Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Mereka kembar?


__ADS_3

"Daddy!"


Edward langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang. Pria itu menatap Brian yang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah benda di tangan kecilnya.


Mulanya anak itu mendongakkan kepalanya lalu tersenyum lembut pada sang ayah, tapi sebentar kemudian anak itu menundukkan kepalanya sedih.


Edward berjongkok untuk menyamakan tinggi Brian. Pria itu menaikkan dagu Brian lalu tersenyum tipis.


"Ada apa. Ini sudah malam kenapa belum tidur boy?"


"Apa dad akan pergi?" Brian melirik koper hitam milik ayahnya.


"Tentu saja. Dad harap kau akan menjaga baik-baik dirimu dan adik adikmu. Dad tidak akan lama disana. Dad akan segera kembali."


Brian mengangguk. "Aku harap Dad bisa pulang dengan selamat. Hati hati. Aku menyayangimu."


Brian memeluk Edward dengan sayang. "Don't worry I'll be fine."


"Janji." Brian mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji." Edward tersenyum dan menautkan jari kelingking besarnya ke jari kelingking Brian.


Yang tidak mereka sadari, ternyata Kevin sedari tadi menatap dua orang itu penuh curiga, apalagi ketika melihat Edward keluar dari kamar Aurora. Tanda tanya besar dalam hatinya.


Pria itu terus mendengarkan pembicaraan Brian dan Edward hingga sebuah tepukan di bahunya tentu saja mengagetkannya.


Dua orang itu menatap tajam Kevin dan memberikan kode lewat mata untuk mengikutinya. Kevin pun terpaksa mengikuti kemana dua orang itu membawanya.


"Tau kesalahanmu." tanya pria itu datar.


"Tau hukuman anggota Gl yang menguntit majikan." tanya pria satunya.


Kevin terdiam kaku, tentu saja dirinya tahu tentang hal itu. Ia tadi tidak sengaja menguntit mereka.


"Kevin. Aku tegaskan padamu. Apapun yang kamu lihat dan dengar tadi, tolong untuk tidak kamu bicarakan pada yang lain. Jika itu sampai terjadi, kami akan menghajarmu tanpa ampun. Kami tidak peduli jika kamu adalah anggota Gl."


Cih anjing Tuan kecil Brian begitu setia pada pemiliknya. Aku bisa apa jika melawan mereka berdua.


"Kau mengumpati kami?"


"Ah tidak, bukan seperti itu." Kevin menggaruk keningnya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Baiklah, aku minta maaf. Sebenarnya aku tadi tak sengaja, tapi bolehkah aku tahu apa maksud dari perkataan mereka? aku akan tutup mulut rapat rapat." Kevin mengacungkan jari tengah dan telunjuknya terlihat begitu penasaran.


Ucup dan Heri saling berpandangan. Minta dihajar rupanya. Dua orang itu bahkan sudah meremas tangannya.


"Oke santai." Kevin mengangkat dua telapak tangannya ke depan.


"Aku akan tutup mulut pada yang lain, tapi aku tak bisa berjanji jika Tuan besar bertanya padaku. Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Maaf aku harus pergi. Aku masih ada tugas."

__ADS_1


Kevin lantas ngeloyor begitu saja. Tentu saja ia takut mendapatkan bogem mentah dari dua orang itu karena sudah berani mempermainkannya.


Di tempat lain,


Edward yang sudah sampai di Bandara langsung disambut anak buahnya. Lukas dan Alex berdiri menghadap Edward dan memberikan laporan singkat padanya. Edward memberikan anggukan kepala dan bergegas masuk ke dalam pesawat.


Pesawat pribadi milik Brian akan mengudara setidaknya selama 20 jam perjalanan. Waktu panjang itu akan digunakan oleh mereka untuk istirahat dan mengatur strategi penyerangan saat tiba nanti, walau telah dibahas sebelumnya, tapi sebagian dari mereka belum mengetahui langsung kondisi alamnya.


Edward sesaat memejamkan matanya, lelah tentu saja, tapi sebuah goncangan membuatnya terbangun dari tidurnya.


"Apa yang terjadi."


"Trubulensi bos." jawab Alex seadanya.


Edward tiba-tiba merasakan sakit pada kepalanya. Kepalanya berdenyut seperti kejadian di rumah sakit waktu lalu. Ingatannya lagi lagi menggambarkan sebuah peristiwa berdarah waktu lalu.


Pria itu meringis dan mencengkeram kepalanya. Tak tahan itu yang ia rasakan kali ini.


Alex yang berada di sebelahnya tentu saja merasa kebingungan. Ia tidak tau kenapa Edward bisa seperti itu. Ia melihat jika keringat dingin juga telah membasahi tubuh Edward.


"Bos, apa yang terjadi!"


Edward diam saja. Rasa sakit membuatnya tak bisa banyak bicara.


Dokter markas langsung membantu menangani Edward. Untung saja pria itu berada di pesawat yang sama.


Sementara di kediaman Aurora, wanita itu tampak gusar ketika jam di pergelangan tangannya tampak berkedip merah dan berbunyi nyaring. Dipandanginya banyak tombol disana.


Tiba-tiba sebuah suara tak asing di telinganya mengagetkannya hingga mata wanita itu membulat sempurna.


"Aku baik-baik saja sayang."


Deg


"Oh kau bisa bicara padaku?" Aurora menatap aneh jam tangan itu. Wanita itu sampai berkerut kening tak mengerti.


"Tentu saja. Sayang aku merindukanmu. Apa kau tidur dengan baik?"


Aurora terdiam, pikirannya sedang mencerna keadaan. Entah mengapa tanpa sadar ia baru saja memperlihatkan kebodohannya. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, malu.


"Sayang are you oke?"


"Ya, ya.. apa yang terjadi, kenapa jam tanganku berbunyi nyaring. Apa kamu dalam masalah?" tiba-tiba rasa khawatir menyeruak begitu saja .


"Maaf mengejutkanmu. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit saat pesawat mengalami trubulensi. Sekarang aku sudah tak apa."


"Oh itu pasti sangat menyakitkan. Sebaiknya kamu istirahat. Jaga dirimu baik-baik."


Edward tersenyum mendengar itu, lalu ia segera mematikan sambungan agar Aurora tak khawatir dengan keadaannya.

__ADS_1


Diruang tengah, tampak ketiga putranya sedang berbincang bincang dengan dua orang yang tak asing baginya.


"Aldi, Kak Edward." gumam Aurora.


Tiba-tiba Aurora tersadar, jika pria itu bukan Edward melainkan Jingmi yang memakai wajah Felix. Dan Aldi, untuk apa pria itu kemari.


"Mom. Lihatlah, papi membawakan ini untuk kita." ucap El senang.


Aurora tersenyum dan mengacak rambut putra bungsunya. "Sudah mengucapkan terimakasih?"


"Tentu saja."


Aurora duduk di sebelah Brian, lalu tersenyum tipis pada Jingmi yang sedang menatap ke arahnya.


"Aldi, terima kasih, harusnya tak perlu repot repot begini. Oh ya ada urusan apa kamu kemari?"


Aldi melirik ketiga putra Aurora yang masih berada disana.


"Kak Ian, segera bersiap, guru mengajarmu akan segera tiba. Ajak adik adik juga."


Brian mengangguk mengerti.


"Aurora, aku mendengar jika kamu sedang mencari adik tiri kita apa benar?"


Aurora menatap Jingmi yang sedari tadi diam saja tapi tangannya sibuk pada ponselnya yang entah berkirim pesan pada siapa. Siapa sangka jika pria itu diam diam mencuri dengar.


"Benar."


"Lalu dimana mereka."


Jingmi spontan memandangi wajah Aldi yang tampak berseri. Sedangkan Aurora lagi lagi menatap Jingmi butuh penjelasan. Kata 'mereka' tentu menjadi tanda tanya bagi mereka. Apa yang sudah ia lewatkan.


"Apa maksudmu dengan mereka?" tanya Jingmi spontan. Ia merasa hanya punya satu adik perempuan saja. Kata mereka tentu saja lebih dari satu.


Aldi malah bingung sendiri. Ada apa dengan dua orang di depannya. Kenapa malah memberi pertanyaan padanya.


"Maksudku dimana keberadaan mereka berdua, bukankah kamu sudah mendapatkan petunjuk? Aku juga ingin bertemu dengan mereka."


Aurora dan Jingmi saling memandang. Satu pemikiran mereka. Jadi Laura Cha selama ini punya kembaran yang tidak mereka ketahui.


"Apa maksudmu mereka kembar?"


"Tidak! Emm maksudku bukan kembar identik seperti Al dan El. Apa ya namanya, ah aku lupa."


Jingmi diam seperti menyadari sesuatu. Ia berpikir jika diantara keluarga Aurora dan Edward telah terjadi sesuatu besar yang tidak mereka ketahui hingga menimbulkan hubungan rumit yang sulit di luruskan. Dalam benaknya ia merasa jika harus ikut membantu memecahkan kasus ini. Entah benar atau tidak, ia percaya jika ada seorang dalang yang sedang memainkan wayangnya.


.


.

__ADS_1


.


######


__ADS_2