpa ayah sengaja. Dan itu ulah Max! tanya saja pria itu. Dia yang mencarikan wanita itu untuk ayah."


Brian memutar bola matanya.


"Andai ayah bukan seorang casanova, pasti tidak ada kejadian seperti itu. Apa menurutmu, casanova bukan seorang pemain?"


Yudha mendengus mendengar celotehan putranya. Anak ini mengesalkan sekali pikirnya.


"Entahlah. Kamu belum dewasa untuk bertanya seperti itu pada Ayah. Jika kamu sudah dewasa, kamu pasti tau sendiri. Laki-laki memang membutuhkan hal itu untuk menghilangkan stres."


"Ya, asal tidak meninggalkan berudumu seperti ayah melakukan pada ibu. Awas saja jika ayah memiliki kecebong dari wanita tidak jelas. Aku tidak mau mengakui sebagai adikku. Hah, semoga kelak ibu tiriku tidak menyesal punya suami sebrengsek ayah."


"Jangan lupa! kamu bisa ada juga dari bibit brengsek ini."


"Jika aku bisa memilih, aku ingin terlahir dari bibit milik daddy Edward saja. Ayah tidak cocok menjadi daddyku."


Yudha terdiam. Sakit hati? tentu saja tidak. Dia sadar jika ia tak sebaik Edward. Pria itu melirik Max yang berusaha menahan ketawa. Menyebalkan sekali.


"Daddy, apa kita bisa pulang hari ini. Aku lihat sudah ada maskapai yang melakukan penerbangan."


Brian menoleh ke belakang, pria itu masih tampak memasang wajah suramnya.

__ADS_1


"Dad belum tau. Paman Alex sedang mengurusnya. Semoga saja bisa. Kita juga tidak mungkin terbang dalam keadaan cuaca buruk bukan."


Yudha menghentikan ketikan pada keyboard nya. Pria itu menatap Brian dan Edward lekat. Bagaimana bisa putranya seakrab itu pada suami baru Aurora, mereka seperti sudah saling mengenal sedari lama. Sebenarnya kapan mereka menikah, kenapa ia tidak tahu apapun.


"Tugas saya sudah selesai. Anda bisa mencoba melakukan panggilan Tuan Felix. Saya juga sudah mengirimkan titik koordinat pada Selly. Semoga saja mereka cepat menemukan AL dan EL."


Edward mengangguk. Pria itu merogoh ponselnya dan langsung melakukan panggilan. Lukas yang saat itu ingin dihubunginya


Ditempat lain. Al mulai mengerjapkan matanya. Tubuhnya terasa pegal karena entah berapa lama ia tidur dalam posisi tak nyamannya.


Bingung. Tentu saja.


Tangannya diikat kuat dengan tangan El yang masih tidur dengan nyamannya. Anak itu menatap sekeliling dengan perasaan cemasnya.


Tempat apa ini. Aku bermimpi atau bagaimana. Apa aku telah masuk portal dan berada di dimensi lain? Atau jangan-jangan kami diculik! Bagaimana jika kami memang diculik. Gawat! mereka pasti bingung mencari kami! gumam Al saat menyadari tempatnya berada.


Tiba-tiba ia merasakan jika tempat tidurnya sedikit bergoyang. Anak itu mengerutkan dahi, apakah terjadi gempa. Ia membulatkan matanya. Bagaimana jika benar!


"El! El! bangun El!" Aldevaro menepuk pipi adiknya yang masih betah molor. Anak ini, kenapa disaat seperti ini ia jadi sulit dibangunkan, pikirnya jengkel.


Aldevaro menarik talinya, mencoba membuka simpulannya tapi ternyata susah di buka. Anak itu jelas menggerutu kesal.


"Apa maksudmu si Ethan kak?" gumam El yang masih menyipitkan matanya, menatap malas kakaknya yang sudah duduk bersila.


"Ah syukurlah kamu sudah bangun. Apa kau tau kita sedang dimana? Tempat ini membuatku pusing. Kenapa harus bergoyang goyang seperti gempa." Keluhnya seraya menggigit simpul tali itu. Berharap pelajaran tali menali bisa ia praktekkan dalam situasi saat ini.


"Aku rasa kita diculik. Semalam aku merasa dibekap seseorang lalu aku tidak sadar setelah itu." ujar El dengan santainya.


Aldevaro memicingkan matanya. Adiknya tidak takutkah? Mentalnya bagus sekali pikirnya.


"Jangan takut Kak. Mommy pasti mencari kita. Mom pasti memerintahkan orang orangnya untuk menyelamatkan kita."


Al menghela nafasnya. Kalau itu dia sudah tau. Masalahnya sekarang ia merasa tidak nyaman dengan tali yang melilit tangannya. Bahkan telapak tangannya sudah terasa kebas. Mungkin saja aliran darahnya berhenti di pergelangan tangannya.


"Bagaimana jika kita dibunuh mereka. Apa kamu juga tidak takut? Kamu tidak sedih melihat mommy menangisi kematian kita?"


"Jangan bicara sembarangan. Dan jangan sampai itu terjadi. Mereka pasti akan datang tepat waktu."


Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba Hugo datang membawa sebuah nampan. Pria itu terlihat nampak lelah entah apa yang baru pria itu lakukan. Al dan El seketika menegakkan tubuhnya ketika melihat pria bertubuh besar itu.

__ADS_1


El sedikit menarik narik tali yang terhubung dengan kakaknya. Nyali anak itu tiba-tiba menciut setelah melihat Hugo.


"Makanlah. Jangan sampai kalian sakit dan bersikap baiklah." ujar Hugo datar.


Al dan El saling memandang.


"Paman bisakah paman sedikit melonggarkan talinya? lihatlah, telapak tanganku sudah dingin dan membiru. Aku rasa darahku sudah berhenti disana. Paman tak kasihan denganku kah?" ujar Al dengan mata memelasnya.


Hugo yang melihat itu hanya berwajah datar.


"Tolonglah paman. Jangan sampai tanganku diamputasi gara gara tali sialan ini. Apa paman ingin melihat kami mati kesakitan?" ujar El lagi.


Hugo mendekat dan mengamati keadaan tangan Al. Pria itu langsung mengganti tali dengan borgol tanpa banyak kata.


"Huh. Terima kasih paman. Setidaknya aku tak melaporkan perbuatan tak menyenangkanmu pada daddyku." ujar Al.


Hugo mengerutkan dahi. Bukankah daddy anak itu sudah mati? jadi daddy siapa yang mereka maksud.


"Paman, sebenarnya kami ada dimana. Apa kita sedang di kapal?" tanya El


Hugo hanya mengangguk. Pria itu mengamati wajah mereka berdua yang ternyata sulit untuk dibedakan. Untung saja model potongan rambut mereka berbeda.


"Kapan kami akan dibebaskan? Sebenarnya apa salah kami hingga kalian berani menculik kami. Kalian tidak tau siapa kami? Paman kenal Ethan? Dia adalah teman kami, dia cucu presiden. Kalian tidak takut aku mengadu padanya?" ujar Al menyombongkan diri.


"Makan dan tunggu saja orang tuamu menyerahkan Kenta pada kami. Aku tidak perlu mengenal temanmu itu dan jadilah anak baik agar aku tak perlu memukul kalian."


Al dan El membulatkan matanya. Jadi ia dijadikan bahan pertukaran. Oh No! Jangan sampai mommy mengorbankan anak yang tidak tau apa apa ini.


"Paman siapa Kenta! Kami tidak mengenalnya! Hei paman lepaskan kami! Kalian salah orang!" El berseru lantang ketika Hugo mulai menutup pintu.


Al menghela nafasnya. Adiknya ini bodoh atau bagaimana. Sudah jelas mereka diatas kapal, jika dilepas beneran kan bahaya. Mana sanggup ia berenang sejauh itu untuk sampai daratan.


Mommy segera jemput kami. Kami takut.


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2