Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Menggagalkan rencana Edward


__ADS_3

"Hah! Lelucon apa ini! Aku tak menyangka kau akan begitu jahat padaku Ayah! Aku jadi ragu, apa benar darah Yakusa ini mengalir dalam tubuhku! Atau jangan-jangan Yudha adalah putra kandungmu!"


Dengan perasaan marah dalam hatinya, Kimura terus mencaci ayahnya karena tidak terima jika ayahnya memberikan kuasa pada Yudha seolah dirinya tidak bisa mengurus semua aset ayahnya.


"Hentikan omong kosongmu Kimura-san. Aku melakukan ini untuk kebaikanmu sendiri." kata Tuan Yashimoto terdengar datar. Sebentar kemudian pria tua itu menatap tajam putranya.


"Menurutlah padaku dan kamu akan baik-baik saja."


Kimura mengeraskan rahangnya. Hatinya terasa panas dengan tindakan yang dibuat ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya menyingkirkan dirinya begitu saja. Ini tidak bisa dibiarkan.


"Ketahuilah Kimura-san, seseorang telah merencanakan hal buruk pada kelompok kita. Dan kau tau apa artinya."


Deg


Kimura tiba-tiba membeku dari tempatnya. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu karena sudah berani mengatai ayahnya.


"Ini sebab utama ayah memindahkan kekuasaan pada Yudha hingga putramu berusia 30 tahun nantinya. Dia hanya akan menggantikanmu, jika kamu tidak bisa menjalankan semua amanat yang kuberikan padamu. Dia hanya akan menjadi wali sementara Kenta jika kamu tidak bisa menjalankan tugasmu dengan baik. Pikirkan dengan baik ucapanku ini anakku. Kamu tidak ingin bukan, jika seluruh harta kita dikuasai orang lain? Maka dari itu, kamu harus tetap hidup bersama putramu."


Deg


Kimura menundukkan kepalanya. Pria itu menatap tangan ayahnya yang keriput karena telah termakan usia. Tangan itu yang dulu sepenuh hati menjaganya dan sekarang ia meragu, mampukah dirinya menjaga keluarganya agar tetap baik-baik saja. Pantas saja ayahnya membiarkan Yudha berhianat dan masuk dalam jajaran Aurora.


"Lalu apa yang harus kita lakukan ayah."


Sebisa mungkin Kimura menekan egonya. Dia seorang ksatria, ia tidak bisa kabur dan mengumpankan seluruh anak buahnya untuk melindunginya. Ia bukan seorang pengecut.


"Tentu saja menyambut mereka dengan tangan terbuka. Seorang Yakusa tidak pernah takut mati bukan?" ujar Tuan Yashimoto menepuk bahu putranya kembali.


"Tentu saja. Aku sedikit lega, setidaknya aku sudah punya penerus dan dia sedang berada di tempat yang aman. Berjanjilah padaku pak tua, agar tetap hidup dan kita bisa minum teh bersama seperti ini." ucap Kimura dengan senyum tipis menghias wajahnya. Pria itu hanya ingin menghabiskan waktu bersama sang ayah sebelum sesuatu buruk terjadi pada mereka berdua.


Tuan Yashimoto terkekeh mendengarnya. Anak nakalnya memang begitu mengesalkan pikirnya.


"Tenanglah, ayah akan meminta bantuan seseorang. Sekarang temui ibumu dan pikirkan keberadaan bayi perempuanmu. Bagaimana pun dia tetap anakmu Kimura-san."


Kimura mengangguk dan segera beranjak dari tempat duduknya. Ia harus memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan jika terjadi serangan dadakan untuk mengevakuasi keluarganya. Ia tidak ingin keluarga dan kelompoknya mati begitu saja karena kebodohannya.


Tuan Yashimoto langsung menekan nomor ponsel seseorang. Senyumnya terbit ketika mendengar suara diseberang sana.


"Ya paman."


"....."

__ADS_1


.


.


Pagi itu, Yudha yang baru saja mendapat telepon dari Tuan Yashimoto langsung bergegas menemui Aurora di kantor perusahaan GL setelah menelfon asisten Aurora.


Pria itu berjalan tergesa menuju lift khusus, menghiraukan beberapa pasang mata yang melihatnya dengan tatapan aneh.


Yudha yang saat itu berpakaian casual serba hitam hanya menganggukkan kepala saat beberapa orang berpapasan dengannya, pria itu semakin melangkah cepat menuju ruang kerja Aurora.


"Queen." Yudha membungkukkan tubuhnya sesaat usai membuka pintu ruang kerja itu.


Aurora menaikkan dua alisnya, kenapa tiba-tiba Yudha memanggilnya Queen.


"Ada apa. Duduklah." ujar Aurora datar.


"Saya ingin ijin pulang. Saya harus ke Osaka hari ini juga nona. Tuan Yashimoto meminta bantuan kita, tapi saya rasa, biar saya saja yang membantu mereka. Anda tidak perlu turun tangan."


Aurora mengerutkan dahinya, jika memang membutuhkan bantuannya, kenapa tidak langsung menghubunginya.


"Ada masalah apa." tanya Aurora


Aurora tersenyum miring, "Apa kamu mencoba menjadi penghianat hem."


"Tidak. Bukan seperti itu." Yudha jelas gelagapan ketika Aurora menyudutkannya.


"Lalu apa alasanmu membantu mereka. Aku bukan orang yang mudah bermurah hati. Kau masih ingat betul dengan kekacauan yang telah kalian lakukan pada kami bukan? itu balasan untuk orang yang licik seperti kalian."


Yudha tentu saja semakin tersudut. Ia tidak punya kekuatan apa apa saat ini. Posisinya jadi serba salah. Jika bukan karena Brian, dia juga tidak mungkin bisa bernafas dengan baik saat ini.


"Aku izinkan kamu pergi dan segeralah kembali jika urusanmu telah selesai. Selly yang akan menemanimu kesana dan Mira yang akan menyiapkan segala sesuatunya. Berangkatlah menggunakan pesawat DQ, dan bawa seperlunya anggota DQ. Maaf, aku tidak bisa mengijinkan anggota GL membantumu. Aku harap kamu tak membawa masalah untukku dan organisasiku ke depannya. Jangan ikut campur jika itu bukan urusanmu. Kau paham bukan?"


Yudha tersenyum lebar. Ia tak mempermasalahkan jika anggota GL tak turun tangan membantunya, yang terpenting ia bisa kembali dan membantu pamannya, baginya diijinkan saja sudah lebih dari cukup, apalagi ia difasilitasi dengan membawa pasukan dan senjata. Ini merupakan sebuah keberuntungan yang luar biasa.


"Tidak masalah. Terima kasih Queen. Saya akan segera menyiapkan keperluan kesana."


Aurora menganggukkan kepalanya. Kemudian memberikan gestur agar Yudha segera keluar dari ruang kerjanya.


Yudha bangkit dari duduknya dengan wajah berseri. Setelah memberi hormat, pria itu segera membuka pintu ruang kerja Aurora.


Baru akan menarik handle pintu, betapa terkejutnya, ketika Edward ikut mendorong pintu itu ke dalam.

__ADS_1


"Oh maaf." ujar Yudha pada Edward.


Edward hanya memasang wajah datar dan sedikit menganggukkan kepalanya.


"Jangan lupa pamit pada Brian, Yudha." ucap Aurora menginterupsi.


Yudha menggangguk dan segera berlalu pergi. Ia harus bergegas sekarang juga.


Sedangkan Edward memicingkan matanya menatap Aurora. Wanita itu sedikit mengabaikan Edward karena sedang menghubungi David dan Mira untuk segera mengurus keperluan Yudha.


"Oke terima kasih." ujar Aurora sebelum mengakhiri panggilannya.


Aurora mendekati Edward yang duduk disofa dengan bertumpang dagu menatapnya. Wanita itu mengulurkan berkas pada suaminya.


Edward hanya melirik berkas itu, dan tak berminat mengambil dari tangan Aurora.


"Apa yang kau rencanakan. Kenapa menggunakan organisasimu untuk membantu mereka." tanya Edward terdengar datar.


"Tidak ada. Aku hanya membantu Yudha untuk mengakhiri perselisihan ini. Lagi pula jika menggunakan GL, apa kau juga akan mengijinkannya sayang?"


"Kau bukan membantu Yudha, tapi kau membantu para Yakusa itu Aurora. Kau menggagalkan rencanaku Aurora." desis Edward mengutarakan ketidaksetujuannya.


Aurora terdiam, pikiran buruk menguasai otaknya. Jangan jangan yang akan menghancurkan Yakusa itu suaminya sendiri. Bagaimana bisa ia mengumpankan anggotanya untuk hal yang sia-sia.


"Jangan berpikiran buruk. Aku bukan seorang penghianat. Anggota GL tidak melakukan kejahatan seperti dalam pikiranmu itu. Bagaimana pun, perjanjian tetaplah perjanjian. Dan aku bukan orang yang mudah mengingkari janji." ucap Edward cepat.


"Eh."


Aurora mengedipkan matanya tak mengerti. Jadi yang dibilang menghancurkan rencananya bagian yang mana.


"Lalu apa maksud semua ini? Apa ada yang tidak aku ketahui?" tanya Aurora.


"Sebaiknya kamu memang tidak mengetahui dan jadilah wanita polos saja. Itu lebih baik daripada kau menghancurkan semua rencanaku sayang."


Uh Sialan, lagian rencana mana yang sudah aku hancurkan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2