Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Selanjutnya


__ADS_3

Diperusahaan Edward,


"Bos,.." sapa Alex berdiri didepan pintu ruang kerja Edward yang dibelakangnya ada Lukas.


Edward menoleh dan berjalan menuju sofa, "Duduklah..!" perintahnya mempersilahkan dua orang itu duduk didepannya. Dua orang itu mengangguk dan siap mendengar perintah darinya.


"Lukas, kau hubungi pihak media, kita akan mengadakan konferensi pers hari ini juga. Siapkan ruangannya. Pastikan semua pihak media hadir tak terkecuali."


"Baik Tuan."


Lukas segera meraih ponselnya dan menghubungi sekretaris yang membantunya selama ini. Tugas Lukas diperusahaan itu sudah cukup berat, mulai dari menjadi asisten pribadi yang merangkap menjadi sekretaris Edward dikantor, hingga membantu mengurus markas walaupun sudah ada Alex disana, jadi dia minta untuk diberikan sekretaris pada Edward.


"Lukas, panggil juga pengacara perusahaan, Aku mau dia yang menjelaskan saat di konferensi pers. Satu lagi, hubungi insperktur Indra, panggil dia kemari, jika tidak mau seret saja Pria tua itu.!" perintah Edward tak mau dibantah.


"Baik Tuan." ucap Lukas.


Jika Lukas sedang sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi awak media , pengacara dan insperktur Indra, si Alex malah senyum senyum menatap ponselnya, seakan ia tak mendengar yang diucapkan Edward sebagai bosnya. Edward hanya memicingkan matanya sekilas. Tidak mau menegur apalagi memarahinya.


"Tuan, pihak media akan siap 1 jam dari sekarang, pengacara perusahaan juga sedang dalam perjalanan. Sedangkan insperktur Indra tidak bisa hadir, akan digantikan bawahannya." ucap Lukas memberi tahu.


"Ck..Pria tua itu selalu tidak ada saat dibutuhkan. Aku tidak mau bawahannya. Panggil saja Jendral nya.!" ucap Edward marah.


"Hah..maksud anda paman nona Aurora..!?" Lukas memperjelas ucapan Edward


"Siapa lagi kalau bukan dia..!" ketus Edward


"Tapi,.."


"Lukas kau membantah ucapanku..!! Aku tidak mau tau. Kau urus masalah itu..!" ucap Edward dengan seringainya. Matanya menatap tajam Lukas didepannya.


Gluk


Lukas melirik Alex yang diam saja, ia tak peduli dengan temannya. Percuma saja dia minta bantuan darinya. Ia mendengus kesal.


"Baiklah, saya akan keluar sebentar, saya akan kembali bersama Tuan Haidar. Semua persiapan akan dihandle oleh asisten saya." putusnya, yang sekali lagi melirik Alex.

__ADS_1


"Hemm. Pergilah..!" ucap Edward sembari mengibaskan tangannya memberi tanda.


Lukas keluar dari ruang kerja Edward, batinnya menggerutu mendapat tugas untuk memanggil paman Aurora. Orang yang menurutnya harus dihindari dari hidupnya. Orang yang mempunyai tingkat kedisiplinan tinggi, tidak mau mengalah dalam hal berdebat dan perfeksionis. Apa apa harus seperti dalam angannya, setiap pekerjaan yang dilakukan harus membuahkan hasil terbaik dan sama sekali tak bercela. Ini yang menurut Lukas benar benar menguras emosinya. Orang yang keras tidak mudah ditakhlukkan. Bahkan sekeras kerasnya Edward, masih bisa ia kendalikan.


"Aih, sial sekali aku, tidakkah dia tau perangai orang itu. Lalu bagaimana caraku menghubunginya, " batin Lukas menggerutu. Sambil berjalan, sambil menggaruk keningnya. Frustasi itu yang sedang ia rasakan.


"Bos, saya sudah tau dalang dari semua kekacauan hari ini.!" ucap Alex menegakkan punggungnya.


Edward melirik, memicingkan matanya.


"Yudha asisten Tuan Kim. Dia yang menjadi dalang dan memprovokasi perusahaan kecil yang selalu kalah saing dengan perusahaan anda. Tapi kita belum punya bukti untuk itu. Apa yang harus kita lakukan.! Tuan Beni menunggu konfirmasi anda."


"Benarkah, Beni sudah memasukkan anak buahnya.!?"


"Ya, mereka ada di semua perusahaan cabang atau utama bahkan sampai ke dalam istananya.."


Edward tersenyum miring.


"Lalu diapakan orang orang itu?Dibunuh?" Dahi Edward mengerut.


"Tidak , mereka disekap di markas Black Cobra."


"Bilang padanya , aku akan mengirimkan kamera lebah mini padanya, awasi saja pergerakan mereka. Pusat markas kita yang akan mengontrol dan mengawasi. Hati hati dalam penyamarannya, mereka tidak butuh informasi siapa yang mengutusnya. Baginya penyusup adalah musuh dibalik selimut, mereka tidak segan segan langsung memenggal kepala ditempat jika sampai ketahuan." ucap Edward mengingatkan


"Baik , segera saya informasikan perintah anda.!"


###


Disisi lain,


Aurora yang sedang berjibaku dengan pekerjaannya, harus menghentikan pekerjaannya saat Papanya masuk dalam ruang kerjanya.


Senyum hangat terpancar dari keduanya. Lama tidak bertemu karena pekerjaan membuatnya rindu. Anak perempuannya kini sudah dimiliki suaminya.


"Papa..!" seru Aurora yang langsung menghambur kepelukan Tuan Hardy.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu nak. Kenapa tidak mengunjungi Papa dan mama? Mamamu rindu padamu." Tuan Hardy mengusap rambut Aurora.


"Aurora baik, bagaimana denganmu Papa? apa masih sering sakit sakitan. Jangan terlalu banyak minum kopi."


"Kamu masih saja memikirkan kesehatan Papa, emm sebenarnya Papa kemari karena ada yang ingin papa bicarakan.." ucap Tuan Hardy menggantung.


"Baiklah kita duduk disana.!"


Aurora merangkul lengan Tuan Hardy dengan kepalanya ia senderkan kebahu Papanya. Sosok yang sangat ia kagumi dan sayangi sepenuh hati. Cinta pertama bagi seorang anak perempuan. Terlepas dari dosa masa lalunya yang menurutnya semua orang memiliki masa lalu yang kelam.


"Apa yang ingin papa bicarakan? Apa ini penting?" tanya Aurora yang sudah siap mendengarkan.


"Papa dan mama akan ke London dalam waktu lama, tinggallah dirumah kita. Ajak suami dan anakmu. Sayang sekali jika rumah itu ditinggalkan begitu saja." ucap pelan Tuan Hardy sambil mengelus rambut Aurora


"Papa tau, kamu sudah bersuami. Kamu sekarang miliknya, tapi bisakah kalian pertimbangkan? Papa juga tau uang kalian juga sangat banyak, bisa membeli apapun itu termasuk mansion Papa, tapi rumah itu sangat berharga bagi kami. Rumah itu simbol kejayaan Papa. Kelak mansion itu juga akan menjadi milikmu termasuk perusahaan ini." lanjutnya sambil melihat interior ruang kerja anaknya yang tak banyak berubah.


"Papa, apa ada masalah disana? kenapa harus Papa, bukankah disana sudah ada asisten Papa, om Doni.? Bagaimana dengan butik mama disini?" tanya Aurora tak rela ditinggal jauh orang tuanya.


Tuan Hardy tersenyum dan menatap lembut Aurora. Baginya Aurora masih seperti putri kecilnya yang lucu.


"Istrinya om Doni sakit keras, dia mengambil cuti panjang, ia mau fokus merawat istrinya. Bisakah Papa egois padanya? Bagaimana jika itu mamamu? Papa akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi." Tuan Hardy menjabarkan .


"Kasihan sekali... Baiklah, Aurora akan coba bicara sama suami Aurora.


"Anak baik.."


"Tapi bisakah Aurora minta tolong..!" Aurora mengedipkan matanya. Tuan Hardy yang gemas langsung mencubit pipi Aurora.


"Apa itu, Papa akan usahakan selama itu mampu."


"Tolong hubungi paman Haidar untuk membantu kasus suami Aurora, bisakah Papa membujuknya?"


Tuan Hardy mengerutkan keningnya, berpikir sejenak, "Kenapa suamimu tidak langsung minta bantuannya saja? Kenapa harus melalui Papa? Sepertinya itu tidak etis. Apalagi kau tau benar watak pamanmu itu. Dia sangat ingin dihormati. Kalau butuh bantuan kenapa harus pakai perantara?"


"Ayolah Papa, Paman dan Kak Edward itu sama sama keras kepala dan gengsi an. Mereka itu tidak akur, Papa tau sendiri bagaimana sikap paman Haidar pada suami Aurora. Apa Papa tega sama suami Aurora hemm.."

__ADS_1


"Apa iya, orang besar seperti suamimu bisa takut sama Haidar, Papa tidak percaya..!" tolak Tuan Hardy, dalam pikirannya ia akan mengajukan penawaran pada menantunya itu. Ia tersenyum licik.


###


__ADS_2