
Di dalam rumah itu ternyata sudah
ada seorang wanita, rumah yang menjadi tujuan utama Ajeng. Seorang wanita
sedang menangis di sana. Setelah semuanya sudah masuk ke dalam rumah, papa Adi segera menutup pintu itu agar perdebatan mereka tidak menjadi konsumsi publik.
‘Apa yang kalian lakukan di sini?”
tanya papa Adi tentunya pada Dika dan Ajeng. Itu pasti rumah wanita itu.
“Seharusnya Dika yang tanya, kenapa
papa terus saja mengurusi mereka? Apa memang benar papa sudah tidak mencintai
mama lagi?”
“Kamu tidak tahu apa-apa, jadi
jangan ikut campur!”
“Dika sudah besar pa, Dika sudah sangat
dewasa. Dika bisa bedain mana yang benar dan mana yang salah!”
Melihat Rita memeluk wanita itu
membuat Ajeng bertanya-tanya. Kenapa Rita memeluknya dengan air mata? Apa
hubungan mereka? Lalu kenapa Dika marah pada Rita? Semua pertanyaan-pertanyaan
Ajeng itu berputar-putar di kepala.
“Kamu sudah salah paham!” ucap papa
Adi dengan nada tingginya.
“Salah Faham apa? Dika sudah lihat
sendiri! Papa melindungi wanita jalang ini?”
Plakkkk
Sebuah tamparan tepat mendarat di
pipi Dika, membuat Ajeng terpekik. Ia tidak menyangka papa akan berbuat kasar
pada Dika.
“Jaga ucapan mu!” ucap papa Adi
dengan penuh amarah. Ajeng pun ikut terkejut melihat papa Adi semarah itu, selama ia kenal dengan papa Adi, papa Adi adalah orang yang paling sabar.
“hentikan semua ini!” wanita yang
sedari tadi hanya menangis di dalam pelukan Rita segera berdiri setelah melihat
hubungan antara papa dan anak itu semakin beruk saja.
“Anda jangan ikut campur!” teriak
Dika tidak terima sambil memegangi pipinya yang memerah karena tamparan papa
Adi.
“saya akan ikut campur karena masalah
ini akarnya dari saya! Mas Adi tidak salah sama sekali, dia hanya menolong kami, kami tidak ada hubungan khusus tidak seperti yang kalian tuduhkan!”
“Ma!” Rita berusaha mencegahnya,
tapi wanita yang itu menggelengkan kepalanya pada Rita.
Jadi wanita itu mama nya Rita? Apa wanita itu yang bernama Siska? Ajeng hanya terus menjadi penonton, ia tidak mau terlalu banyak masuk ke dalam masalah itu karena memang tujuannya datang ke tempat itu adalah mencari kebenarannya bukan menghakimi
papa Adi dan wanita itu.
“Biarkan saya saja yang menjelaskan
pada mereka!” papa Adi juga tidak menyetujui wanita itu.
“Tidak mas, aku nggak mungkin
biarkan semua ini berlarut-larut. Kasihan mbak Renna, dia pasti sangat terluka
dengan semua ini!” mendengar ucapan wanita itu Dika hanya memiringkan bibirnya
tak percaya. Ia benar-benar tidak percaya dengan mulut manis wanita itu.
“Kenalkan nama saya Siska dan ini
putri saya satu-satunya Rita. Semua ini berawal dari setengah tahun yang lalu, papa Rita
adalah seorang anggota dewan, ia punya banyak musuh yang berusaha
menjatuhkannya. Hingga akhirnya ia benar-benar mendapatkan lawan yang tangguh
__ADS_1
dan menjatuhkan ayah Rita dengan cara kotor. Karena keterpurukan itu suami saya
semakin hari semakin sakit dan masuk rumah sakit.
Awalnya kami masih bisa bertahan
hidup dengan uang seadanya, tapi karena perawatan suamiku membutuhkan biaya
yang sangat banyak hingga kami harus mulai menjual satu persatu aset yang kami
miliki. Hingga saat-saat terakhir rumah kami juga harus terjual.
Di saat yang bersamaan, mas Adi
datang menawarkan bantuan pada kami, entah ada hubungan apa dulu suamiku dengan
mas Adi hingga membuat mas Adi begitu baik membantu kami.
Mas Adi membelikan rumah untuk kami,
kami tidak lagi khawatir harus tinggal di mana. Hingga saat yang paling membuat
kami terpukul adalah ketika suami saya akan menghembuskan nafas terakhirnya.
Saat itu mbak Renna melihat kami di rumah sakit, saya sangat merasa bersalah
karena saat itu. Bukan salah mas Adi jika tidak mengejar mbak Renna, sebenarnya
saat itu suamiku ingin sekali bicara pada mas Adi.
Kami benar-benar tidak memiliki
hubungan khusus, percayalah ….!”
Mendengarkan penjelasan wanita itu
kemarahan Dika sedikit berkurang, tapi ia tidak bisa percaya begitu saja.
“Jika itu benar, lalu kenapa papa
tidak berusaha menjelaskannya pada mama?”
“Sudah berkali-kali, bahkan setiap
hari. Tapi mama kalian memilih menutup hatinya. Seandainya dia tahu siapa suami
Siska, mama kalian pasti akan terluka!”
“Siapa ayah Rita?” tanya Dika
“Dito …, kakak angkat mama kalian,
mereka sudah terpisah sangat lama. jika papa mengatakan kalau kakaknya sudah
meninggal, mama kalian pasti akan sangat sedih!”
Flaskback on
Siang itu ketika sedang bekerja
tiba-tiba ponsel papa Adi berbunyi itu telpon dari Siska. Mendengarkan berita
dari siska, papa Adi bergegas menuju ke rumah sakit. Tepat di depan rumah sakit
Siska segera menyambut papa Adi dan berhambur memeluknya dengan berurai air
mata.
“Ada apa?”
“Mas Dito mas …!”
“Kenapa dengan Dito?”
“Kata dokter, keadaannya sangat
buruk, ia minta bertemu dengan mas Adi!”
Ternyata mereka di awasi oleh
seseorang dan seseorang itu adalah mama Renna, mama Renna yang terbakar cemburu
segera menghampiri papa Adi dan mama Siska.
“Pa …., apa yang kalian lakukan di
sini?” ucap mama Renna tak percaya, papa Adi pun segera melepaskan pelukan
mama Siska.
“Ma …, ini tidak seperti yang mama
lihat, papa bisa jelaskan!”
Tapi sepertinya mama Renna terlalu
__ADS_1
terluka, ia bahkan hanya bisa mengeluarkan air matanya tanpa bisa berkata apa-apa lagi, mama Renna segera berlari
meninggalkan mereka. Tapi saat papa Adi hendak mengejarnya, seorang dokter
lebih dulu menghampiri mereka dan mengatakan jika keadaan pap Dito kritis.
Papa Adi pun mengurungkan niatnya
untuk mengejar mama Renna, ia berfikir bisa menjelaskannya nanti saat di
rumah. Begitu sampai di ruangan papa Dito, papa Adi segera mendekat dengan
suara lemahnya papa Dito menyerahkan sebuah surat pada papa Adi.
“Di …, ji ka nan ti …, aku sudah ti
dak ad da , to long serahkan ini pada Ren na dan katakan per min ta an maafku I
ni …!” Setelah mengatakan hal itu papa Dito menghembuskan nafas terakhirnya.
Setelah acara pemakaman papa Dito
barulah papa pulang ke rumah, ia ingin menjelaskan semuanya pada mama Renna,
tapi mama Renna memilih bungkam dan meminta papa Adi untuk pergi. Walaupun berat,
papa adi pun memilih untuk pergi selama hati mama Renna masih panas.
Keinginan untuk menjelaskan selalu
sja gagal karena mama Renna selalu sja menolak untuk menemui pap Adi, bahkan
papa Adi sampai memesan makan malam romantis, mengirimkan Bungan setiap hari
dengan kata-kata romantis, tapi mam Renna tetap[ keras kepala dan tidak mau
memaafkan papa Adi.
Flaskback of
“Ajeng percaya sama papa!” ucapan
ajeng seketika mendapat respon dari Dika, Dika yang belum percaya sepenuhnya
segera menoleh pada Ajeng, ia sampai lupa dengan keberadaan Ajeng.
“Dik …, kita nggak boleh hakimi papa
kayak gini, cukup mama yang terluka dan kita harus memperbaiki semaunya. Kita
sebagai anak-anak harus membantu mereka, bukan malah memprkeruh suasana!”
“Jadi menurutmu, aku memperkeruh
suasana?” tanya Dika tidak percaya dengan omongan Ajeng yang terkesan
menyalahkannya.
“Iya …, kamu terlalu keras Dik, Rita tidak ada urusannya dengan hal ini,
tapi kau juga mulai membencinya, bukankah itu salah. Urusan orang tua biarlah
menjadi urusan orang tua, kita sebagai anak hanya bisa membantu saja!”
Setelah mendengarkan penjelasan
Ajeng, Dika barulah mengerti dengan kesalahannya. Sekarang Ajeng juga jadi
mengerti kenapa Rita membencinya. Ternyata semuanya ada hubungannya.
Rita kemudian minta maaf pada Ajeng
atas kesalahannya di tempat reoni itu. Ajeng memakluminya karena sikap Dika
yang berlebihan membenci Rita membuat Rita melampiaskannya pada Ajeng. Di saat
hubungan mereka sudah mulai dekat, dan Dika malah membencinya.
"Maafin aku ya Jeng, nggak seharusnya aku melakukan hal itu, aku saat itu cuma takut kamu membenciku sama seperti Dika!"
"Aku tidak akan pernah membencimu Rit, kita sahabat!"
"Terimakasih banyak!" mereka pun saling berpelukan meluapkan emosinya masing-masing, Dika hanya bisa diam menyaksikan dua sahabatnya itu. Setelah sekian lama ia bisa melihat Rita dan Ajeng kembali bersama.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘❤️❤️